Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 64.


__ADS_3

"Makasih ya reno udah nolongin aku" seru ku.


Reno menatap ku heran.


"Kok kamu tau nama ku?" tanya nya.


"Eh, itu dari name tag di seragam sekolah kamu" jawab ku. Hampir saja.


"Ayo pulang" ujar putra.


Aku menatap nya.


"Iya" jawab ku singkat. Reno juga sudah di obati dan akan pulang.


"Kalian pulang bareng?" tanya Reno.


"Iya, kenapa?" jawab putra.


"Eh, gpp nanya ajja" jawab Reno sembari mengambil tas nya yang masih tertinggal di dalam kelas.


Aku dan putra pun pulang.


"Aku gak nyangka raja bisa senekat itu, aku jadi takut" seru ku pada putra. Kami sedang ngobrol di balkon.


"Aku sih tidak heran. Dia memang nakal. Kami sudah sering masuk ruang bimbingan konseling, tapi kamu tenang ajja, selam ma ada ku di sekolah, aku pastikan kamu baik baik saja. Kecuali di sekolah kamu." jawab putra.


"Hmm, terima kasih yah" lagi lagi aku berterima kasih kepada putra.


"Sama sama, sudah seharus nya kan" jawab nya.


Aku tidak berani ke SMA cahaya jika hanya sekedar menonton, aku takut ketemu raja lagi.


Tidak terasa hukuman skor ku sudah berakhir dan aku bisa masuk sekolah lagi.


Maisaroh menyambut ku dengan bahagia.


"Ahk rindu nya sama atlet volly satu ini" seru Mai sambil memeluk ku.


"Perasaan, kita ketemu terus deh Mai selama pertandingan" jawab ku.


"Ihh beda dong, ini kan di sekolah kita" jawab Mai.


Dimas dan Adit pun menyusul menyambut ku.


"Ikut Nonton gak hari ini?" tanya Dimas pada ku.


"Gak ahk. Males" jawab ku.


"Ihh ayo dong, kan ada kakak mu di sana" ujar Mai.


"Eleh, bilang ajja loe mau ketemu kakak nya si lily", ujar Dimas.


"Haha, Dimas, kalo ngomong selalu benar", jawab Maisaroh.


"Kamu yakin gak mau ikut, sepulang dari sana kami Mau jalan jalan loh" ajak Adit.


"Hem, gimana yah" jawab ku.


"ayo deh" ujar mereka ber 3 hampir bersamaan.


Mau tidak mau aku terpaksa mengikuti mereka.


Menjelang siang kami sudah berada di sekolah itu. Ada banyak pertandingan, bukan hanya volly, ada basket dan futsal juga. Aku sebenarnya tidak tertarik untuk menonton.


Baru sampai di sana aku melihat putra seperti sedang bermasalah.


Aku mendekati nya.


"Ada apa putra?" tanya ku.


Belum sempat dia menjawab Dinda datang dengan tangisan nya.

__ADS_1


"Jangan mendekati ku wanita brengsek!" pekik putra.


Aku pun terkejut mendengar nya.


Guru BK mendatangi kami. Putra di bawa paksa kembali ke ruang Bimbingan konseling untuk di interogasi lagi.


Aku penasaran dan mengikuti sampai ke depan ruangan itu. Dinda ikut masuk ke dalam. Sesaat Dinda menatap ku.


"Ngapain kau ikut ikut kesini, apa urusan mu" tanya nya.


"Aku cuma penasaran" jawab ku polos.


"Penasaran? atas apa" tanya nya.


"Atas Masalah yang menimpa putra sehingga dia seperti itu" jawab ku.


"Apa hubungan mu dengan nya?" tanya Dinda.


"Aku adik nya, putra itu kakak ku" jawab ku.


"Oh, maaf" ujar Dinda.


Guru BK memanggil Dinda karena tidak masuk sedari tadi.


Setelah dari ruangan BK. Dinda dan putra bertengkar hebat.


"Dasar wanita gila, bisa bisa nya kau tuduh aku yang tidak tidak seperti itu!!!" pekik putra, seperti nya ia kehilangan kesabaran.


"Ya ampun putra, akui saja lah, perbuatan mu, gak usah sok suci, semua orang juga tau kamu berandalan" kata Dinda dengan tenang.


"Kenapa kau memfitnah ku, sangat keji perbuatan mu itu Dinda!!!" bentak putra.


Aku sudah tidak tahan lagi, aku penasaran setengah mati dengan apa yang terjadi. Aku pun menghampiri mereka.


"Putra apa yang terjadi?" tanya ku.


"Kakak mu ini sudah menghamili aku, saat aku menangis di toilet waktu itu, itu karena dia. Aku hamil dan dia tidak mau mengakui nya" jawab Dinda.


"Tidak, aku tidak pernah melakukan nya, demi Allah itu bukan perbuatan ku" putra membela diri.


Aku mundur perlahan. Putra yang mulai ku percaya ternyata seperti ini? apa beda nya dengan laki laki lain, putra sama saja, seperti papa, seperti raja dan laki laki brengsek lain nya.


Putra mengejar ku.


"Lidya!!! kau percaya pada ku kan, bukan aku, aku di fitnah, aku tidak melakukan nya" putra mulai putus asa.


Aku menepis tangan putra. Aku sungguh tidak menyangka. Melihat ku semakin menjauh putra berbalik memarahi Dinda.


Siapa yang harus aku percaya. Aku sungguh kecewa pada putra jika memang dia melakukan tindakan seperti itu.


Putra mendapat kecaman serius dari sekolah. Guru BK sampai lelah mengintrogasi putra tentang kasus tersebut. Karena putra tidak pernah mengakui nya.


Putra berlari mengejar ku.


"Aku sungguh tidak melakukan nya, Dinda memfitnah aku, hari itu aku menyelamatkan nya dari kenakalan anak anak di sekolah ini, aku juga beberapa kali menyelamatkan nya dari pelecehan seksual yang di lakukan siswa nakal yang ada di sekolah ini, tapi dia malah memfitnah aku. Aku tidak habis pikir" jelas putra sambil tertunduk pasrah.


Aku menatap putra, dan aku juga mengenal nya, putra tidak mungkin melakukan nya. Tapi manusia bisa saja khilaf, seperti papa dan mama dulu.


"Cepat atau lambat semua pasti terungkap kebenaran nya" jawab ku.


"Nanti kamu pulang sendiri ajja, aku mau jalan sama temen temen ku" seru ku.


Sepulang dari sana aku dan teman teman pun pergi jalan jalan.


Selama perjalanan aku menikmati Musik dan lagu lagu yang di putar di mobil Maisaroh.


Kali ini lagu Nidji, Tuhan maha cinta.


Tahukah Tuhanmu selalu hidup di dalam hatimu 🎵


Cinta dari-Nya menjawab semua masalahmu

__ADS_1


Dia mendengar, melihat dan selalu berfirman


Perangi neraka di dalam hatimu


Damaikan jiwamu dengan cinta Dia


Memberi yang ikhlas kepada yang butuh


Bersyukurlah terus tanpa kenal waktu


Serahkan, ikhlaskan, pasrahkan lah


Hanya kepada-Nya


Cinta-Nya adalah jawaban-Nya


Karena Tuhanlah Maha Cinta


Karena Tuhanlah Maha Cinta


Tahukah Tuhanmu selalu hidup di dalam hatimu


Cinta dari-Nya menjawab semua masalahmu


Dia mendengar, melihat dan selalu berfirman


Perangi neraka di dalam hatimu


Damaikan jiwamu dengan cinta Dia


Memberi yang ikhlas kepada yang butuh


Bersyukurlah terus tanpa kenal waktu


Serahkan, ikhlaskan, pasrahkan lah


Hanya kepada-Nya


Cinta-Nya adalah jawaban-Nya


Karena Tuhanlah Maha Cinta


Terkadang hidup memang berat


Membuat kita hampir menyerah


Tapi aku percaya Kaulah pelindungku


Penciptaku dan hidupku


Sabar Kan hatiku, kuatkan imanku


Berkahi aku dan keluargaku dengan rahmat-Mu


Tuhan, Kaulah cintaku


Tuhan Kau Maha Pengasih


Tuhan Kau Maha Penyayang


Serahkan, ikhlaskan, pasrahkanlah


Cinta-Nya adalah jawaban-Nya


Tuhan Kaulah Sang Pencerah


Tuhan Kaulah Sang Pencerah.


Aku merasa tertampar mendengar lagu itu.


Di saat putra sedang ada masalah aku malah meninggalkan nya bahkan tidak percaya pada nya. Padahal ia selalu ada untuk aku.

__ADS_1


__ADS_2