
Aku mengemudi mobil ku dengan perasaan yang tidak enak. Dan aku tidak tau aku kenapa. Aku parkir kan mobil ku di tepi danau yang tidak jauh dari lokasi rumah ku.
Pemandangan malam itu cerah. Banyak bintang. Banyak sepasang muda mudi yang berpacaran di sana. Aku turun dari mobil dan sedikit menghirup udara malam untuk menghilangkan stress ku.
Terlalu banyak hal yang terpikirkan.
Cahaya bulan terpantul di bawah air danau itu. Sudah pukul 21.00.
Entah kenapa aku teringat pertemuan Bimo dengan siska tadi. Seperti nya mereka akrab?
Itu salah mu Lidya, salah mu kenapa pergi meninggalkan sahabat mu demi sebuah perubahan.
Aku terus menyalahkan diri sendiri.
Membuat dada ku sesak.
Setelah puas menghirup udara malam aku pun pulang.
Tidak ada papa di rumah, dia sibuk mempersiapkan pernikahan nya dengan Tante Mona.
Ku rebahkan tubuh langsing ku ke kasur nyaman ku. Menatap langit langit. Ku lirik bingkai foto lama ku dengan Bimo.
Badan besar ku hampir menutupi nya di foto itu. Lucu sekali. Aku tersenyum sesaat.
Keesokan hari nya. Aku minta ijin ke papa untuk membawa mobil sendiri ke sekolah.
Syukur nya ia tidak keberatan.
Aku cape nunggu pak Dadang menjemput ku.
Ku parkirkan mobil ku lalu turun.
Maharani menatap ku sesaat lalu pergi.
Ada apa lagi dengan anak itu.
Aku memberanikan diri untuk mengikuti nya.
"Maharani!" panggil ku.
Ia tidak menoleh. Namun berhenti sesaat.
"Kenapa kau selalu menatap ku seperti itu, apa aku ada salah pada mu?" tanya ku.
Dia hanya diam tidak menjawab.
Hampir putus asa aku berbicara dengan nya.
__ADS_1
"Rani!!" pekik ku lagi saat ku lihat ia mulai berjalan menjauh dari ku.
Seperti biasa dia tidak tertarik berbicara dengan ku.
"Sebenar nya apa yang kau ketahui tentang Maimunah?" pancing ku tiba tiba.
Dia berhenti lagi. Dan mulai melirik ku.
"Kau murid baru di sini, bagaimana bisa kau mengenal nya" seru nya lirih.
"Dunia tidak se sempit pikiran mu ran. Kami saling kenal bukan karena sekolah ini" jawab ku.
Dia diam sesaat. Seperti ingin berbicara tapi ia takut.
"Bicara lah ran, aku juga penasaran mendengar kabar kematian teman ku itu, meski sudah setahun berlalu" bujuk ku.
"Maimunah adalah satu satu nya teman ku di sekolah ini" seru Rani.
Aku mendengar dengan seksama dan detail.
Rani berhenti bicara saat Maisaroh mendekati kami.
"Lili, jangan terlalu dekat dengan nya, dia itu gila, bahaya, anggap saja tidak ada" seru Maisaroh pada ku. Ia lalu menarik tangan ku menjauh dari Maharani.
Aku sedikit melirik kembali ke belakang , Maharani hanya menggeleng pelan lalu pergi.
"Li, di cariin sama tim club' voli, kata nya harus latihan sekarang" seru Dimas saat aku masuk ke dalam kelas.
Pelatih memarahi ku karena selalu bolos latihan.
"Kamu niat gak sih masuk club' ini, ayo donk disiplin, bagaimana bisa sukses kalo kalian gak disiplin!!!", teriak pak dewan.
Ingin sekali aku berkata tidak niat sama sekali tapi ku urungkan niat ku dan meminta maaf, karena aku sadar aku salah dan terpaksa harus melakukan hal aku tidak sukai. Bahkan aku benci. Aku benci voli.
Rara menatap ku marah.
Aku tidak membalas nya.
Wulan selaku kapten club' voli menyemangati ku.
Kami pun berlatih, aku yang masih sangat baru mengenal voli agak kesulitan tapi berkat latihan dan kerja keras akhir nya aku mulai pandai sedikit demi sedikit.
Di sela istirahat latihan Wulan mendatangi ku.
"Kamu itu sebenar nya berbakat, hanya saja kamu gak berminat dengan olahraga ini?" seru Wulan sembari minum air mineral nya.
Wulan berwajah cantik, tubuh nya langsing dan dengan tinggi 175 cm, kulit nya putih bersih, rambut nya panjang di ikat.
__ADS_1
Body atlet banget.
"Hahaha, berbakat? aku bahkan membenci olahraga ini" jawab ku sambil tertawa.
"Apa alasan mu membenci olahraga ini?" tanya wulan serius.
"Entah lah, di masa lalu, di sekolah lama ku, aku pernah di bulli anggota club' voli, mereka melempar bola itu tepat di badan ku, bukan hanya di situ, dengan bola itu juga ia pernah membuat kacamata sahabat ku pecah, sejak itu aku benci voli" seru ku
"Kau salah membenci olahraga nya, yang salah adalah orang nya. Kenapa tidak kau jadikan motivasi saja apa yang mereka lakukan kepada mu" jelas Wulan.
Aku tetap tidak tertarik.
"Berlatih lah lebih sering, buktikan pada mereka kamu gak selemah itu, aku gak tau asal sekolah lama mu, inti nya kita akan ada pertandingan persahabatan melawan sekolah lain. Semoga ada kesempatan untuk mengalahkan sekolah lama mu itu" seru Wulan.
Aku berpikir sejenak, seperti nya akan menyenangkan. Aku mengangguk dan kami pun melanjutkan berlatih.
Wulan menyemangati ku.
Setelah lelah berlatih pelatih memberi kami pengumuman.
"Seminggu lagi saya akan menentukan tim inti dari club' ini, tim inti ada 6 orang, yang lain akan jadi cadangan, tapi jangan kecil hati. Cadangan juga sangat di butuhkan saat kondisi tertentu" seru pelatih kami,pak dewan.
Rara dan Wulan adalah anggota lama di club' ini, jelas sudah mereka akan jadi tim inti.
Rara dengan tinggi 172 cm juga sangat pandai bermain voli.
Tinggi ku hanya 167 cm. Di club ini aku merasa pendek, padahal di kelas atau di mana pun aku terlihat sebagai wanita bertubuh tinggi.
Aku jadi membayang kan Siska yang tinggi nya sekitar 150 cm. Terlihat imut imut, sesuai dengan usia anak remaja SMA pada umum nya.
Sempat minder dengan tubuh tinggi di antara teman teman sekelas, akhir nya aku menemukan tempat di mana tinggi ku sangat di perlukan, justru aku merasa kurang tinggi di sini.
Aku lalu menatap Mira, ia juga anggota lama club, tinggi nya mencapai 180 cm, aku geleng geleng kepala melihat nya. Luar biasa.
Yang lain terlihat standar saja tinggi nya rata rata sekitar 165 cm. Tapi tidak ada di bawah dari itu.
Rambut ku sudah mulai panjang lagi.
Aku pun mengikat nya agar nyaman.
Keluar dari club' kami di perhatikan oleh murid murid dari club' olahraga yang lain.
"Lihat deh, anggota club' voli udah ramai yah, cantik cantik lagi" puji mereka.
Mereka itu dari anggota club' basket wanita dan rata rata tomboi.
Aku menatap risih ke arah mereka.
__ADS_1
"Hay lan, wah ada perkembangan ya, anggota club' Lo bertambah, seleksi yang menarik, semua cantik kayak Lo" puji Mega, kapten tim club' basket wanita di sekolah itu.
Wulan hanya tersenyum ringan.