Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 54.


__ADS_3

"Sebenar nya apa?" tanya ku tidak sabar.


"Bimo sudah jadian dengan Siska" akhir nya putra mengungkapkan nya.


Bagai di sambar petir aku mendengar nya, seketika dunia terasa gelap. Lutut ku lemas.


Aku memegang dada ku yang sesak.


Setelah semua ini terjadi aku baru menyadari bahwa selama ini aku menyukai Bimo.


Aku menahan rasa ku di depan putra berusaha tegar.


Bukan salah Bimo, aku lah yang telah meninggal kan nya.


Aku sungguh menyesal.


"Oh" jawab ku.


Putra tiba tiba memeluk ku.


"Jangan di tahan. Menangis lah jika itu perlu, wajar kok" kata putra.


Putra mengelus pundak ku seolah tau apa yang ku rasakan saat ini.


Air mata ku pun tak terbendung lagi akhir nya keluar juga.


Aku sesenggukan.


Entah berapa lama nya aku menangis di pelukan putra.


Setelah sedikit reda putra menyuruh ku masuk ke mobil.


Kami menuju ke suatu tempat, bukan pulang ke rumah.


"Kita kemana? kok gak pulang?" tanya ku.


"Ikut saja" jawab putra.


Ternyata kami ke pantai. Pantas saja perjalanan begitu jauh terasa.


"Turun lah" perintah nya.


Aku pun menurut saja.


Aku berjalan menuju pantai, duduk sejenak di batang pohon yang tumbang.


Pengunjung sepi sekali.


Putra duduk di samping ku.


"Sejak dulu aku tau kau menyukai Bimo" ujar putra.


Aku mengernyitkan dahi ku, bingung.


"Kok bisa?" tanya nya.


"filing ajja" jawab nya.


Aku mendesah berat.


"Kenapa kau tidak jujur saja pada Bimo tentang siapa kau sebenarnya" kata putra.


"Aku takut, Bimo akan kecewa pada ku jika tau aku operasi plastik"ujar ku.


"Mungkin awal nya ia akan kecewa tapi lama kelamaan dia pasti akan mengerti. Dari pada menyesal seperti ini. Sampai kapan kau akan membohongi Bimo?" tegas putra.


Aku terdiam. Sejak awal memang aku salah, apa Bimo akan memaafkan ku.


"Terlambat, dia sudah milik orang lain. Percuma juga aku mengakui bahwa aku Lidya, belum tentu Bimo menerima ku lagi jadi sahabat nya seperti dulu. Aku rindu jadi sahabat nya" sesal ku.


Putra memandang lautan luas di depan kami.


Angin sepoi-sepoi berhembus ringan.

__ADS_1


Senja sebentar lagi. Langit mulai kemerahan Menandakan akan segera magrib.


"Kalo pulang sekarang, waktu magrib akan lewat di jalanan, aku ke masjid sekitar sini dulu yah. Sholat magrib dulu baru kita pulang." ujar putra.


Aku tidak menyangka putra ternyata sosok yang religius. Mengingat penampilan nya yang seperti anak berandalan jika di sekolah.


Putra melangkah cepat mencari masjid. Aku menunggu nya di tepi pantai. Melihat langit semakin gelap. Biru langit berubah jadi biru tua. Semburat jingga senja mulai menghilang.


Beberapa menit kemudian, selepas sholat magrib putra datang lagi.


"Ayo pulang" ajak nya.


Aku pun menurut, langsung melangkah menuju mobil.


"Bismillah", ucap putra saat mulai menjalankan mobil nya.


Memang benar kita tidak bisa menilai orang hanya dengan penampilan nya saja.


Aku kagum melihat putra. Aku tersenyum tipis.


"Ada apa senyum sendiri?" tanya putra.


Aku langsung menghentikan senyum ku.


"Gak ada apa apa" jawabku singkat.


Mobil melaju, melintasi jalan besar, kami sudah hampir sampai di kota.


Sesampai nya di rumah aku pun bersih bersih diri dan berganti pakaian tidur motif bunga bunga yang lucu.


Papa dan mama sudah ada di bawah menunggu kami untuk makan malam.


Sebenar nya aku belum 💯% menerima Tante mona. Tapi kita lihat saja nanti.


Denting garpu dan sendok beradu di meja makan. Ku lihat putra makan pakai tangan seperti biasa, dia tidak biasa pakai sendok apa pun makanan nya kecuali berkuah.


Suasana meja makan hening. Padahal ada 4 orang yang makan di sini.


Aku pun membuka obrolan.


Papa melotot mendengar pertanyaan bar bar ku.


"Lidya!!!" pekik papa.


"Apa?" balas ku.


Putra melirik ku tak percaya dengar pertanyaan ku.


Tante Mona hanya tersenyum melihat ku.


Namun dia enggan menjawab nya.


Papa menendang kaki ku di bawah meja.


Aku lalu kehilangan selera makan dan naik ke atas kamar ku.


Aku memang penasaran kenapa Tante Mona bercerai dengan suami nya dulu. Apa karena suami nya miskin? lalu ia tinggalkan dan mencari kekayaan dengan mencari suami baru yang kaya raya seperti papa.


Aku terlalu takut untuk percaya siapa pun.


Namun putra tidak menunjukan sikap berkhianat sama sekali, ia bahkan tidak pernah meminta apa pun ke papa atau aku.


Aku kepikiran dengan Bimo yang berpacaran dengan Siska. Pantas saja Mereke terlihat kemana mana bersama.


Putra mengetuk pintu kamar ku.


"Masuk saja" teriak ku.


Putra masuk ke kamar ku.


"Kenapa kau menanyakan hal itu ke mama" tanya putra.


"Kenapa? kau tidak suka? aku tidak peduli, aku hanya penasaran" jawab ku.

__ADS_1


Aku menggeser pintu kaca transparan dan melangkah menuju balkon kamar ku.


Putra pun mengikuti ku.


"Aku mengerti hidup mu pun tak mudah, maafkan jika kehadiran kami menambah beban berat di hidup mu" ujar nya.


"Jangan suuzon, mama dan bapak ku bercerai karena mama sudah tidak sanggup lagi menghadapi bapak ku yang tidak menafkahi kami dengan benar. Ia sibuk foya foya dengan teman teman sementara kami menderita di rumah, bapak juga kasar dan suka main tangan. Ia sering memukul ku hanya karena hal sepele" jelas putra.


Aku terdiam mendengar nya. Papa juga sama put, papa juga ringan tangan memukul anak nya. Semoga saja papa berubah jadi lebih baik. Tapi kelebihan papa adalah tidak pernah kekurangan dalam menafkahi bahkan lebih dari cukup. Itu lah yang aku syukuri hingga saat ini. Bisa hidup mewah sejak kecil. Meski pun kekurangan kasih sayang. Batin ku.


Tiba tiba putra bernyanyi menatap langit malam itu dari balkon.


Kali ini lagu Budi Doremi.


Melukis senja.


Aku mengerti


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelah mu


Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar ku lukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temani mu yang terluka


Hingga kau bahagia


Aku di sini


Walau letih, coba lagi, jangan berhenti


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak indah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelah mu


Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar ku lukis malam

__ADS_1


Bawa kamu bintang bintang,


Tuk temani mu yang terluka hingga kau bahagia.


__ADS_2