
Dengan gugup aku pun mulai memberikan sambutan.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Hadirin yang saya hormati,
Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih kepada Allah Subhana huwata'ala, Alhamdulillah, kedua saya mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya, terutama papa yang telah merawat dan membesarkan saya hingga saat ini.
Tidak terukir jasa beliau yang tidak pernah saya syukuri, Ketiga saya mengucapkan terima kasih kepada semua guru di sekolah ini, kalian pahlawan bagi saya, ke empat saya mengucapkan terima kepada saudara saya, yang selalu ada untuk saya di situasi sulit, ia tidak bisa hadir di sini, dan terakhir saya mengucapkan terima kasih kepada teman teman saya, teman dekat atau jauh, akrab atau tidak, kalian semua adalah teman saya, kita adalah keluarga selama berada di sekolah ini.
Mari kita saling memaafkan satu sama lain. Tentu nya selama ini pasti ada salah dan khilaf.
Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Pencapaian saya ini tidak lepas dari dukungan dari orang tua, guru dan teman teman sekalian. Terima kasih atas penghargaan nya kepada saya, semoga sekolah ini lebih maju dan sukses.
Hanya itu yang bisa saya sampaikan, lebih kurang nya saya mohon maaf"
Seru ku sembari tersenyum haru menatap hadirin yang menyimak pidato ku dengan khidmat.
Aku menatap Papa yang sangat bangga pada ku, ia mengacungi jempol ke arah ku.
Aku tersenyum bahagia meski ada yang mengganjal di hati ku. Putra. Aku merindukan nya.
Aku pun kembali ke bangku ku di sambut teman teman.
Acara perpisahan di lanjut dengan hiburan, tarian tradisional, makan makan, dan pentas seni lain untuk menghibur peserta perpisahan dan tamu undangan.
Papa mendatangi ku.
"Papa pergi duluan yah, banyak kerjaan" seru papa.
Aku hanya mengangguk.
Tiba tiba Tante Sifa datang masih dengan gaya nyentrik nya, mengudang banyak pasang mata melihat nya. Tapi aku salut pada Maharani yang tidak malu dengan penampilan Tante nya itu.
"Eh ,kamu Lidya kan, teman nya Maharani, keren banget sih bisa juara umum, selamat yah, ini siapa papa kamu, ya ampun ganteng banget, masih muda seperti kakak deh bukan bapak bapak" seru Tante Sifa.
Maharani menyusul Tante nya dari belakang.
"Iya Tante, makasih yah, haha masa sih" Jawab ku.
Tante sifa tanpa malu menyodorkan tangan nya ke papa.
"Saya Sifa, Tante nya Maharani teman nya Lidya" ujar Tante Sifa.
Papa menyambut tangan itu.
__ADS_1
"Oh iya, saya Rudi Wijaya, maaf saya tidak bisa berlama lama, banyak kerjaan" pamit papa dan segera pergi.
Tante Sifa lalu dengan kocak nya menci tangan nya sendiri.
"Ah bahkan tangan papa kamu wangi banget" seru nya.
Aku dan maharani hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Tante Sifa.
Mama yang dari toilet pun menghampiri ku.
"Loh papa kamu mana lid?" tanya mama.
"Sudah ke mobil ma" jawab ku.
"Ya ampun, main tinggal ajja, kan aku suruh tunggu tadi, ya udah mama pulang duluan yah" seru mama sembari sedikit berlari.
Aku hanya mengangguk.
"Itu mama kamu?" tanya Tante Sifa.
"Iya Tante" jawab ku.
"Cuantik banget deh" seru nya.
"Tante Sifa juga cantik kok" jawab ku.
"Ah kamu bisa ajja. Langka loh ada yang bilang Tante ini cantik, Maharani saja tidak pernah bilangin Tante cantik" ujar nya sedikit tersipu malu.
"Serius Tante" jawab ku.
"Haduh, ya sudah, ayo tante traktir, mau jajan apa hari ini" seru nya.
Maharani mengangguk cepat.
"Aku ngikut ajja Tante" seru ku.
"Baik lah setelah dari sini kita pergi makan yah di luar" jawab Tante Sifa.
"Ok Tan" jawab ku. Tiba tiba Dimas datang menarik tangan ku.
"Ih apaan sih Dimas!" bentak ku.
"Sini deh, aku kasi sesuatu" seru nya.
"Tapi gak gini juga kali. Narik narik" protes ku.
Dimas membawa ku ke belakang sekolah.
__ADS_1
"Ngapain kita di sini?" tanya ku.
Dimas mengeluarkan sesuatu di kantong nya dan memberikan nya pada ku.
"Apa ini?" tanya ku.
"Hadiah perpisahan" jawab nya.
Aku membuka sebuah kotak kecil di hadapan ku.
"Cincin?" batin ku.
"Lidya Wijaya, mau kah kamu menikah dengan ku?" tanya Dimas sambil bersimpuh di hadapan ku.
Aku tertawa.
"Konyol deh kamu, kamu serius lamar aku sekarang? kita baru lulus sekolah, masa depan masih panjang, Dimas Dimas. Kamu memang selalu penuh kejutan" seru ku sembari menggeleng kan kepala tanda tidak setuju.
Wajah nya berubah muram.
"Ya gak harus sekarang kamu jawab. Yang penting aku sudah sampaikan niat baik ku" jawab Dimas polos.
Ku tepuk wajah nya.
"Aku gak janji, kuliah dan kerja lah dulu, hidup ku ini rumit, aku bahkan tidak bisa menentukan pilihan ku sendiri, masa depan ku di atur, aku tidak tau akan bersama siapa nanti, semoga saja yang terbaik menurut Allah" seru ku.
Dimas terdiam.
"Baik lah, bagaimana pun kita akan tetap bisa berteman kan?" kata Dimas sembari mengacungi jari kelingkingking nya ke arah ku tanda perjanjian.
"Baik lah" kk sambut jari kelingking itu dengan jari kelingking ku. Saling bertaut.
Tiba tiba saja Dimas mengecup kening ku Dan berlari kabur entah kemana, aku sampai tidak sempat protes kepada nya.
Dasar Dimas bar bar.
Hari itu adalah hari terakhir ku di sekolah dan menutup cerita masa remaja ku.
Tamat.
Selanjutnya akan aku ceritakan kisah ku ketika beranjak dewasa.
Season 2 nya akan di lanjutkan di sini saja oleh author.
Masih dengan ku.
Lidya wijaya.
__ADS_1
Selamat membaca.