Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bahagia


__ADS_3

"Apa kabar dinda?" tanya ku.


"Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana?" tanya nya.


"Alhamdulillah baik juga"jawab ku.


Dinda banyak berubah. Sekarang ia memakai hijab syar'i. Aku sampai hampir tidak mengenali nya.


"Kamu sama siapa?" tanya ku.


"Sendiri saja" jawab nya.


"Kok sendiri?" tanya ku lagi.


Raut wajah dinda berubah muram dan sedih.


"Kita cerita di luar ajja ya" ajak nya.


"Ok, setelah belanja bulanan ini kita ke cafe seberang sana yah" tunjuk ku.


"Oke" jawab nya.


......🌺🌺🌺......


Setelah belanja bulanan yugo menemani ku ke cafe seberang untuk ngobrol dengan dinda.


"Dinda, apa yang terjadi kepada mu? di mana anak mu?" tanya ku.


"Suami dan anak ku meninggal saat kecelakaan mobil tahun lalu, hanya aku yang selamat, apa aku pembawa sial" ujar dinda sedih.


"Hust, gak boleh ngomong begitu, tidak ada manusia yang membawa sial. Semua sudah takdir Allah. Ini cobaan untuk mu, ujian juga untuk mu, sabar" seru ku.


"Aku gak sanggup hidup di sana, terlalu banyak kenangan yang mengingatkan aku dengan mendiang suami dan anak ku maka nya aku balik ke sini. Suami ku yang baik dan soleh, ia bisa menerima keadaan ku yang tengah mengandung anak dari orang lain, ia juga yang mengubah ku untuk hidup lebih baik lagi, dia lah pahlawan ku, sekarang sudah tidak ada lagi, saat ini Aku kerja di warung makan klasik sudah 3 bulan yang lalu, maaf tidak langsung menemui mu, ayah ku juga sudah lama keluar dari penjara, jadi kami bisa hidup sama sama lagi" jelas nya.


"Yang tabah yah. Kapan ayah mu keluar penjara?" tanya ku.


"Eng, aku lupa. Maaf yah" jawab nya.


"Kalo mbah mu, bagaimana kabar nya?" tanya ku.


"Mbah juga sudah meninggal 2 tahun lalu, aku bener bener sedih dan terpuruk saat itu, syukur suami ku selalu menguatkan aku, tapi sekarang pahlawan di hidup ku pun sudah tiada" ucap dinda.


Aku turut sedih mendengar nya.


Terlepas dari segala Kemalang yang menimpa ku dan yugo masih banyak orang yang lebih menderita hidupnya di luar sana.

__ADS_1


Aku langsung mengucapkan syukur Alhamdulillah sebanyak banyak nya atas segala nikmat dan segala hal yang tak pernah aku syukuri dalam hidup ini.


"Ayah ku terlalu malu untuk menumpang hidup dengan mbah di kampung. Karena mbah itu mertua nya. Ayah juga terpukul saat tau ibu sudah meninggal, sekeluar dari penjara beliau ngekos" jelas dinda lagi.


Aku terdiam sesaat. Apa mungkin dinda yang mendonorkan sumsum tulang ke putra saat itu? ah tidak mungkin, dia saja tidak tau keadaan putra.


Yang paling masuk akal si clara sih, teman sekaligus tetangga nya putra di kampung.


Ah tidak ada salah nya aku mencari tau, dari pada penasaran, sudah bertahun tahun berlalu.


"Dinda, kamu tau putra pernah sakit keras, kanker darah?" tanya ku


"Apa?! jadi bagaimana sekarang kabar nya?" tanya dinda terkejut.


Melihat dari reaksi nya seperti nya bukan dinda.


"Sudah sembuh kok, udah sehat dia, sudah lama kok berlalu, ada orang baik yang mendonorkan sumsum tulang nya untuk putra. Tapi kami sampai sekarang belum tau siapa orang itu" jelas ku.


"Hmm, maaf yah, aku tidak bisa lama, soal nya ayah ku menunggu di rumah, aku belum masak. Mungkin beliau sudah lapar, lain kali kita ngobrol lagi ok" Dinda berdiri dan pamit.


"Nomer ponsel mu ganti kan? bagi dong" seru ku sebelum ia jauh.


"Oh, baik lah" Dinda kembali memberikan nomer ponsel nya dan pergi menjauh.


Apa dia tidak menganggap kami teman nya lagi.


"Dia siapa sayang?" tanya yugo penasaran.


"Ah, kawan lama ku, teman SMA. Teman putra juga" jawab ku.


"Ohh, aku tidak pernah melihat nya" ujar yugo.


"Yah karena ia putus sekolah dan pulang kampung tinggal bersama mbah nya" jelas ku.


"Oh pantas saja aku tidak pernah melihat nya, aku kan biasa melihat kalian, teman teman nya dimas. Waktu kalian ke vila dulu pun orang tadi tidak ada" ujar yugo.


"Iya sayang, itu karena dia sudah berhenti sekolah lebih awal. Saat masih kelas 2 kalau tidak salah. Aku pun lupa hehe" jawab ku.


"Oh, ya udah, pulang yuk" ajak yugo.


......🌺🌺🌺......


1 tahun berlalu aku sudah wisuda dengan hasil yang memuaskan. Lidya wijaya S.H


Cita cita ku menjadi seorang jaksa pupus sudah karena status ku yang sudah menikah. Menjadi seorang jaksa tidak boleh menikah sampai terangkat menjadi pns. Ya sudah tidak mengapa. Aku bisa jadi pengacara.

__ADS_1


Tapi saat ini aku masih menikmati menjadi ibu rumah tangga untuk suami dan kedua anak gadis kembar ku.


Dari kejauhan pak rudi hanya bisa melihat anak dan cucu nya bermain di taman dengan bahagia.


Ia terlalu gengsi untuk menyapa mereka.


Karena sudah terlalu lama ia tidak bersua dengan anak nya itu. Ia menutup rapat diri nya padahal ia sangat lah rindu.


Ia melakukan itu hanya ingin melihat ,apa kah yugo bisa membuat anak nya bahagia tanpa bantuan dari nya, apa kah anak nya bisa hidup tanpa diri nya. Dan semua terbukti bahwa anak nya bisa dan bahagia hidup bersama belahan jiwa nya.


Pak Rudi menyesal telah meninggal kan anak nya kesulitan, di saat anak nya justru sangat membutuhkan suport dari nya.


Pak Rudi membuka kacamata hitam nya dan menangis haru melihat anak nya bahagia bersama keluarga nya meski hidup nya sederhana tidak bergelimang harta. Hal yang tidak pernah pak rudi rasakan. Kebahagian dalam kesederhanaan.


Saat lidya menoleh ke arah pak rudi, pak rudi justru mengalihkan pandangannya.


Membelakangi mereka.


"Pak, kita harus segera ke kantor, ada rapat penting" ujar sekertaris pak rudi.


"Baik lah" jawab nya seraya pergi meninggalkan taman itu dan masuk ke dalam mobil mewah nya di dampingi sekertaris dan 2 orang bodyguard nya.


Aku sedang asik bermain dengan kedua putri ku yang sudah berusia 1 tahun lebih. Bersama yugo, suami ku.


Kami tersenyum bahagia.


Anak ku bernama Hana abidal dan Hani abidal.


Ikut marga ayah nya.


Sumiati sudah menjadi jaksa sekarang, sungguh aku iri karena setelah lulus aku hanya menjadi ibu rumah tangga.


Sumiati mendatangi ku di taman memakai pakaian formal nya, kemeja dan celana formal, dengan sepatu pantofel membuat Sumiati terlihat anggun.


Ia berlari memeluk ku.


"Kangen banget" ucap nya.


"Bagaimana kerjaan nya, lancar?" tanya ku.


"Yah begitu lah, setelah di pikir pikir ada hikmah nya aku tidak menikah muda, karena kalau tidak aku mungkin tidak bisa menjadi jaksa seperti ini" seru nya.


Aku tersenyum.


"Iya, semua ada hikmah dan rejeki nya masing-masing" jawab ku.

__ADS_1


__ADS_2