
Menjelang sore kami pun pulang.
Akhirnya aku bertemu kamar ku.
"Ahh nyaman nya, rindu nyaa" ujar ku sambil merebahkan diri di kasur empuk ku.
Papa masuk ke kamar ku tiba tiba.
"Sudah pulang? papa dengar kamu jadi atlet voli di sekolah" seru papa.
"Bukan atlet sih, cuma ikut bermain voli untuk sekolah" jawabku.
"Kapan liburan panjang sekolah?" tanya papa tiba tiba.
"Em. Masih lama, nanti setelah ulangan kenaikan kelas" jawab ku.
"Oh, kabari saja kapan libur" seru nya.
"Kenapa memang nya?"tanya ku.
"Papa mau ajak kita semua liburan ke kampung halaman mama" jawab papa.
"Maksud papa kampung halaman Tante Mona?" tanya ku.
"Iya, memang nya siapa lagi?" jawab papa.
"Siapa tau mama ku yang sudah meninggal" seru ku.
Papa terdiam sejenak, dia bahkan tidak mengingat mendiang mama sama sekali.
"Maafkan aku, tapi ngomong ngomong kenapa kamu masih memanggil nya dengan sebutan Tante Mona?" protes papa.
"Aneh ajja rasa nya jika panggil Mama Mona???" jawab ku polos.
Papa tertawa.
"Ya gak juga di sebut nama di belakang nya dong, panggil Mama saja" jelas papa.
"Inti nya kabari ajja nanti kapan libur panjang nya agar papa bisa atur keberangkatan kita" seru papa bersemangat.
"Masih lama, sebulan lagi baru ujian" jawab ku.
"Ok, baik lah" ujar nya.
"Apa yang kau lakukan pada Tante Mona kemarin?" tanya ku. Aku sudah menghilang kan kebiasaan buruk berbicara layak nya teman biasa ke papa ku sendiri. Karena sejak kecil memang seperti ini. Jadi melekat ke darah daging ku segala sifat buruk papa juga.
Papa sedikit terkejut mendengar pertanyaan ku.
"Anak kecil tidak perlu tau masalah orang dewasa" jawab papa.
"Aku pikir kau sudah berubah bapak Rudi Wijaya yang terhormat" ujar ku.
Papa tersenyum aneh.
__ADS_1
Ia lalu mengangkat dagu wajah ku.
"Semua butuh proses Lidya Wijaya, gak ada manusia yang mutlak 100% bisa berubah secara drastis" jawab papa.
Putra tidak sengaja melihat kelakuan kami karena pintu kamar ku tidak terbuka lebar.
"Eh putra, sini deh" seru ku.
Putra ragu untuk masuk ke kamar ku.
"Putra tau gak, papa kita tercinta ini mau ajak liburan loh, ke kampung halaman kamu, pasti seru deh, iya kan?" tanya ku ke putra.
Putra ragu untuk menjawab.
"Em, kenapa kesana? aku tidak ingin bertemu ayah kandung ku" jawab putra jujur.
"Tenang saja, aku dan mama mu sudah membicarakan nya. Jangan takut aku punya banyak bodyguard, pasti aman, lagian mama mu juga rindu kata nya pulang kampung, ingin bertemu saudara nya" jawab papa.
Nanti kita tinggal di hotel saja.
Putra hanya diam. Seperti tidak ingin kembali ke sana, kampung halaman nya.
Setelah itu papa pergi kembali ke bawah.
"Tenang lah, aku juga penasaran dengan kampung halaman mu itu, semua akan baik baik saja. Mungkin ayah mu sudah berubah?" seru ku menenangkan putra.
Putra seperti nya punya trauma sendiri dengan perlakuan ayah nya dulu.
Yah kami sama, sama sama pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tapi aku sudah tidak trauma, aku sudah melupakan kejadian itu. Memaafkan papa adalah jalan terbaik.
"Baik lah, nanti akan ku tunjukan kota Tarakan Kalimantan Utara, tempat kelahiran ku, meski tak seluas di sini tapi di sana juga termasuk kota yang maju kok, bukan pedesaan" jelas putra mulai bersemangat.
Aku tersenyum lega saat putra mulai bersemangat.
"Janji yah ajak aku keliling tarakan?" ujar ku sambil menunjukan jari kelingking ku.
"Iya janji" jawab putra sambil menyambut janji jari kelingking ku.
Malam semakin larut. Putra kembali ke kamar nya untuk istirahat.
Keesokan hari nya aku turun sekolah seperti biasa.
"Apa kau baik baik saja setelah apa yang terjadi di sekolah mu? setelah rahasia mu terbongkar" tanya putra khawatir.
"Iya, semoga baik baik saja" ujar ku.
Sesampai nya di sekolah aku langsung di sambut Maisaroh.
Ramai bisik bisik di sekolah. Ada yang mendukung ku ada yang menghina ku. Pro dan kontra.
Seorang adik kelas tiba tiba mendekati ku.
"Kak aku fans banget sama kk, ini dari ku, semoga bermanfaat yah", seru nya tiba tiba. Teman teman nya yang lain juga mendekati ku untuk mensuport dan memberi hadiah untuk ku.
__ADS_1
"Terima kasih" balas ku. Mereka tersenyum dan memberi ku semangat. Aku terharu.
Maisaroh menepuk pundak ku.
Kami sama sama ke kelas.
Susana kelas masih sama seperti kemarin.
Tatapan tajam dari teman teman terutama tari.
Aku berusaha cuek. Aku melihat sekeliling mencari Dimas.
"Dimas mana, tumben dia terlambat?" tanya ku.
"Loh dia kan sedang menjalani hukuman nya membersihkan toilet setiap pagi?" jawab Maisaroh.
Astaga aku lupa.
Aku berlari menuju toilet, sudah ku lihat Dimas dan Roni sedang membersihkan toilet. Mereka saling sikut tanda tidak suka.
"Maafkan aku yah" seru ku sembari membantu.
"Tidak usah Li, kamu gak ke pertandingan? nanti kamu terlambat loh, ingat ini sudah final" cegah Dimas saat aku akan membantu.
"Tidak apa apa Dimas" jawab ku.
Aku tetap memaksa Dimas untuk menyerahkan alat kebersihan lain.
Toilet yang lumayan bau. Syukur ada wipol pembersih dan ada juga pewangi ruangan.
Aku lap kaca westapel. Dimas dan Roni fokus bersihkan toilet yang bau itu.
Tiba tiba Wulan datang.
"Haduh Li. Kamu ini kayak petinggi negara ajja, susah banget di temuin, ayo, kita harus segera berangkat ke gedung olahraga dipusat kota" ujar Wulan.
"Loh, kok di sana, bukan nya di SMA cahaya?", tanya ku.
"Iya, kan sudah final. Semua bidang olahraga yang masuk final bertanding di sana, agar semua warga biasa bisa ikut nonton bukan hanya pelajar" seru Wulan.
"Aku baru tau", jawab ku.
"Iya, sebagai tanda pertandingan berakhir. Pembagian hadiah juga di sana. Akan banyak orang di sana. Maaf baru kasi tau sekarang, harus nya kamu undang orang tua mu untuk nonton jika mereka bisa", jelas Wulan.
"Tidak mengapa, orang tua ku juga pasti gak bakalan bisa datang" jawab ku.
Aku lirik Dimas yang masih sibuk membersihkan toilet.
"Pergi lah sekarang, selesai ini aku akan menyusul menonton pertandingan mu, aku sudah tau tempat nya di mana" kata Dimas tanpa ku beritahu.
"Terima kasih Dimas, besok aku janji akan membantu mu, aku pergi yah" pamit ku ke Dimas.
Dimas tersenyum dan melambaikan tangan nya.
__ADS_1
Aku pun ikut Wulan ke mobil pak dewan, pelatih kami.