Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 66.


__ADS_3

Follow Instagram author yah @jen_nie72.


Salam kenal pembaca setia ku. Maaf masih banyak kekurangan, termasuk up nya. Hehe


Lanjut.


Sesampai nya di rumah sakit.


Kami menemani Dinda bertemu ibu nya.


Ibu nya terbaring lemah di rumah sakit itu. Ibu nya mengalami kanker otak stadium lanjut.


Dinda menangis dan memeluk ibu nya.


"Bertahan ya Bu" ujar nya sambil terisak


Aku segera menemui pihak rumah sakit dan membicarakan penyakit dan solusi untuk ibu nya Dinda.


"Pasien harus pindah ke rumah sakit besar untuk operasi" jelas dokter.


Dokter memberi tahu Dinda.


Dinda segera menyetujui nya. Apa pun saran terbaik ia terima.


"Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk operasi ibu ku di rumah sakit besar nanti" ujar Dinda.


"Tenang saja, ada aku" jawab ku.


"Memang nya kamu sudah tau nominal nya?", tanya Dinda.


"Sudah, tadi kami bahas sama dokter perkiraan biaya nya" jawab ku santai.


Dinda geleng geleng kepala.


"Kamu pasti anak sultan" kata nya.


"Eh tunggu tunggu, setau ku, putra gak punya adik, dan bukan dari orang kaya ? masa iya kakak adik beda kasta?" jelas Dinda bingung.


Putra lalu menjelaskan ke Dinda perihal kami saudara tiri.


Setelah mengurus semua nya aku dan putra pamit pulang ke Dinda.


Dinda menangis haru.


"Terima kasih banyak yah, padahal kamu tidak mengenal ku, aku bahkan sempat memfitnah putra tapi kamu mau membantu ku" seru Dinda.


"Sudah, jangan sedih sedih, gpp kok" jawab ku.


Aku menoleh ke arah putra sambil tersenyum ringan.


"Ayo pulang" seru ku.


Putra mengangguk.


Aku dan putra pun menuju parkiran.


Aku naik ke mobil.


"Terima kasih yah" kata putra saat kami tengah di dalam mobil.


"Karena apa?" tanya ku.


"Karena sudah mau membantu dinda" jawab nya.


"Oh sesama manusia kan kita harus tolong menolong" jawab ku.


"Biaya nya besar banget loh tadi, bisa naik haji" canda putra.


"Haha, kamu mau naik haji?" tanya ku.


Putra mengangguk cepat.


"Rejeki nya Dinda. Dia kan lebih membutuhkan. Nanti ajja kalo udah lulus sekolah kita naik haji yah" canda ku juga.


"Serius?!" pekik putra.

__ADS_1


"Selow ajja kali. Canda. Kamu ajja deh naik haji nya, aku masih banyak kekurangan, boro boro naik haji, sholat ajja gak pernah, ngaji gak tau" jelas ku.


Putra terdiam sesaat. Ingin sekali ia membimbing ku tapi ia takut aku tersinggung.


Seketika hening di antara kami.


"Kamu lapar?" tanya putra memecah keheningan.


"Hmm, lumayan" jawab ku.


"Kita singgah cari makan dulu yuk" ajak nya.


"Boleh" jawab Ku.


"Mau makan apa?" tanya nya.


"Sembarang", jawab ku.


"Gak ada makanan yang judul nya sembarang neng" jawab nya.


"Hemm. Aku ikut kamu ajja" jawab ku.


"Ok lah" seru nya sambil menambah kecepatan.


Hari sudah mulai petang.


"Astagfirullah!!!", pekik putra.


"Ada apa???" tanya ku panik.


"Aku lupa sholat ashar" jawab nya.


Sudah jam 4.30. Putra segera pergi ke masjid terdekat. Aku menunggu nya di mobil.


Banyak chat masuk di handphone ku.


Dari orang asing.


Akun fake.


Tidak sengaja aku melihat nya.


Sejak kapan aku orang asing ini jadi follower ku? perasaan akun mu privat.


Aku terkejut ku lirik sekitar ku.


Siapa orang ini?


Aku tidak membalas nya.


@Devil: Temui aku besok di hotel x, atau aku akan bongkar semua nya.


Aku semakin panik.


Beberapa menit kemudian putra membuka pintu mobil, membuat ku terkejut bukan main. Ponsel ku sampai jatuh.


Putra menatap ku bingung.


"Kenapa???" tanya nya.


"Ti, tidak ada apa apa, aku cuma terkejut kamu tiba tiba masuk" jawab ku.


Putra menyalakan kembali mesin mobil dan melaju entah kemana.


Putra parkir di sebuah rumah makan biasa.


Aku pun segera turun mengikuti putra.


"Maaf yah aku gak biasa makan di tempat mewah dan mahal" seru putra seolah aku akan protes sama selera nya.


"Gpp sih sekali sekali, tapi jangan keseringan, gak sehat" jawab ku.


Aku memesan nasi ayam penyet dan es teh.


Putra pun sama.

__ADS_1


"Pasti ada sesuatu yang terjadi, kau tidak bisa membohongi ku" seru putra.


"Sesuatu apa?" tanya ku.


"Ada apa tadi?" tanya putra.


Aku memang tidak bisa berbohong pada nya.


"Ada yang mencoba meneror ku lewat sosial media, dia memakai akun fake" jawab ku.


"Teror? coba lihat?" tanya putra.


Aku menyerahkan handphone ku.


"Blokir saja" seru putra sembari menekan tombol blokir di akun itu.


"Jangan!!!" pekik ku.


"Kenapa?!" tanya putra bingung.


"Aku takut orang itu benar benar menyebarkan aib ku" jawab ku.


"Tenang lah, aku gak janji semua akan baik baik saja tapi aku pastikan aku akan melindungi mu" jawab putra.


"Kenapa kau baik pada ku? bukan kah dulu kau sangat benci pada ku? apa karena sekarang aku cantik, tidak seperti dulu" tanya ku penasaran.


"Berhenti lah meracuni pikiran mu sendiri dengan dugaan dan prasangka buruk ke orang" jawab nya.


"Lalu kenapa?" tanya nya.


"Ketika aku kasar pada mu, aku juga selalu menyuruh mu bercermin itu semua karena aku peduli pada mu, aku tidak benar benar membenci mu" jawab putra.


Baru saja aku ingin menyangkal pelayan membawakan makanan pesanan kami.


Selesai makan kami segera pulang ke rumah.


Aku terkejut melihat Tante Mona menangis kesakitan.


Putra pun terkejut.


"Ma, ada apa?" tanya putra khawatir.


"Gak ada apa apa kok, mama jatuh tadi" jawab Tante Mona.


Putra segera mengambil kotak obat di dalam.


"Itu pasti bohong kan, itu pasti ulah papa" seru ku.


Tante Mona menatap ku serius.


Aku tersenyum tipis.


"Semoga kuat, bertahan lah" seru ku sambil melangkah menuju lantai atas kamar ku. Putra berlari membawa kotak obat dan segera mengobati mama nya.


Aku hanya melihat dari atas.


Kasihan sekali Tante Mona. Dia terlalu baik untuk di sakiti.


Aku segera mandi dan berbaring di kamar ku, ku nyalakan AC ruangan, ah segar dan wangi. Kamar sultan.


Selepas magrib putra mengetuk pintu kamar ku.


"Ada apa? masuk saja", teriak ku dari dalam.


Ternyata bi Minah.


"Non, tuan kumat tadi, dia memukul nyonya" seru bi Minah khawatir.


"Penyebab nya apa?", tanya ku bingung.


"Kurang tau non, mereka bertengkar lalu tuan menampar nya, setelah itu gak tau apa yang nyonya katakan tiba tiba saja tuan memukul nyonya sampai jatuh, bukan nya merasa bersalah tuan malah pergi" jawab bi Minah.


Tiba tiba pintu kamar ku di ketuk lagi.


Aku memberi kode ke bi. Minah untuk merahasiakan ini dari putra.

__ADS_1


Memang manusia gak bakal berubah semudah itu. Papa berubah drastis justru membuat ku kaget. Ku pikir jika cinta dia tidak akan menyakiti nya.


__ADS_2