Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Terjadi lagi.


__ADS_3

Maafkan kelamaan up nya.


Author galau 🥺 .


Yok lanjut yok.


Sepanjang jalan pulang aku merenung.


Rasa nya jenuh juga harus belajar terus.


Sesampai nya di rumah aku berganti pakaian dan duduk di meja belajar.


Otak ku tidak bisa fokus.


Ku tutup buku dan rebahan di tempat tidur.


Putra mengetuk pintu kamar dan masuk ke kamar ku.


"Kamu gak belajar?" tanya putra.


"Jenuh belajar, lagian mulai Minggu depan sudah ada kegiatan belajar tambahan, bimbel di jam pulang sekolah"jawab ku.


"Sebaik nya kurangi bermain main di luar" seru putra.


"Aku bisa stress kalo belajar terus. Di sekolah belajar, di rumah belajar, lantas di mana rehat nya, otak juga butuh istirahat kan" protes ku.


Putra mengacak rambut ku.


"Bawel banget sih, bentar yah" seru nya sembari keluar kamar ku.


Beberapa saat kemudian ia membawa nampan berisi secangkir teh susu hangat dan kopi susu, serta cemilan, risoles isi ayam.


Ia lalu mengajak ku ke balkon kamar ku membawa semua itu.


Aku hanya ngikut saja.


Putra meletakkan semua itu ke atas meja balkon.


Ia lalu duduk di hadapan ku.


"Lihat lah pemandangannya di sini, indah sekali, gak harus jalan jalan keluar kan jika ingin refreshing?" seru putra.


Aku pun melihat dari atas pemandangan indah itu. Hampir setiap hari aku menikmati nya.


"Iya, aku tau" jawab ku singkat.


Putra menatap ku sesaat.


Aku asik menatap langit sore itu.


"Aku bahkan tidak tau rencana apa yang akan ku lakukan jika sudah lulus nanti. Kuliah di mana, aku gak tau ingin jadi apa, aku iri sama mereka yang punya tujuan hidup." seru ku.


Putra diam sesaat.


Ia memegang tangan ku yang ada di atas meja.


"Gak apa apa, tapi sebaik nya mulai sekarang kamu pikirkan akan kemana nanti, bukan kah papa mudah untuk mewujudkan impian kita?" jawab putra.


Lagi lagi aku nyaman di buat nya.


Ponsel putra berdering, ia lalu mengangkat nya.


"Putra, bapak kamu kritis, pulang lah" suara seseorang di ujung telepon sana.


Putra lemas seketika. Ia sudah ngecek di rumah sakit waktu itu sumsum tulang nya tidak cocok untuk bapak nya, itu lah mengapa ia tidak mendonorkan sum sum tulang belakang untuk bapak nya


Putra pergi tanpa berkata apa pun.

__ADS_1


Ia masuk ke dalam kamar nya terburu buru. Berkemas, memasukkan pakaian nya ke dalam koper.


Aku pun mengejar putra ke kamar nya karena melihat gelagat aneh dari nya.


"Loh mau kemana?" tanya ku bingung.


"Pulang kampung, bapak ku kritis" jawab putra sembari mencari tiket pesawat via online.


"Apa?!" pekik ku.


Putra gak dapat tiket untuk hari ini. Ada nya untuk besok pagi.


Putra turun ke bawa untuk memberi tahukan mama kabar bapak nya.


"Ma, besok putra berangkat ke Tarakan, bapak kritis" seru putra.


"Apa? sudah separah itu?" tanya mama.


Putra mengangguk.


......🌺🌺🌺......


Keesokan hari nya putra pergi saat aku berangkat ke sekolah.


Putra di antar supir ke bandara.


Gelisah hati ku sepanjang jalan ke sekolah.


Ingin sekali aku mengantar nya tapi gak bisa.


Sesampai nya di sekolah.


Ramai siswa siswi berbondong bondong masuk ke dalam kelas mereka masing masing.


Aku sudah duduk di bangku ku. Santai sambil membaca buku sebelum pelajaran di mulai.


Aku sendiri tentu nya. Dimas menghampiri ku. dan duduk di samping ku membawa makanan nya tanpa basa basi.


"Kamu itu kok bisa ya kemana mana sendirian? kayak gak punya teman ajja" seru Dimas.


"Sudah biasa" jawab ku sambil menyendok makanan ke mulutku.


Kami pun melanjutkan makan hingga selesai.


Tiba tiba ada benda keras mengenai punggung ku.


"Aduh" aku mengadu kesakitan.


Dimas menoleh ke belakang dan melihat siapa yang melempar benda itu ke arah ku.


Sebuah batu? sakit banget belakang ku.


Belum sempat aku menoleh Dimas sudah menghilang menghajar pelaku yang melempar batu itu pada ku.


Kantin jadi heboh karena perkelahian mereka. Aku bingung harus bagaimana, tidak mungkin juga aku melerai mereka.


Maharani pun terkejut melihat nya. Ia lalu berlari ke ruang guru melapor kan kejadian.


Sebenarnya aku adalah korban salah sasaran, ia ingin melempar orang lain tapi malah mengenai aku.


Roni lagi?


Kenapa sih mereka selalu bertengkar.


Bisa gak sih sekolah ini damai sebentar saja?


Setelah guru datang Dimas dan Roni untuk kesekian kali nya ke ruang BK.

__ADS_1


"Ada masalah apa lagi kalian ini, tidak pernah akur, saya akan panggil orang tua kalian kesini" ujar guru BK.


"Roni duluan melempar baru ke Lidya pak, saya gak terima" jawab Dimas.


"Hah, memang nya kau siapa nya, kenapa peduli sekali dengan dia, aku kan sudah bilang salah sasaran, aku tidak sengaja mengenai nya, aku ingin melepaskan di Ando tuh yang duduk di samping meja tempat kalian makan" jelas Roni.


"Siapa pun dia untuk aku, bukan urusan mu" seru Dimas.


"Kenapa kalian malah berdebat di sini?" bentak guru bimbingan konseling.


Aku menunggu di luar dengan khawatir.


Maharani mendekati ku dan bertanya penyebab Dimas berkelahi.


Dia tidak melihat kejadian sebenarnya.


Setelah keluar dari ruang bimbingan konseling aku dan maharani segera menemui Dimas.


"Kamu gak kenapa kenapa kan" seru Maharani khawatir.


"Gpp kok, Lidya bagaimana punggung mu?" tanya Dimas.


Roni mendekati ku.


"Maafkan aku Ly, sebenarnya bukan kamu yang ingin aku lempar, tapi Ando, bagaimana keadaan mu?" tanya Roni khawatir.


Aku menatap kedua orang yang habis bertengkar ini. Wajah mereka luka.


"Aku baik baik saja, ayo ke UKS" ajak ku ke mereka berdua.


Maharani pun ikut kami.


Sesampai nya di UKS aku justru mengobati orang yang menyakiti ku.


Roni.


"Aduh perih" seru Roni.


"Maka nya jangan suka nyari masalah!" pekik ku sambil memberi Betadine ke luka nya dengan kapas.


Ku lirik Dimas yang di obati oleh maharani.


Dimas tidak lepas menatap ku yang sedang dekat dengan Roni.


Roni memegang tangan ku.


"Kamu bahkan menolong orang yang telah menyakiti mu, kenapa kau bisa sebaik ini?" seru Roni merasa bersalah dan menyesal.


"Roni, kita sudah kelas 3, sebentar lagi lulus, Insya Allah, jadi jangan cari Masalah lagi" jawab ku.


Roni tertegun menatap ku.


"Bagaimana cara aku menebus kesalahan ku, aku bahkan dulu suka menggoda dan mengejek mu" ujar Roni lesu.


"Aku sudah melupakan semua kesalahan mu Roni. Berjanji lah untuk tidak berkelahi lagi" jawab ku.


Roni mengangguk.


"Baik lah, aku janji" Roni mengambil jari kelingking ku dan menautkan nya tanda perjanjian.


Aku tersenyum mendengar nya.


Dimas menatap cemburu ke arah kami.


Ia bahkan menolak maharani menyentuh luka nya lebih lama lagi.


"Aku bisa sendiri" ujar Dimas pada Maharani.

__ADS_1


__ADS_2