
"Li? kamu kenapa?," tanya mai pada ku.
Dengan lemah aku melihat Mai di samping ku.
"Mai?" seru ku.
"Ah, syukur lah kau sudah sadar?" kata Mai sambil membantu ku bangun.
"Aku di mana?" tanya ku pada Mai.
"Di UKS, tadi kamu pingsan" jawab Mai.
Aku teringat sesuatu. Bukan kah Mai sudah tiada?
Aku pun mundur teratur.
"Kau takut pada ku? jangan takut, aku tidak mengganggu mu kok" seru Mai.
"Apa yang terjadi pada mu Mai? apa benar kau bunuh diri?" aku memberanikan diri untuk bertanya.
Mai tidak menjawab. Ia hanya tersenyum pada ku.
"Mai???" seru ku.
"Iya benar, aku bunuh diri" jawab Mai santai.
"Kenapa Mai?".tanya ku.
"Aku hanya lelah dengan semua ini" jawab nya.
"Maksud nya?" pancing ku.
"Kau pasti sudah tau kan ,aku lah orang yang sering di bulli di sekolah ini" seru nya.
Aku berani kan diri mendekati Mai.
"Mai, kau percaya pada ku kan, sama seperti saat aku percaya pada mu dan berubah seperti ini karena kamu juga" seru ku.
"Jangan sampai mati konyol seperti ku, apa pun yang akan terjadi. Kamu berhak melanjutkan hidup mu sampai tua,sampai jadi nenek nenek, jadi bertahan lah", seru Mai.
"Mai, siapa yang membully mu?" tanya ku.
"Senior, bukan dari kelas ku. Kau pasti mengira orang orang itu dari kelas ku kan" seru nya.
"Teman di kelas baik baik kok Li, jangan takut. Ada saksi sebelum aku mati. Segerombolan kakak kelas membawa ku ke atap sekolah ini. Aku di seret dan mereka melecehkan aku. Mereka membuka baju ku dan membuat video badan ku yang tanpa busana, aku sendirian dan tidak bisa berbuat apa apa, tujuan mereka adalah meng-upload wajah dan tubuh ku yang hasil operasi plastik. Aku hanya bisa menangis" seru Mai sambil mengelap air mata nya.
Aku memeluk Mai sambil ikut menangis.
"Mai, mereka siapa saja, sebut kan nama nya, dan saksi kejadian itu siapa?" tanya ku.
Mai tidak menjawab. Ia malah melanjutkan cerita nya.
__ADS_1
"Aku tidak mati hari itu juga lid, Aku mati Seminggu setelah kejadian itu.
Setiap hari aku di bulli dan di peras oleh mereka. Mereka mengancam akan meng-upload video ku itu ke publik. Aku tentu takut. Setiap hari aku di hantui video itu. Hingga suatu ketika aku sudah tidak sanggup lagi memenuhi permintaan mereka.
Mereka marah dan memukul ku.
Mereka bilang sudah meng-upload video nya, aku yang stress pun naik ke atap sekolah, tanpa pikir panjang aku pun melompat" jelas Mai.
Aku menitikkan air mata.
"Siapa mai?" tanya ku.
"Saksi nya adalah Maharani. Ia melihat kejadian saat aku di bulli, dia juga melihat saat aku di video tanpa busana. Aku melihat nya sembunyi di sudut atap. Tapi ia tidak melakukan apa pun karena takut. Tapi seseorang melihat nya, dia pun di seret seperti ku. Mereka mengancam akan melakukan hal yang sama pada nya jika ia berani melaporkan kejadian itu. Aku melihat Rani sangat ketakutan" seru Mai sambil menerawang.
"Mereka ada berapa orang?" tanya ku lagi.
"Ada 13 orang Mai, nama nama mereka semua ada aku catat di belakang buku tulis biologi ku, Aku tidak sempat menuliskan kronologi cerita nya untuk jadi bukti pembulli an. Hanya nama nama nya saja ku catat, kau bisa meminta buku itu pada Maisaroh jika ia belum membuang nya. Karena sudah 1 tahun berlalu sejak kejadian itu" jawab Mai.
"Apa mereka berhasil meng-upload video itu ke publik?" tanya ku.
"Entah lah Mai, aku mati sebelum tau video itu benar sudah di upload atau tidak" jawab Mai.
"Semoga tidak" ucap ku.
"Maharani anak nya sangat pendiam, bagaimana cara aku bertanya pada nya, dia bahkan tidak tertarik untuk bicara pada siapa pun" jelas ku.
"Ia pasti trauma, menjadi saksi kekejian kakak kelas kami dan menjadi orang pertama yang menemukan jasad ku" jelas Mai.
"Sampai mempengaruhi kinerja otak? haha" tawa Mai.
"Ada hal lain yang terjadi, bukan hanya itu." kata Mai.
"Entah lah" jawab ku.
"Coba tanya sendiri pada Maharani, semoga ia mau bercerita pada mu" ujar Mai.
Mai mulai mundur menjauh, semakin jauh.
"Mau kemana Mai?" teriak ku.
Suasana kembali gelap. Aku mulai merasa ada wangi minyak kayu putih di sekitar hidung ku.
"Li, lili, bangun" ujar maisaroh.
Aku sadar dan mencari sosok Mai.
"Mai, kemana?" tanya ku.
Mereka pun heran saat sadar aku mencari Mai.
"Ada apa Li, Mai siapa maksud mu?" tanya Dimas.
__ADS_1
Adit Dimas dan Maisaroh ternyata sejak tadi menjaga selama aku pingsan.
"Aku kenapa, ini di mana?", tanya ku lagi.
"Di UKS,
tadi kamu pingsan di koridor" jawab Dimas.
Jadi tadi hanya mimpi? tapi kenapa begitu nyata.
"Teman teman maaf merepotkan, aku cuma kram perut akibat datang bulan dan kelelahan, hm, bisa tolong tinggalkan aku bersama Maisaroh saja di sini" ujar ku.
Mereka pun menurut.
"Ada apa li?" tanya Maisaroh saat mereka semua sudah pergi.
"Mai menemui ku, ia menceritakan semua nya pada ku, jika kau percaya, Mai juga memberi tahukan siapa saja pelaku penindasan nya sebelum ia meninggal" seru ku tanpa menunda.
"Apa!!! siapa Li?" tanya Maisaroh antusias.
Ia juga penasaran kenapa saudara kembar nya itu bisa bunuh diri.
"Jawaban nya ada di buku tulis biologi milik nya, coba nanti kamu cari buku itu. Semua nama pelaku ada di sana" jelas ku.
Maisaroh pun mengangguk.
"Baik lah, semua barang Maimunah masih ada di rumah kok, aku menyimpan nya" seru Maisaroh.
"Kita harus menghukum mereka" tegas ku.
"Aku juga harus bertemu dengan Maharani" kata ku lagi.
"Apa hubungan nya dengan dia?" tanya Maisaroh kebingungan.
"Dia adalah kunci dari kasus ini, dia saksi kejadian yang menimpa Maimunah" tegas ku.
Maisaroh terkejut.
"Bangsat, kenapa dia diam saja selama ini!!!", pekik Maisaroh.
"Tunggu , sabar, kita harus tanya dengan jelas dulu pada nya" kata ku untuk menenangkan Maisaroh.
"Kau tau sendiri dia orang nya bagaimana, tembok, susah di ajak bicara" ujar Maisaroh kesal.
"Jika ada waktu nanti aku yang bicara pada nya, semoga ia bisa memberi informasi yang valid dan jujur, aku tau dia pasti takut. Kita harus melindungi nya" seru ku.
Bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Ramai siswa siswi mulai menyimpan buku buku nya ke dalam tas.
Aku turun dari tempat tidur UKS dan hendak mengambil tas ku yang ada di kelas. Ternyata sudah ada Adit di depan pintu UKS membawakan tas ku.
"Terima kasih" ujar ku.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu? sudah mendingan?" tanya nya.