
"Lidya, kok melamun" seru Dimas membuyarkan lamunanku.
"Eh, aku gak melamun kok" jawab ku.
"Jangan terlalu di pikirkan perjodohan mu itu, fokus lah ke ujian Minggu depan" ujar Dimas.
"Siapa juga yang mikirin perjodohan itu" jawab ku.
Diam diam justru Dimas yang mencemaskan hal itu. Ia takut, sangat takut semua itu terjadi. Ia tidak akan bisa menerima hal itu.
Ia tidak akan ikhlas Lidya bersanding dengan kakak nya.
......🌺🌺🌺......
Di tempat lain.
Kampus Madani. Tempat kakak nya Dimas kuliah. Jurusan ekonomi, manajemen.
"Cieh, yang udah di jodohin, cewe lu buat gue ajja deh bro kalo gitu, kasian wkwkwk hahaha" seru Rafli ke Yugo.
"Brengsek lu" bentak Yugo dengan tatapan tajam nan dingin nya itu.
"Haha becanda bro, aduh, rumit banget yah hidup mu" ejek Rafli lagi.
Feby mendekati kekasih hati nya.
"Sayang..." sapa nya ke Yugo. Rafli langsung berhenti berceloteh.
"Iya, ayo pulang" ajak Yugo ke pacar kesayangan nya itu. Mereka pacaran sudah 4 tahun ini semenjak awal kuliah.
Feby menggandeng manja kekasih nya itu.
Feby merasa beruntung karena Yugo bukan cowo Biasa, Yugo pintar, cuek dan dingin ke siapa pun. Kecuali pada nya.
Yugo bukan cowok yang mudah tertarik dengan wanita.
"Kamu kenapa, seperti banyak pikiran gitu?" tanya Feby.
"Ah, biasa lah, pusing nyusun skripsi" jawab Yugo bohong, padahal ia pusing karena rencana perjodohan nya dengan anak ingusan yang masih sekolah SMA itu.
Entah apa yang di pikirkan papa nya sehingga mau menjodohkan dia dengan orang lain padahal jelas jelas Yugo sudah punya pacar.
"Oh begitu, semangat sayang, enak nya yang akan lulus, aku tertinggal karena kebanyakan cuti hehe" ujar Feby.
"Kamu juga yang semangat, cepat nyusul, jangan cuti cuti lagi" seru Yugo.
"Iya bawel, eh sayang hari ini temenin aku ke toko buku yah, ada buku yang ingin aku beli" ajak Feby.
"Apa sih yang gak buat calon ibu dari anak anak ku" ujar Yugo alay.
Hanya pada Feby kekasih nya itu lah Yugo seperti ini. Dia sangat cuek dan dingin jika ke orang lain, apa lagi jika tidak kenal.
__ADS_1
Hanya pada Feby dan orang terdekat nya saja.
"Haha, kebiasaan deh, melawak, kuliah kita selesaikan dulu baru mikir anak" protes Feby.
"Kalo dekat kamu bawaan nya pingin punya anak ajja" jawab Yugo asal.
"Dasar mesum, bucin, udah ah, jangan gombal Mulu, fokus tuh nyetir nya" ujar Feby.
"Iya sayang, ini udah fokus kok, setelah aku lulus kuliah kita nikah yah?" ajak Yugo.
"Nikah? haha, nanti yah, tunggu aku selesai kuliah juga" jawab Feby.
"Loh, kok gitu. Kan gak ada larangan mahasiswa menikah" protes Yugo.
"Iya sayang, iya, tapi aku belum siap, takut nya nanti kuliah ku terbengkalai lagi" tolak Feby.
"Hem, ya udah kalo gak mau" seru Yugo lesu.
"Kenapa sih, kok ngebet banget mau nikah" tanya Feby.
"Emang mau begini terus, pacaran terus? kota udah 4 tahun loh pacaran" jawab Yugo.
"Iya sih, sabar yah sayang" seru Feby.
Padahal Yugo berharap Feby akan antusias menyambut tawaran nya untuk menikah. Tapi Feby justru menolak nya.
Yugo tidak mau berlama-lama karena takut di jodoh kan orang tuan nya dengan orang lain.
Yugo sudah terlanjur cinta mati sama Feby.
Yugo ingin segera melamar Feby dan menikah secepatnya.
"Kamu aneh deh, di saat wanita di luar sana banyak yang galau kerena pasangannya gak kunjung kasi kepastian untuk menikahi nya. Kamu justru menolak ajakan ku untuk segera menikah" kata Yugo sedih.
"Wanita di luar sana pasti tidak punya impian seperti ku, aku ingin mewujudkan cita cita ku sebelum menikah" tegas Feby.
"Apa menikah bukan impian mu?" tanya Yugo.
"Menikah bukan impian sayang, tapi perkara kesiapan dan tanggung jawab. Sebelum itu aku ingin cita cita ku tercapai dulu ,aku ingin membahagiakan orang tua ku, menjadi kebanggaan mereka baru setelah itu aku menikah sama kamu" seru Feby.
Yugo senang Feby sayang pada orang tua nya tapi Yugo juga sedih karena Feby tidak mau menikah dengan nya dalam waktu dekat.
"Hem, baik lah" jawab Yugo singkat.
"Ih ,kamu gak mau ya nunggu aku?" Feby mulai cemberut.
"Bukan gak mau, tapi jika niat baik di tunda, kita gak tau kan hal apa yang akan terjadi setelah nya, aku harap kamu yang akan menjadi jodohku" jawab Yugo.
Feby tersenyum ringan.
"Aamiin" seru Feby.
__ADS_1
Mereka telah sampai di parkiran toko buku di kota itu.
......🌺🌺🌺......
Sepulang sekolah aku terkejut melihat putra sudah ada di depan rumah menyambut ku.
"Suprise!!" ujar nya.
Aku diam saja. Terkesan cuek.
"Loh tumben gak semangat? ada masalah di sekolah?" tanya nya.
Aku masih diam, dan memilih untuk langsung ke kamar ku.
Putra kebingungan.
Putra mengikuti ku ke dalam kamar.
"Hey, ada apa?" tanya nya.
"Keluar lah ,aku mau ganti baju" seru ku.
Dengan terpaksa putra pun menuruti kata ku.
Jujur aku sangat merindukan nya, ingin sekali memeluk nya tapi, selama di Tarakan dia sama sekali tidak menghubungi aku. Aku kecewa. Ternyata aku tidak lah begitu penting bagi nya.
Satu persatu ku buka kancing seragam putih abu abu ku. Menaruh nya di keranjang pakaian kotor.
Mulai membuka lemari dan mencari pakaian santai untuk di rumah.
Hanya memakai tangtop dan celana sot aku, menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan kaki. Belum saat nya mandi sore, masih siang jam 13.50.
Pulang lebih awal dari biasa nya. Karena kegiatan bimbel sudah tidak ada lagi, masa tenang. Itu pun aktif sekolah tinggal 3 hari lagi, mulai Jumat kami yang kelas 3 sudah di libur kan, masa tenang sebelum ujian di mulai nanti.
Putra masih menunggu ku di luar.
Selesai berganti baju, ku dengar pintu kamar ku di ketuk.
Dengan malas aku membuka pintu.
"Lidya, kamu kenapa? gak seperti biasa nya, ayo cerita" tanya putra pada ku yang masih memilih diam.
"Aku cape, mau istirahat, maaf" jawab ku sembari menutup pintu kembali.
Putra pun turun ke bawah mencari tau apa saja yang terjadi di rumah atau di sekolah Lidya.
"Ma" panggil putra ke Mama Mona.
"Yah, kenapa put" sahut mama.
"Apa mama tau kenapa Lidya berubah jadi cuek dan pendiam?" tanya putra.
__ADS_1
"Loh, memang nya dia gak cerita ke kamu?" tanya mama.
"Jangan kan cerita, dia bahkan tidak mau melihat ku" jawab putra.