Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Selamat.


__ADS_3

Mai pun ikut duduk di samping Dimas.


Ikut menangis dalam hening nya malam.


Isak tangis mereka mengundang panitia yang berjaga untuk mendekat.


"Sabar yah, aku jadi gak kuat melihat kalian" ujar kak uca yang sedang berjaga.


Kak uca pun menangis bahkan lebih histeris dari pada mereka berdua.


Dimas dan Mai saling pandang heran ke arah kak uca yang histeris.


Sekarang justru mereka yang menenangkan kak uca.


Maharani dari luar tenda melihat mereka. Ia duduk meringkuk di tanah. Lutut nya ia tengkuk. Menangis dalam diam.


Menjelang subuh semua berkemas untuk pulang.


"Akhir nya kita pulang juga, serem lama lama di sini, bisa mati kedinginan" seru anak anak dari kelas lain.


Mereka mengangguk.


......🌺🌺🌺......


Putra bergegas ke rumah sakit tempat Lidya di rawat. Ia berlari sekencang-kencangnya.


Ia sangat khawatir.


Papa dan Tante Mona pun segera menyusul. Keluarga Adit juga datang.


Sesampai nya di lokasi putra segera mencari ruangan Lidya.


Nafas nya Terengah-engah sesampai nya di sana.


Langkah nya gontai. Kaki nya serasa berat.


Putra duduk di sebelah ku.


"Lidya...." ujar nya lirih. Tapi aku masih belum sadarkan diri.


Putra lalu berbalik menuju ranjang sebelah ke 3 dari tempat ku, melihat Adit. Keluarga nya histeris. Mama nya tidak berhenti menangis.


Melihat ku baik baik saja putra lalu ke sebelah untuk melihat keadaan Adit, ia juga dapat kabar Adit juga terkena hipotermia.


Segala upaya sudah dilakukan.


"Astagfirullah" pekik putra saat Adit sedang di ambang kematian.


Dokter menyiapkan CPR atau alat pacu jantung untuk Adit sebagai langkah terakhir.


"Jangan tinggalkan ibu nak" seru ibu nya Adit.


Tubuh Adit berguncang akibat dari alat pacu jantung itu.


Suasana kian menegang.


Tapi Alhamdulillah Adit selamat. Nafas nya yang di anggap hilang, kembali stabil.


Sebuah keajaiban.


Ibu nya adit terduduk lega.


Putra kembali ke tempat ku.

__ADS_1


Duduk di samping ku.


"Huf, sungguh melegakan teman mu itu selamat Lidya, kamu cepat sadar yah, Jan lama lama bobo nya" seru putra ke diri ku yang masih belum sadar juga.


Papa dan Tante Mona pun datang ke kota itu melihat keadaan ku.


Sekarang aku berada di rumah sakit di kota xxx. Rumah sakit terdekat dari puncak.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya papa ke putra.


"Ia baik baik ajja sekarang, tinggal tunggu dia sadar" seru putra.


"Oh syukur lah" jawab papa.


Papa tidak bisa lama, ia harus pulang karena ada rapat penting di perusahaan nya.


Jadi papa dan Tante Mona pulang duluan. Sementara yang menjaga ku hanya putra.


Menjelang siang.


Aku mengerjapkan mata ku.


Wajah pertama yang ku lihat adalah putra.


Ku dapati putra tidur di samping ku, badan nya duduk di kursi, sementara kepala ku menunduk tidur di ranjang rumah sakit tempat ku dirawat.


Aku kenapa? ini di mana? batin ku.


Putra terlihat sangat lelah jadi aku tidak membangunkan nya.


Ku dengar langkah kaki berjalan cepat ke arah kami.


"Lidya..." seru nya.


"Dimas? aku kenapa? ini di mana?" tanya ku bingung.


"Kamu terkena hipotermia saat camping, dan di bawa ke rumah sakit" jawab Dimas.


"Oh jadi ini di rumah sakit?" ujar ku lirih. Suara ku masih lemah.


Bola mata ku berputar melihat sekeliling.


Mendengar suara orang putra pun terbangun.


"Lidya, kamu sudah sadar?" ujar putra senang.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


Putra menatap Dimas yang berdiri di sebelah ranjang.


"Bagaimana kabar teman kamu yang satu nya itu? apa kau sudah melihat nya?" tanya putra ke Dimas.


"Eh iya, barusan aku dari sana, Alhamdulillah ia selamat dan keadaan nya sudah mendingan" jawab Dimas.


"Oh syukur lah" seru putra.


"Teman siapa maksud nya ini?" tanya ku.


"Adit kena hipotermia juga lid, keadaan nya kritis saat kami tersesat di hutan" jelas Dimas.


"Tersesat? kalian tersesat?" tanya ku.


Dimas mengangguk.

__ADS_1


"Astaga, sudah ku peringatkan, tapi kalian baik baik saja kan?" tanya ku.


"Iya Alhamdulillah, maaf kami baru bisa jenguk, kami di larang keras ikut. Hanya guru saja di perkenankan saat itu" jawab Dimas. Dimas sekarang duduk santai di kursi sebelah ranjang ku.


Aku berusaha untuk bisa duduk.


"Kamu baring ajja, gpp kok" seru Dimas.


"Mai mana?" tanya ku.


"Dia di tempat Adit, dia merasa sangat syock karena dia lah yang pertama menemukan Adit dalam keadaan kritis, Mai mengira Adit sudah mati di depan mata nya saat di hutan, jadi dia bersikeras untuk tetap di dekat adit, Mai sampai sempat pingsan saat tau kalian berdua terkena hipotermia" jelas Dimas.


"Aku ingin melihat Adit" seru ku.


Aku berusaha bangkit.


"Kamu masih lemah , jangan" cegah putra.


"Aku ingin lihat dia,sekarang" protes ku.


Karena aku ngotot untuk melihat kondisi Adit ,putra pun menuruti, ia segera meminjam kursi roda, aku bisa saja berjalan tapi karena terlalu lemah lutut ku bergetar saat hendak berjalan, akhir nya aku nurut untuk pakai kursi roda.


Tidak jauh dari tempat ku.


Pembatas Hanya beberapa ranjang dan tirai rumah sakit.


Melihat ku datang Mai langsung memeluk ku.


"Li, kamu sudah bangun" seru nya.


Aku hanya mengangguk sambil mata ku tidak lepas dari adit.


Putra mendorong kursi roda ku untuk melihat Adit lebih dekat.


Ku pegang tangan nya yang dingin.


Seketika aku sedih, entah sejak kapan air mata ku turun.


"Gpp, Adit kuat kok, gak lama lagi dia pasti siuman" seru ku menenangkan diri sendiri dan orang sekitar.


Maharani menatap ku sedih.


Ibu nya Adit tertunduk sedih.


Bola mata ku berputar melihat keadaan rumah sakit kecil di kota ini. Jika di kota besar ini seperti puskesmas saja.


Tapi gak apa, bagaimana pun rumah sakit ini telah menyelamatkan kami.


Anak anak lain sudah balik ke kota kami, dengan bus. Hanya beberapa yang bersikeras tidak mau pulang. Seperti Maisaroh Dimas Maharani dan wali kelas dan beberapa panitia termasuk kak Samsul dan uca.


Karena kejadian itu satu sekolah akhir nya tau Maharani seorang anak indigo, itu lah alasan mengapa ia terlihat aneh dan suka berbicara sendiri.


Setelah bertemu adit aku kembali ke ranjang ku.


Mai terlihat masih kekeh di tempat Adit.


Mungkin sampai Adit sadar.


Mengingat Adit lah yang selalu ada untuk Mai selama ini. Mai tidak bisa kehilangan Adit. Adit sahabat nya sejak masih di bangku Sekolah menengah pertama.


Selama ini Adit lah yang menemani nya.


Dimas juga sahabat nya tapi Dimas bertemu dan berteman dengan mereka sejak kelas 1 SMA.

__ADS_1


__ADS_2