
Aku singgah ke apotek untuk membeli testpack.
Ku letakkan testpack di dalam ransel ku.
Tiba tiba ponsel ku berdering dan yugo berkata ia tidak pulang malam ini. Aku berusaha berpikir positif mungkin saja masalah di perusahaan keluarga nya sedang tidak baik baik saja.
Aku ijin pulang ke rumah ku saja di kota. Sepi sekali jika aku harus pulang ke villa sendirian.
Aku telah sampai di depan rumah. Hari sudah sore. Terlihat putra baru pulang kuliah juga. Wajah nya sangat lelah.
Putra terkejut melihat ku pulang.
"Kamu baik baik saja?" tanya putra khawatir.
Aku mengangguk.
"Malam ini aku menginap" jawab ku.
"Apa ada masalah dengan yugo?" tanya putra.
"Tidak, kami baik baik saja, aku hanya rindu rumah" jawab ku.
Sebenarnya aku sangat khawatir dengan Yugo.
Menjelang malam papa pulang juga kemalaman.
"Loh lidya?" seru papa saat melihat ku.
"Kenapa pah, aku boleh kan nginap di sini?"tanya ku
Papa langsung memeluk ku dengan wajah khawatir.
"Ada apa pah?" tanya ku.
"Iya gpp ,ini kan rumah mu. Kamu bisa pulang kapan saja" jawab papa.
"Lidya , kamu gak tau tentang yugo?" tanya papa.
"Maksud nya? mas yugo hanya bilang tidak pulang malam ini, maka nya aku ijin kesini saja" ucap ku.
"Pabrik teh mereka kebakaran, dan mereka mengalami kerugian besar" seru papa.
"Apa?! apa mas yugo baik baik saja?" pekik ku.
"Tenang lah, dia baik baik saja, mungkin sedang sibuk sekarang menemani papa nya" jawab papa.
"Sekarang mas yugo ada di mana?" tanya ku.
"Memeriksa keadaan bersama papa nya, tadi juga papa sempat kesana saat di kabari pak Eric" jawab papa.
Aku yang khawatir ingin menyusul tapi papa menahan ku.
"Sebaiknya kamu di sini, yugo pasti tambah khawatir jika kamu sampai menyusul nya" cegah papa.
__ADS_1
"Tapi pa, apa aku harus diam saja melihat keadaan nya seperti ini?" tanyaku.
"Maaf, seharusnya papa tidak cerita pada mu, yugo sudah melarang papa untuk menceritakan ini pada mu. Sebelum kebakaran itu perusahaan mereka memang sudah di ambang kehancuran. Mereka mengalami kerugian besar akibat orang orang dalam kepercayaan pak eric berkhianat. Kurang lebih seperti itu" jelas papa.
Lutut ku lemas. Bibi sampai menuntun ku ke kamar. Aku berusaha untuk berdiri dan mandi. Seharian rasa nya gerah sekali.
Setelah itu aku turun untuk makan malam.
Semua terasa tidak enak. Aku diam diam ke kamar mandi dan memuntahkan semua nya.
Aku jadi teringat testpack di dalam ransel ku. Kau segera naik ke lantai atas kamar ku.
Entah lah, aku tidak enak badan sejak di kampus.
Ku bawa 3 testpack terbaik yang aku beli ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar ku.
Aku tidak berani melihat nya. Aku belum siap. Sungguh. Plis jangan garis 2. Batin ku.
Ku celupkan Ke 3 testpack itu ke dalam cawan kecil berisi urin ku.
Perlahan ku buka mata ku untuk melihat hasil nya.
"Oh tidak" seru ku.
Ketiga nya 2 garis merah dan sangat jelas.
Aku menghela nafas berat. Ini bukan saat nya hamil. Yugo sedang tidak baik baik saja, aku pun aktif kuliah.
Aku juga gak mungkin ngasi tau yugo perihal aku hamil di saat ini.
Aku keluar kamar mandi dengan wajah lesu.
Astagfirullah, harus nya aku bahagia sekarang seperti pasangan pada umum nya.
Dengan langkah gontai aku duduk di balkon memandang langit malam ini. Aku sudah tua? tidak usia ku 19 tahun sekarang. Hanya saja aku sudah menikah dan hamil. Huft.
Ku pegang perut ku yang masih rata. Usia nya mungkin masih Minggu an. Masih sangat kecil.
Aku bahkan tidak berani bilang ke papa kalau aku hamil. Entah lah,aku malu. Padahal wajar saja jika aku hamil kan aku sudah menikah.
Bibi masuk ke dalam kamar ku.
"Non , kenapa tidak di habiskan makanan nya? mubazir loh" protes bibi.
"Eh, Maaf bi. Aku sudah kenyang" jawab ku.
"Non baik baik saja? kok pucat?" tanya bibi khawatir.
"Gak kok bi, aku baik baik saja" jawab ku.
Aku bingung hubungi yugo atau tidak. Aku takut mengganggu.
Aku keluar kamar menuju kolam renang. Tempat favorit ku untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Aku tidak menyangka akan hamil di usia seperti ini. Apa aku bisa jadi ibu? aku menatap langit.
Mah, apa aku bisa?
Aku mengelus perut ku lagi.
"Kamu baik baik saja?" tanya putra.
"Iya, putra, aku penasaran dengan siapa pendonor sum sum untuk kamu dulu, apa kamu tau orang nya?" tanya ku.
Putra menggeleng.
"Aku juga tidak tau, aku juga penasaran, ku harap dia baik baik saja, dan aku selalu mendoakan yang terbaik untuk nya, semoga suatu hari aku bertemu dengan nya dan bisa mengucapkan terima kasih secara langsung, dia telah menyelamatkan hidup ku, ah tidak, Allah mengirimkan dia untuk menyelamatkan ku" jawab putra.
"Aamiin, semoga kita bisa bertemu dengan nya" ucap ku.
Malam semakin larut aku pun masuk kembali ke kamar ku.
Ku sembunyikan testpack itu ke dalam sebuah kotak kecil.
Ah lelah nya hari ini.
Keesokan hari nya.
"Lidya!" panggil sumi.
"Iya" jawab ku singkat.
"Bagaimana keadaan mu , udah baik baik saja? udah di cek belom hamil atau gak? udah gak sabar nih liat ponakan haha" tawa sumi.
"Apaan sih sum. Aku bingung" jawab ku.
"Lah kok bingung?" tanya Sumi.
"Aku bingung harus senang atau sedih. Karena, aku .... aku hamil sum" jawab ku lesu.
"Alhamdulillah. Makasih ya Allah telah menitipkan malaikat kecil itu pada teman ku yang agak anu ini hehe" jawab sumi bersemangat.
"Gimana ya sum. Aku kayak belum siap gitu jadi ibu" jawab ku.
"Hust, gak boleh ngomong gitu, banyak loh wanita di luar dana susah punya anak. Harus nya kamu bersyukur, justru masih muda buat banyak banyak. Jadi kalau sudah tua banyak yang jagain" seru sumi menyadarkan ku.
"Gak banyak banyak juga kali" protes ku.
"Hehe. Terserah kamu deh. Inti nya jaga dia baik baik, gak usah pusing pusing deh. Ada ayah nya kok, lu kayak orang hamil di luar nikah ajja pakai khawatir segala, harus nya kamu itu bahagia" sumi terus saja mengoceh.
"Hm iya iyaa Bu negara" jawab ku.
"Yuk masuk kelas. Jangan sampai telat, dosen nya killer loh " ujar sumi tanpa tau dosen itu berada tepat di belakang nya.
"Siapa dosen killer maksud kamu Sumiati?" tanya pak arya.
"Eh ada pak arya. Bukan bapak kok" jawab sumi bohong sambil cengengesan.
__ADS_1