Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Tanpa arah.


__ADS_3

"Eh untuk apa minum jamu itu" tanya ku saat aku baru tersadar yugo mau minum jamu buatan bi minah.


"Untuk kesehatan lah, kamu pikir untuk apa?" yugo balik bertanya.


"Oh, gak kok" jawab ku singkat.


Yugo mengambil botol jamu yang ada di atas meja di dalam tas plastik.


Ia mengambil gelas di sudut kamar nya.


Ia lalu meminum nya.


Aku masih tour di kamar nya yang luas ini.


Ruang lemari yang terpisah dari tempat tidur.


Ada televisi besar beserta meja dan sofa untuk santai sambil menonton, ada tempat cemilan. Bahkan ada kulkas mini di dalam kamar nya, ada juga tempat gelas dan piring. ini kamar atau rumah sih. Lengkap banget.


Di balkon ada meja dan kursi seperti di cafe cafe gitu tempat nongkrong mirip balkon di kamar ku, cuma beda nya pemandangan di balkon kamar ku pemandangan nya pohon dan jalanan. Sementara di sini pemandangan padang rumput dan sungai. Di seberang ada lapangan golf.


"Sedang apa?" tanya yugo tiba tiba di belakang ku.


"House tour" jawab ku.


"Bagaimana? nyaman?" tanya nya.


Aku melirik nya.


"Lumayan, tapi tetap saja beda, tetap kamar ku tempat ternyaman di dunia ini" seru ku.


"Nanti juga terbiasa" seru Yugo.


Tiba tiba yugo tertawa sendiri.


"Kamu kenapa?" ujar ku bingung.


"Gpp, lucu ajja, kita ini suami istri tapi seperti teman yang baru kenal, panggil nya juga kamu kamu atau langsung nama, kan lucu" jelas nya.


"Biasa ajja, gak lucu" jawab ku.


"Haha, tegang amat neng.


"Kau pasti sengaja kan membuat ku jauh dari putra" ujar ku.


Yugo menatap pemandangan dari atas balkon. Aku pun ikut menikmati pemandangan nya.


"Tentu saja, tidak pantas kalian saudara punya perasaan, meskipun saudara tiri" jawab yugo.


Memang benar apa kata yugo.


Aku diam.


"Masuk yuk" ajak nya.


Menjelang malam kami berdua turun untuk makan malam.


"Di mana yang lain? kok cuma kita berdua?" tanya ku.

__ADS_1


"Di rumah ini kami memang tidak pernah makan bersama, kami makan masing-masing, entah di luar atau dalam waktu yang berbeda" jelas nya.


"Oh begitu" jawab ku.


Di meja sudah tersedia makanan bak restoran beserta koki nya sekalian. Beberapa koki mondar mandir membawa kan makanan ke ats meja makan.


"Sudah tenang saja, mereka memang bekerja di rumah ini, bibi tugas nya mencuci, melayani tamu dan bersih bersih rumah saja, yang masak di rumah ini mereka tapi kadang bibi bantu juga masak, jangan heran, bukan kah kamu sering ke sini?" tanya yugo.


"Tidak sering, hanya pernah, itu pun saat hanya ada bibi yang kelihatan" jawab ku.


Tiba tiba dimas datang dan ikut nimbrung di meja makan.


"Wah pengantin baru, spesial banget hidangan makan malam kali ini, tapi sory, mertua mu sedang tidak ada di rumah saat ini lidya Wijaya, mereka sedang menghadiri undangan penting" jelas dimas dengan tatapan tajam ke arah yugo.


"Makan lah, jangan banyak bacot" jawab yugo.


"Aku sedang tidak berbicara pada mu" protes dimas.


"Sudah sudah, dimas, ini bukan saat nya berdebat" ujar ku.


"Cieeh , bela suami nih yeh" seru dimas.


Yugo berdiri tapi aku menahan nya.


"Kata nya tadi mau makan?" seru ku.


Dimas dengan tatapan sinis nya menatap kami berdua.


"Percaya diri sekali kalian tinggal di sini, tidak cukup menyakiti ku dengan pernikahan kalian? harus kah aku melihat kalian berdua setiap hari, pergi lah, sejauh mungkin?!" pekik dimas.


Yugo melotot dan tidak bisa menahan diri lagi. Sungguh sebenarnya aku sakit hati lantaran ucapan dimas saat ini.


Yugo memukul dimas. Makanan yang tersedia tadi pun terhambur di lantai. Aku kebingungan, aku tidak mungkin bisa melerai mereka.


Aku minta tolong ke koki yang tadi untuk melerai mereka.


"Dasar, tidak tau malu, tidak punya perasaan!!!" pekik dimas.


"Cukup dimas!!!" balas ku.


Dimas diam. Ia mendekati ku.


"Selamat lidya wijaya, selamat atas semua nya!" bentak dimas.


Aku sampai terkejut karena nya.


Yugo maju lagi untuk menghajar Dimas tapi aku menahan nya.


"Sudah.. sudah, ayo kita makan di luar saja" ajak ku, ku tarik tangan yugo menuju keluar rumah agar mereka tidak bertengkar lagi.


Aku berlari ke kamar untuk mengambil kunci mobil.


Segera aku ajak yugo menjauh dari dimas. Suasana panas. Aku yang menyetir mobil.


"Masih emosi?" tanya ku.


"Sudah tidak terlalu, makasi yah, dan maaf" jawab nya.

__ADS_1


"Dimas tidak pernah sekasar itu pada ku, dia bahkan selalu membela ku di sekolah, seperti nya ia punya masalah" jelas ku.


"Dia cemburu" Jawab yugo singkat.


Iya jelas lah dimas sakit hati, karena dia menyukai ku dan aku menikah dengan kakak nya.


Lalu aku harus bagaimana?


"Kita pindah di villa saja, aku tidak bisa membiarkan dimas menghina mu dan kasar pada mu lagi seperti tadi" jawab yugo.


Aku menggeleng.


"Jauh dari kampus, memakan waktu lama perjalanan" protes ku.


"Terus kamu mau tinggal dalam rumah yang tidak nyaman?" tanya Yugo.


Aku tidak menjawab, karena aku juga bingung harus kemana saat ini. Hidup ku seperti tidak punya arah dan tujuan. Punya rumah tapi seperti tidak punya.


Aku belok ke sebuah warung makan dan memarkir kan mobil ku.


Kami pun masuk, dan aku lupa berganti pakaian, sekarang aku hanya memakai baju tidur stelan.


"Kamu unik yah" seru Yugo.


"Maksud nya?" tanya ku.


"Itu baju kamu" tunjuk nya.


"Stt, aku lupa ganti baju, soal nya buru buru" jawab ku.


Yugo tersenyum melihat tingkah istri nya.


Setelah memesan makanan dan menunggu.


"Jadi bagaimana?" tanya yugo.


"Bagaimana apa nya?" aku balik bertanya.


"Tempat tinggal" seru yugo geram.


"Oh, entah, aku juga gak tau. Emang nya rumah kamu masih lama siap huni?" tanya ku.


"Iya, lumayan, sekitar 2 bulan lagi" seru nya.


"Ya udah kita sewa apartemen saja untuk sementara waktu" jawab ku.


"Bener juga, tapi apa kamu tidak keberatan, kamu kan biasa hidup mewah di rumah mu" ujar nya.


"Apa beda nya dengan kamu, kamu juga kan terbiasa hidup mewah" balas ku.


"Gak juga, aku sudah terbiasa ngekos di kota besar dekat tempat ku kuliah dulu" jawab yugo.


"Ya sudah, nanti kita cari apartemen yang tidak jauh dari tempat ku kuliah dan tempat mu bekerja" jawab ku.


"Aku hanya bantu perusahaan papa kok, sambilan jadi dosen pengganti di kampus mu, aku juga sedang mengurus sekolah ku, mau lanjut S2" jelas nya.


"Padat juga yah kegiatan mu" seru ku.

__ADS_1


Tidak terasa makanan pesanan kami pun datang, kami makan bersama.


__ADS_2