Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 55.


__ADS_3

Pagi itu aku terbangun. Subuh, ku lihat putra baru pulang dari masjid.


"Sudah sholat?" tanya nya saat melihat ku keluar dari kamar.


Dengan malu aku menggeleng.


"Kenapa, datang bulan?" tanya nya.


Aku masih menggeleng.


Putra menatap ku keheranan.


Lalu melanjutkan perjalanan nya ke kamar nya.


Aku pun masuk kembali Ke kamar ku. Sudah tidak bisa tidur.


Bersiap siap ke sekolah.


Kali ini aku bawa mobil sendiri. Tidak enak jika harus di antar terus dengan putra mengingat jarak antar sekolah kami cukup jauh.


Baru masuk gerbang sekolah Aku di tegur oleh ketua club' voli Karena fakum sangat lama.


"Kamu gak bisa seenak nya gitu donk Li, kalo gak bisa ya keluar saja" kata ketua tim.


"Ok, aku keluar" jawab ku singkat, aku memang tidak tertarik, tangan ku sakit setiap berlatih voli.


Aku pun pergi tapi ketua menahan ku.


"Maaf, maksud ku bukan mengusir mu" kata Wulan.


"Maafkan aku mengecewakan kalian, aku terlalu banyak kesibukan sehingga mengabaikan club" kata ku.


Wulan mendesah berat.


"Pertandingan 2 Minggu lagi. Apa kau benar benar akan keluar club'?" tanya wulan.


Aku mengangguk.


"Tidak ly, kami butuh kamu, ayo ikut berlatih lagi" kata Wulan memohon.


"Aku bahkan tidak terlalu pandai, apa yang bisa ku lakukan untuk club'?" tanya ku.


"Kemampuan passing kamu bagus, bahkan di atas rata rata, kamu gak sadar? kamu seorang wing back, kemampuan passing kamu kuat" jelas Wulan.


Mungkin dia hanya menyemangati ku saja.


"Aku sudah mengamati semua pemain di Club, cuma kamu yang cocok jadi seorang wing back. Passing kamu bagus. Kembalikan, aku akan menunggu mu, pelatih mungkin pasti akan memarahi mu karena bolos latihan selalu, tapi tenang saja aku akan bicara dengan beliau" jelas Wulan.


"Nanti aku pikir kan" jawab ku sambil berlalu pergi.


Wulan mendesah berat, pertandingan sebentar lagi dan dia kekurangan orang kuat di tim nya. Padahal aku tidak merasa bisa bermain voli dengan baik kenapa Wulan malah menyanjung permainan ku.


Ah hidup ku sudah terlalu berat untuk memikirkan banyak hal.

__ADS_1


"Li, kamu kenapa?" tanya Adit saat melihat ku seperti berpikir keras.


"Ah, gpp kok. Aku cuma bingung" jawab ku.


"Bingung kenapa?" tanya nya.


"Aku gak suka voli, aku bahkan benci voli tapi aku terpaksa masuk club' voli karena wali kelas kita yang minta. Aku ingin keluar dari club' tapi kapten club' menahan ku, apa yang harus ku lakukan?" desah ku.


"Menurut ku sih lakukan saja apa yang membuat mu nyaman, tapi jika voli bisa membanggakan diri dan orang sekitar mu kenapa tidak mencoba?" jelas Adit.


Kami ngobrol sambil berjalan ke arah kelas.


"Jangan terlalu benci, nanti jadi cinta, hehe" canda Adit, dan dia pun tersenyum pada ku. Senyum nya manis sekali.


Aku pun membalas senyum nya.


Wulan menatap ku dari luar kelas. Ia masih menunggu keputusan ku.


Aku pun keluar kelas menemui Wulan.


"Bagaimana?" tanya wulan gelisah.


"Baik lah, aku akan kembali ke club, tapi jangan berharap banyak dari ku" jelas ku.


"Serius!!!" makasi banyak ya" Wulan tiba tiba memeluk erat, dia bahkan menari.di depan kelas ku saking bahagianya.


"Tim ku hebat, hore" ia berseru sambil terus menari. Mengundang perhatian teman teman.


"Sudah ih, liat tuh kamu jadi tontonan" pekik ku.


"Biarin, ya udah aku ke kelas ku dulu yah beb, jangan lupa jam latihan, aku tunggu" seru Wulan.


Mulai ada bisik bisik anak anak di koridor sekitar kelas ku.


"Hebat apa nya, menang tampang sama body ajja mereka semua, lihat saja nanti, apa mereka memang pandai bermain voli!!" pekik salah satu murid yang tidak suka dengan club' voli.


"Iya selama ini juga club' voli hanya jadi pajangan di sekolah ini, gak pernah ikut event apa pun" bisik yang lain nya.


"Sok sok an ajja tu club', padahal zonk" seru yang lain nya.


Apa mereka sengaja supaya aku mendengar nya? kurang ajar sekali sih mulut mereka.


"Apa kau bilang!!!", pekik ku sambil meremas kerah baju seragam anak itu.


Dia mendorong tubuh ku sehingga cengkeraman tangan ku terlepas.


"Club' Abal Abal ajja jangan sok hebat kalian" seru nya.


Kesabaran mulai habis. Ku layangkan tangan ku untuk menampar nya namun sebuah tangan menghalangi ku.


"Hentikan Li, jangan hiraukan mereka" Adit memegang tangan ku dan menarik ku menuju ke dalam kelas, sontak semua mata melihat kami.


Namun tatapan Adit killer seperti ingin membunuh mengurungkan niat mereka untuk mengolok kami karena masuk kelas bersama berpegangan tangan.

__ADS_1


Dimas tersenyum lebar.


Adit buru buru melepaskan tangan nya yang memegang ku sejak tadi.


"Ciehhh" Hanya Dimas yang berani mengolok kami.


Bukan Dimas nama nya kalo gak bar bar.


Maisaroh mendekati ku.


Aku jadi tertarik untuk mengajak Maisaroh ikut club' voli.


"Mai, mau ikut club' voli?" tawar ku.


"Apaan sih, gak ahk, gak suka" jawab Mai.


"Hem ya deh" desah ku.


"Semangat donk say, jangan lemas gitu, aku selalu mendukung mu" ujar Maisaroh menyemangati ku.


Setelah pelajaran selesai aku pun ke loker club' untuk berganti pakaian, aku akan kembali berlatih.


Saat aku masuk club' Kemabli tepuk tangan riuh menyambut ku.


Terlihat pelatih juga tidak memarahi ku.


"Selamat datang kembali Lily" ujar mereka.


Apa aku memang berarti di club' ini? ah entah lah. Jalani saja.


"Jangan bolos bolos lagi yah" ujar pak pelatih sambil memukul kecil kepalaku dengan kertas sambil tersenyum.


Wulan terlihat sangat lega melihat kedatangan ku.


Setelah pemanasan kami pun mulai berlatih.


Tim inti sudah di tentukan dan aku masuk di dalam nya. Sebagian anak yang tidak terpilih duduk di bangku cadangan.


Mereka tidak iri karena mereka mengakui kemampuan ku.


Kami di bagi jadi 2 tim untuk berlatih. Kemampuan smash Wulan hebat sekali aku mengakui nya. Club' ini berisi orang orang hebat, kenapa di pandang sebelah mata oleh sebagian murid di sekolah ini?


Aku jadi teringat club' voli yang ada di sekolah lama ku, club' yang suka membully ku, semoga ada kesempatan untuk bertanding melawan mereka.


Selepas lelah berlatih aku beristirahat sejenak, hari sudah sore, sebagian anak pun sudah pulang.


"Wulan, pertandingan pertama kita melawan siapa?" tanya ku.


"Oh, SMA negeri 7" jawab Wulan. Sembari mengambil minum nya di dalam tas olahraga Milik nya. Mulan memang pencinta voli sejak kecil. Ia terlihat seperti sudah senior padahal kami seumuran. Dan di tingkat yang sama. Sebenar nya kapten club' bukan Wulan.


Tapi Erika, karena Erika sudah kelas 3 jadi ia pun berhenti bermain voli, Mereka harus fokus ke ujian nasional.


Maka nya Wulan mengganti kan posisi nya sebagai penerus club' voli.

__ADS_1


__ADS_2