
Tim SAR dan panitia masih sibuk di hutan mencari 3 anak yang hilang.
"Dasar nyusahin ajja tu Lily dan teman teman nya, kita kan besok sudah harus pulang, bukan nya senang senang malah begini, kita jadi terkurung di sini gak bisa kemana mana!!!" protes Jesika.
"Gila lu ya Jes, orang lagi susah loe malah mikirin diri Lo sendiri, gak habis pikir gue" ujar kak Susi.
"Alah, Susi, loe juga tuh, panitia gak becus, masa sampai sekarang itu anak hilang gak ketemu ketemu sih, yang lain ajja udah pada balik" seru Jesika.
"Udah deh Jes, jangan mancing emosi, kalo mau senang senang silahkan, tapi kalo loe sampai hilang kami gak mau tanggung jawab. Kami sudah peringatkan!" jelas kak Susi.
"Sudah sudah, ini bukan saat nya bertengkar, Jesika, kembali ke tempat mu sekarang dan jangan coba coba pergi tanpa ijin!" pekik kak Romi.
Pak Budi pun panik karena yang hilang adalah anak kelas nya.
"Semoga mereka cepat ketemu, apa yang harus bapak katakan pada orang tua mereka nanti" seru pak Budi khawatir.
"Tenang pak, sudah ada tim SAR kok, kita banyak berdoa saja" seru pak dewan menenangkan.
Sebagian guru juga ikut membantu mencari. Sebagian lagi di tenda menjaga anak anak.
Pak Budi menatap Lidya yang di dalam tenda di temani Maharani.
"Lidya bahkan belum sadar dari hipotermia nya" seru pak Budi lesu.
Lidya juga anak murid di kelas nya.
Hari sudah menjelang siang tapi belum ada tanda tanda mereka ditemukan.
Semakin membuat panik semua nya.
Tim SAR dan panitia balik lagi untuk istirahat, setelah itu mereka akan kembali mencari.
......🌺🌺🌺......
Sementara Dimas Adit dan maisaroh sedang tertidur kelelahan di bawah pohon.
"Dim bangun, aku lapar" seru Mai.
Dimas pun mengerjapkan mata nya.
"Eh ini bukan mimpi?" seru nya.
"Maksud nya?" tanya Mai.
"Aku pikir kita mimpi tersesat ternyata benar tersesat" seru dimas lemas.
Adit pun terbangun mendengar obrolan mai dan Dimas.
Perut nya juga bunyi bunyi karena lapar.
"Ayo kita jalan lagi cari sesuatu untuk di makan" seru Dimas.
Mai menggandeng tangan Dimas sebagai pegangan karena lapar ia sangat lemas.
__ADS_1
Adit mengikuti nya dari belakang.
"Eh itu ada air mengalir, kita minum ajja dulu buat ganjal perut" seru Adit sambil menunjuk sumber air yang ia lihat.
Mereka pun meminum air itu. Hutan rimbun. Cahaya matahari seolah hanya mengintip dari luar sana.
"Apa mereka gak mencari kita?" tanya Mai khawatir.
"Gak mungkin, Mereka pasti mencari kita" seru Adit optimis.
Mai mulai menangis. Wanita sekuat Mai akhir nya menangis juga di situasi seperti ini.
Dimas menenangkan nya. Mai segera memeluk Dimas. Dimas mengelus kepala Mai agar dia tenang.
"Apa kita akan selamat?" ujar Mai.
"Insya Allah" seru Dimas.
Adit menatap sekitar.
"Itu buah murbei bukan? seperti nya itu bisa di makan" Seru Adit sambil memetik buah itu.
"Yakin? nanti kita keracunan gimana?" protes Mai.
"Aku pernah dengar sih jika tersesat di hutan, buah murbei aman kok" jawab Dimas.
Mereka lalu mulai memetik buah itu dan memakan nya. Tidak lupa mereka minum dari sumber air yang ada di dekat mereka.
"Tapi sampai kapan kita di sini?" seru Mai.
"Lidya pasti mengkhawatirkan kita, karena sejak awal dia sudah melarang kita untuk ikut jurit malam kan" ujar Dimas.
Mai Diam saja.
"Aku takut kalo malam, kita harus segera kembali sebelum malam tiba" pekik Mai.
"Kita saja sudah tidak tau ada di mana, takut nya ketika kita mencari jalan kita malah semakin jauh dari tujuan.
"Jadi bagaimana dong?" tanya Mai.
"Kita tunggu Mereka saja di sini" seru Adit.
"Eh itu pondok sejak kapan ada di sana? kenapa kita gak kesana ajja, kan lumayan" seru Mai sembari menunjuk sebuah pondok kecil tanpa dinding, hanya ada atap yang sudah rapuh.
"Mungkin tempat beristirahat warga sekitar jika ke hutan kali yah?" jawab Dimas.
"Boleh juga, kita kesana yuk" ajak mai.
Mereka lalu ke pondok yang tidak jauh dari sumber air tempat mereka istirahat tadi.
Semakin dekat dengan pondok mereka merasa aneh. Siapa yang mendirikan pondok di tengah hutan seperti ini?
Setelah mengucapkan salam mereka pun masuk ke pondok itu. Berbekal buah murbei.
__ADS_1
Tidak ada apa apa di pondok itu. Hanya kayu tua yang sudah rapuh terlihat di sana.
"Maharani apa kabar yah, dia menghilang sendirian, pasti dia sangat takut" seru Dimas.
"Entah lah, setelah pamit buang air kecil dia menghilang" jawab Mai.
"Kasian sekali dia, kita tersesat ber 3 saja sudah panik, apa lagi sendirian?" ujar Adit.
"Anak itu sudah terbiasa sendiri, pasti baik baik saja" kata Mai.
"Semoga" jawab Dimas.
......🌺🌺🌺......
Menjelang sore.
Maharani memanggil teman gaib nya. Ia lalu diam diam keluar tenda.
Menuju sebuah pohon di belakang tenda.
"Apa kau mengetahui keberadaan teman teman ku yang hilang di hutan?" tanya Maharani.
Teman gaib nya itu mengangguk.
Maharani lalu menemui panitia.
"Kak, saya tau di mana keberadaan mereka, bolehkah saya ikut mencari teman teman saya?" pinta Maharani.
"Tidak boleh, jaga saja teman mu yang di tenda itu, tidak boleh ada yang keluar selain panitia dan tim sar!" jawab kak Susi.
"Aku bisa ikut tim SAR kak, tolong percaya sama aku" pinta Maharani lagi.
"Bagaimana kau bisa tau di mana mereka, kenapa aku harus percaya sama orang aneh seperti mu?" jawab kak Susi.
"Ijinkan saya ikut kak, sudah gak ada waktu lagi, teman saya dalam bahaya, saya kan pergi bersama tim SAR jadi akan aman, gak ada salah mencoba, saya titip teman saya yang di tenda" jelas Maharani.
Tanpa menunggu jawaban dari kak Susi Maharani berlari ke arah rombongan tim SAR dan panitia yang akan kembali mencari.
"Loh kamu ngapain ikut dek, balik sana ke tenda!" perintah kak Samsul.
"Ijinkan saya ikut kak. Saya tau mereka ada di mana" ujar Maharani.
Kak Samsul seperti berpikir tapi akhir nya ia mengijinkan Maharani ikut dengan catatan tidak boleh jauh dari mereka.
Maharani bersemangat. Di depan sudah ada teman gaib nya menuntun perjalanan nya.
Mereka saling tersenyum.
"Aku parno deh sama kamu dek, suka senyum senyum sendiri, ngeri tau!!" pekik kak uca ,panitia lain yang ikut mencari.
Maharani tidak menjawab. Ia hanya menatap datar ke arah kak uca.
Kak uca menatap Rani dengan tatapan takut.
__ADS_1
"Apaan sih ca, fokus ajja nyari, jangan mikir yang aneh aneh" sergah kak Samsul.