
3 Hari kemudian aku sudah boleh pulang, Adit pun sudah siuman sejak kemarin.
Sebelum pulang aku pamit ke Adit dan keluarga yang masih berjaga di sana.
"Dit, aku pamit yah, semoga lekas pulih" seru ku. Kemudian aku bersalaman dengan ibu nya Adit.
"Mai? kamu gak ikut pulang?" tanya ku.
"Iya nak, kamu gak pulang, kasian nanti keluarga kamu nyariin" seru ibu nya Adit.
"Iya, nanti sore aku pulang, soal nya sore baru di jemput" seru Mai.
"Gak ikut kami sekalian Mai?" tawar ku.
Mai menggeleng.
"Gpp kok, kalian pulang duluan ajja, aman nanti aku di jemput kok" tolak Mai.
Seperti nya ia masih ingin berlama lama di sana. Ya sudah lah
Dimas aku dan putra pun menuju pintu keluar.
"Ah akhir nya keluar juga dari rumah sakit, segar nya" seru ku sambil membentangkan tangan dan ku hirup udara segar pagi itu, seolah keluar dari penjara.
"Ayo masuk" seru putra.
Dimas bahkan sudah di dalam mobil.
Suara deru mobil mulai terdengar pertanda kami sudah dalam perjalanan.
Selamat tinggal kota kenangan.
Perjalanan cukup jauh dan memakan waktu yang cukup lama.
Menjelang siang.
"Aku lapar" seru ku di tengah perjalanan.
"Ya udah kita singgah dulu cari warung makan, aku juga mau siap siap sholat Dzuhur" seru putra.
Kami singgah di sebuah Rumah makan Padang.
Dimas bersemangat turun dari mobil karena dia juga sangat lapar.
Sembari menunggu pesanan datang kami pun ngobrol.
"Eh dim, waktu itu kamu mau cerita sesuatu kan, kamu bilang nanti ajja di kota baru cerita, ini sudah jauh, ada apa emang nya?" tanya ku.
Dimas melirik ku dan putra sekaligus.
"Gak ada apa apa kok, aku cuma mau ceritakan mimpi buruk ku saat di puncak. Seperti nya kita mimpi buruk bersamaan, cuma aku gak mau cerita ajja waktu di sana" seru Dimas.
"Kenapa?" tanya ku.
"Yah konon kata nya kalo ada hal aneh terjadi di sana kita gak boleh ceritakan saat masih di lokasi, kalo udah jauh baru boleh" seru Dimas.
__ADS_1
"Jadi mimpi buruk itu hal aneh ya?" aku mulai berpikir.
"Hem gak juga sih, cuma karena mimpi nya di puncak jadi terasa lain lain ajja gitu" kata Dimas.
Putra sedikit terkekeh saat mendengar cerita Dimas.
"Mimpi buruk jangan di ceritakan, ingat selalu sama Allah dalam situasi apa pun, ingat mimpi baik datang nya dari Allah sedangkan mimpi buruk datang nya dari setan, maka nya sebelum tidur itu baca doa dan jangan lupa wudhu dulu" nasehat putra.
Dimas menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Hehe, iya iya Kakak ipar" seru nya.
Hampir saja aku tersedak mendengar ucapan Dimas.
"Apa kau bilang!" ku cubit lengan Dimas.
Makanan sudah datang. Kami pun melahap makanan kami.
Adzan dzuhur berkumandang di masjid seberang jalan Rumah makan Padang yang kami singgahi.
"Ayo ke masjid, sholat Dzuhur dulu, sudah selesai kan makan nya?" ajak putra.
"Siap kakak" seru dimas bersemangat.
Putra melirik ku yang tidak menjawab.
"Ayo Lidya Wijaya, mau sampai kapan kamu baru mau sholat? sampai hidung mu tertutup kapas?" tanya putra.
"Ih kok gitu sih ngomong nya, iya bawel,aku ikut, tapi kan gak bawa mukenah, emang ada mukenah di sana?" tunjuk ku ke arah masjid.
"Ada kok, biasa kan masjid memang menyediakan mukenah dan Al-Qur'an" jawab putra.
Syukur ada ibu ibu dan anak gadis nya di sana jadi aku tidak sendirian, karena memang masjid di dominasi oleh kaum pria.
Selepas sholat Dzuhur kami melanjutkan perjalanan yang masih panjang.
Aku pun tertidur di dalam mobil.
Putra masih stay berkendara.
Melihat ku tertidur pulas putra ngobrol dengan Dimas yang duduk di belakang.
"Dim, tolong jaga Lidya yah kalo di sekolah" ujar putra.
"Siap bos, tenang ajja aman" balas Dimas.
"Syukur lah, aku lega ada orang baik di sekitar nya, dia sudah banyak melalui hal yang buruk, aku mau dia bahagia" seru putra.
"Jaga dia, jangan sakiti dia, lindungi dia" lanjut putra.
"Ya elah bro, lu kayak mau meninggal ajja pake ngomong begitu segala, aman bro aman" balas Dimas sambil terkekeh.
Putra melempar tisu ke arah Dimas
"Sembarangan ajja Lo kalo ngomong, tapi kita gak tau umur sih, bisa jadi Lo duluan mati hahaha". canda putra.
__ADS_1
"Ih, jangan dulu ya Allah, baim belum kawin hahaha" tawa Dimas.
"Berdoa gak boleh main main, lagian ucapan adalah doa, maka nya jangan sembarangan kalo bicara" nasehat putra.
"Iya pak ustadz, baik lah" seru Dimas.
"Aku pegel nih nyetir, gantian dong" ujar putra.
"Eh, aku sudah lama gak nyetir lagi, takut" protes Dimas.
"Hem, mau sampai kapan takut nya, masa iya nanti cewek kamu terus yang bawa mobil kan gak lucu" jawab putra.
Mendengar kalimat itu Dimas jadi bersemangat.
"Baik lah, aku akan coba" seru Dimas.
Putra memarkirkan mobil nya ke pinggir jalan.
Berganti posisi dengan putra.
"Bismillah" ujar putra sambil menepuk pundak Dimas yang gugup.
"Bismillah" seru Dimas sembari menjalankan mobil.
"Tuh kan bisa, emang kenapa gak pernah nyetir lagi?" tanya putra di sela kegugupan Dimas.
"Eh, a, anu, dulu pernah kecelakaan mobil, maka nya trauma" kata Dimas yang masih fokus ke depan tanpa menoleh sedikit pun.
"Oh pantasan, gpp, justru jadikan pelajaran untuk berkendara lebih hati hati lagi" jawab putra santai.
Putra di belakang duduk santai bersandar sambil mulut nya tak berhenti berdzikir.
Dimas tertegun melihat sosok lain putra.
Yang ia tahu dulu putra Kakak nya Lidya dengan sosok menyebalkan dan garang. Mungkin karena belum terlalu kenal. Pikir Dimas.
Aku mengerjapkan mata ku , terbangun.
"Loh ,kok jadi kamu yang bawa mobil? kata nya trauma" seru ku. Aku berbalik melihat putra yang mulai tertidur.
"Hehe, iya seseorang menyadarkan ku maka nya aku mau lagi membawa mobil" seru Dimas.
Aku melihat ke arah luar jalan. Lengang, mungkin karena cuaca dingin, gerimis mulai turun.
"Kita sudah di mana yah?" tanya ku.
"Di pelaminan sayang hahaha" canda Dimas.
"Idih, masih bocah udah mikir pelaminan" sergah ku.
"Haha, tegang amat tu urat neng, kan cuma bercanda" ejek Dimas.
"Gak gitu juga kali becanda nya" protes ku.
"Jadi becanda nya bagaimana, harus kah aku bilang, Lidya Wijaya mau kah kamu menjadi istri ku? karena kemarin aku nembak jadi pacar kamu gak jawab, siapa tau jadi istri mau? hahahaha" gelak tawa Dimas membuat putra terbangun, tapi setelah itu putra kembali tidur.
__ADS_1
Ku cubit kuat lengan Dimas sampai ia meringis kesakitan.
"Ih, cubitan kamu sakit tau, tapi enak, sakit sakit enak, ngangenin, eakk" Dimas terus menggombal sepanjang perjalanan.