Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 23


__ADS_3

Aku menatap kamar ku, tidak ada yang berubah, aku membuka koper dan meletakan barang barang ku pada tempat nya.


Aku menatap bayangan yang terpantul dalam cermin dan tersenyum sinis pada bayangan itu.


Aku lah si itik buruk rupa itu.


Yang berubah menjadi angsa cantik dan menawan. Sayang nya kecantikan itu palsu. Tidak mengapa, setiap wanita itu cantik dengan cara nya sendiri.


Aku lelah setelah perjalanan panjang. Aku merebahkan diri dan tertidur.


"Dasar monster plastik" tiba tiba suara itu mengejek ku.


Semakin banyak yang mengejek ku setelah tau aku operasi plastik.


"Aku gak nyangka kamu akan melakukan itu," pekik Bimo.


"Maafkan aku Bim, aku....." kata kata ku di potong oleh Bimo.


"Aku kecewa" pekik Bimo sambil berlalu pergi.


"Hahaha, si gendut sekarang jadi monster plastik" teman teman sekelas mulai heboh.


Mereka melempari ku sampah plastik.

__ADS_1


"Tidaakkk!!!" pekik ku.


Aku terbangun dari tidur ku dengan nafas yang tersengal-sengal.


Ternyata hanya mimpi. Keringat membasahi kening ku. Mimpi buruk.


Aku melirik jam dinding, sudah jam 6 petang.


Pintu kamar ku di ketuk. Tiba tiba papa masuk. Ia tersenyum saat melihat ku.


Hari ini adalah sejarah papa menginjak kan kaki nya di kamar ku, Selama ini jangankan datang, melihat ku saja dia enggan. Aku memang anak yang tidak dia inginkan.


Tapi ia mulai berubah semenjak hampir membunuh ku.


"Eh, iya, baik" aku agak canggung kerena ia jarang memperlakukan ku dengan baik, sikap nya sungguh berubah drastis.


"Kapan kamu mau lanjut sekolah. Sudah lebih sebulan kamu libur. Sudah kamu tentukan mau pindah kemana?" Tanya papa lagi.


"Ehh. Belum sih, pilihkan saja yang bagus, yang penting pindah sekolah, yang jauh dari sekolah lama ku" jawab ku.


"Baik lah, aku akan mengurus semua nya" kata papa.


Kami memang ayah dan anak yang aneh, kami terbiasa memanggil dengan panggilan santai seperti teman sebaya padahal dia orang tua ku, bagaimana aku bisa sopan sama orang tua jika sejak lahir aku tidak di didik dengan baik oleh nya.

__ADS_1


Papa pun beranjak pergi meninggalkan kamar ku. Aku terdiam mematung tidak percaya dengan apa yang aku alami. Aku dan papa akur? Sungguh ini keajaiban dunia.


Aku bangkit dari tempat tidur ku, memandang cermin seolah takut wajah cantik ku kembali ke yang dulu. Aku memegang wajah ku dan mengagumi nya.


"lidya, sekarang kamu cantik, lupakan masa lalu, saat nya melangkah menjadi pribadi baru yang lebih baik, semangat!!!" Seru ku pada pantulan cermin di hadapan ku.


Aku turun ke bawah untuk makan malam, sejak pulang tadi siang aku belum makan.


Tumben papa ada di rumah jam segini.


Papa melihat ku turun dari tangga.


"Ayo makan malam, bibi sudah masak enak kesukaan kamu" seru papa dari bawah.


Papa bahkan sekarang ngajak makan bersama?


Aku turun perlahan, terbiasa dengan tubuh gendut,aku jadi kesulitan untuk turun tangga, seolah tubuh ku akan terbang jika tidak berpegangan, masih adaptasi.


Setelah berhasil turun tangga aku menuju meja makan. Ada ayam goreng kesukaan ku. Sudah lama sekali rasa nya tidak makan masakan bibi, ah rindu nya.


Bi Minah senyum senyum sendiri melihat ku makan bersama dengan papa.


Selesai makan aku pamit keluar untuk membeli nomor handphone baru. Aku ingin menghapus semua jejak ku yang lama. Ku harap tak ada yang mengenal ku. Jika ada yang bertanya aku mungkin akan menyamarkan nama ku?

__ADS_1


__ADS_2