
"Apa syarat nya?"tanya ku.
"Menikah lah dengan yugo" jawab papa.
"Pah, aku masih kuliah, itu pun baru mulai, ngapain sih buru buru menikah? papa takut aku kembali sama putra? putra sedang berjuang dengan sakit nya, papa malah nyuruh aku menikah? tidak! lebih baik aku mati mengganti kan dia dari pada harus menikah dengan yugo!" pekik ku.
Air mata ku tak terbendung lagi.
"Lidya!!! jika pun kau menolak nya, papa tidak akan tinggal diam ,yugo pilihan terbaik dari papa untuk kamu!" bentak papa.
Aku menangis.
"Papa jahat!!!" pekik ku.
Aku bingung harus bagaimana, aku harus ke jerman sekarang tapi jika aku ke sana aku harus menikah dengan yugo. Tidak. Aku akan pergi tanpa persetujuan dari papa.
Aku meninggalkan kantor papa. Menuju rumah. Aku berkemas.
Aku menyuruh orang membuat kan ku paspor. Parpor langsung jadi. Singkat. Itu lah kekuatan uang di jaman seperti ini.
Tapi kendala di tiket, semua ATM ku papa blokir. Aku mengumpat kasar.
Aku harus bagaimana. Tega sekali papa pada ku.
Aku menelpon papa perihal atm ku yang ia bekukan itu. Semua tidak bisa terpakai.
Aku harus bagaimana sekarang?
Papa tidak mengangkat panggilan dari ku.
Menjelang malam saat papa pulang aku langsung menemui nya.
"Kenapa memblokir semua atm ku?" tanya ku.
Papa menatap ku.
"Supaya kamu menurut sama papa, papa pengen lihat, apa yang bisa kamu perbuat tanpa papa. Papa lah yang berpengaruh besar dalam hidup mu" ujar nya.
Aku sampai harus berlutut di hadapan papa. menghilangkan rasa malu dan ego ku.
Aku menangis di hadapan nya.
"Baik lah, aku akan menuruti semua kata papa asal papa ijin kan aku pergi ke jerman, aku ingin ke jerman sekarang" pinta ku.
"Deal" seru papa sambil tersenyum menang.
Aku terpaksa menuruti nya. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa diam saja mengetahui putra sakit parah di sana.
Urusan kemauan papa bisa nanti aku pikirkan, sekarang aku harus fokus ke kesembuhan putra.
Besok papa akan mengurus kan segala keperluan ku untuk ke jerman.
Sesampai di sana nanti baru aku akan mengecek kecocokan sum sum tulang ku dengan nya cocok atau tidak.
......🌺🌺🌺......
__ADS_1
Tanpa berlama lama aku pamit ke Jerman, sementara papa sibuk mempersiapkan pertunangan ku dengan yugo setelah aku pulang dari jerman.
Perjalanan cukup melelahkan.
Papa memang tidak main main, ia menempatkan aku tinggal di hotel mewah di sana.
Aku telah sampai dan beristirahat di hotel fontenay yang berlokasi di hamburg Jerman, karena rumah sakit tempat putra di rawat ada di kota ini. Aku tau jika aku menelpon pasti putra tidak mau mengangkat nya. Jadi aku meminta bantuan papa lagi untuk mengetahui lokasi rumah sakit nya.
Tak menunggu lama, aku beristirahat hanya sekitar 2 jam kemudian aku bergegas bersiap siap menuju ke sana menggunakan taksi.
Langkah ku kian berat ketika hampir sampai di sana.
Menuju ruang tempat putra di rawat.
Syukur aku bisa berbahasa Inggris jadi aku bisa bertanya pada perawat di sana.
Tiba lah sudah aku di depan pintu ruangan nya. Hati ku teriris melihat nya pucat dengan rambut yang tipis sekali nyaris botak, rambut nya rontok akibat kemoterapi.
Mama terlihat sedang tertidur di sofa sudut ruangan rumah sakit itu.
"Putra!" seru ku lirih.
Air mata ku tak terbendung lagi.
Aku berlari memeluk nya. Dia sangat terkejut melihat ku datang.
Ia melepas pelukan ku.
"Kenapa kamu bisa di sini?! pergi!!" bentak nya.
"Kenapa kamu gak pernah cerita kalau sakit? kenapa kamu membohongi aku bilang kalau di sini kuliah ternyata berobat. Kenapa?!" pekik ku.
Putra tidak mau menatap wajah ku. Ia berpaling.
"Aku gak mau kamu melihat ku seperti ini, aku gak mau kamu sedih dan khawatir, lihat lah, sekarang aku terlihat sangat menyedihkan." jawab nya.
Ku usap air mata ku.
"Aku gak bisa kehilangan kamu!" seru ku.
Putra sudah tidak berontak lagi.
"Maafkan aku, tapi jangan khawatir, aku sudah menemukan pendonor yang cocok dengan ku, aku akan segera sembuh" seru putra.
"Alhamdulillah" ujar ku.
Pendonor yang cocok? siapa orang nya? aku baru saja akan mengecek kecocokan sum sum tulang ku dengan putra tapi sudah ada pendonor. Huft aku bernafas lega. Setidaknya putra bisa sembuh. Aku akan melakukan apa saja untuk keselamatan nya.
Jika pun nyawa ku sebagai taruhannya. Aku berharap kelak tuhan mencabut nyawa ku sebelum dia. Karena aku takut kehilangan.
"Siapa pendonor itu?" tanya ku.
"Tidak tau, dokter mengatakan bahwa pendonor ingin di rahasiakan identitas nya.
"Alhamdulillah masih banyak orang baik" seru ku.
__ADS_1
Aku jadi penasaran dengan pendonor itu, dia ngasi secara cuma cuma, bukan sanak saudara? orang asing?
Aku pamit keluar sejenak untuk tetap mengecek kecocokan sum sum tulang ku dengan putra.
Tapi, hasil nya tidak cocok.
Gpp, setidak nya putra sudah menemukan pendonor. Itu sudah cukup membuat ku lega.
Aku kembali ke ruangan putra.
Mama terlihat masih tertidur. Mungkin dia kelelahan.
Ku tatap lekat wajah orang paling berharga di hidup ku.
Kurus, pucat pasi.
"Maaf ya" seru nya.
"Maaf kenapa?" tanya ku.
"Karena membohongi mu, sudah lama aku mengetahui penyakit ku ini" jelas nya.
"Gpp, sekarang yang terpenting adalah kesembuhan mu, kamu harus sembuh, gak boleh sakit sakit" ujar ku sambil menangis. Suara ku bergetar.
Putra mengelap air mata ku.
Mama terbangun dari tidurnya dan terkejut melihat ku.
"Lidya? kok bisa ada di sini?" tanya nya bingung.
"Iya, saat tau putra sakit, aku langsung berangkat kemari" jawab ku.
"Tapi, dari mana kamu tau putra sakit?" tanya nya lagi.
"Aku tau sendiri, aku melihat hasil lab darah nya putra yang tertinggal di kamar nya, aku melihat nya sendiri dan mama juga membohongi aku" seru ku.
"Bukan maksud mama seperti itu, mama hanya mengikuti permintaan putra untuk merahasiakan nya dari mu" jawab mama.
"Iya, benar, aku tidak ingin kamu tau" bela putra.
"Baik lah, gpp kok" seru ku.
"Jadi kamu nginap di mana?" tanya mama.
"Hotel fontenay" jawab ku singkat.
"Oh, kamu pindah ke penginapan tempat mama tinggal saja. Di hotel itu pasti mahal" tawar mama.
"Gak kok, masih murah, cuma 352 dolar, sekitar 5 jutaan rupiah, satu hari" jawab ku santai.
"Apa?! segitu murah?" pekik mama. Meski pun sudah jadi istri konglomerat mama masih saja perhitungan padahal kan dia bisa saja berfoya-foya dan hidup mewah dengan uang nya papa.
Apa yang salah, ini hanya 5 juta. Jika tadi 500 juta yah mahal lumayan mahal lah jika di pakai hanya sehari.
"Gak bisa ma, papa udah booking kan hotel nya selama 3 hari, aku gak bisa lama di sini karena papa membatasi keuangan ku sekarang, aku hanya bisa menggunakan sesuai aturan nya, setidak nya aku bisa bertemu dengan putra" jelas ku ke mama dan putra.
__ADS_1
Mama masih syok karena aku menghabiskan 15 juta lebih hanya untuk menginap selama 3 hari, belum lagi makan dan lain lain.