Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Malam Minggu.


__ADS_3

Aku memasuki ruangan papa.


Tanpa mengetuk dan langsung masuk, membawa berkas yang ia minta.


Papa tersenyum melihat ku datang.


Ada sekertaris di samping nya.


Senyum papa berubah bingung melihat penampilan ku. Jaket kulit, celana jenas hitam dan sepatu boot wanita berwarna coklat.


"Jangan pernah merepotkan ku seperti ini lagi!" ujar ku.


"Lihat lah betapa kasar nya dia ini" kata papa pada sekertaris nya.


Papa mendekati ku dan mengambil berkas itu.


"Lidya Wijaya, tidak terasa sudah sebesar ini, dia bahkan tidak memikirkan betapa merepotkan nya membesar kan diri nya selama ini, hanya di suruh begini ia bilang merepotkan, haha. Tapi anak ku cantik kan" seru papa.


Sekertaris papa hanya mengangguk.


''ih apaan sih, tugas ku sudah selesai, aku pamit, Assalamualaikum" seru ku sembari melangkah menjauh.


"Yah setidaknya dia sekarang tau cara nya berpamitan" seru papa lalu mulai menghubungi clien untuk miting.


Baru keluar dari ruangan papa, banyak pasang mata melihat ku. Sambil berbisik bisik.


Terlihat mba Nuraini berlari ke arah ku.


"De' Lidya, maaf yah tadi saya tidak mengenal anda" seru nya.


"Iya gpp kok, santai" jawab ku sambil mengibas rambut ku yang mulai panjang lagi. Bagai iklan shampo.


Semua mata menatap ku.


Keysha melongo melihat wajah ku yang sudah melepas masker.


"Ada apa Tante Keysha, kok bengong? aku terlalu cantik yah?" ejek ku.


Keysha tersadar dari lamunan nya.


"Ah, ternyata masih bocah" jawab nya.


"Apa?!" pekik ku.


"Iya bocah, dek pulang deh sana, sekolah yang Baik. Ini bukan tempat bermain" seru nya.


Nuraini mendekati kami dan mencubit lengan Keysha.


"Eh maaf yah, dia gak kenal kamu, kamu hati hati di jalan" seru Nuraini sambil menunduk hormat sambil memaksa Keysha untuk turut hormat kepada ku.


"Emang dia siapa sih? kenapa di kantor kita ada bocah berkeliaran sih?" protes Keysha.


Aku tersenyum tipis.


Aku hanya memberikan nya jempol ke atas lalu turun ke bawah sambil tersenyum sinis.


Membuat nya emosi tapi Nuraini menghentikan aksi nya untuk menyerang ku.


"Hentikan Keysha! dia anak nya pak Rudi! kau pikir sedang melawan siapa sekarang?" bentak Nuraini.


Keysha terkejut bukan main. Raut wajah nya berubah takut, ia sangat takut pada pak Rudi. Bos mereka.


"Mampus aku, anak itu gak akan melapor aneh aneh kan ke bapak nya?" seru keysha khawatir.

__ADS_1


"Entah lah" jawab Nuraini sembari Kembali keruangan nya.


Aku menyibak rambut ku. Melangkah menuju parkiran memakai helm dan mengendarai motor besar ku.


Sebagian karyawan yang kepo mulai mengintip dari balik jendela kantor.


"Keren banget gaya nya, bisa bawa motor gede" seru karyawan lain.


"Keren apa nya, biasa ajja tuh" jawab keysha masih tidak percaya.


"Haha bilang ajja Lo iri" seru yang lain.


Sesampai nya di rumah aku langsung masuk dapur, lupa makan siang.


......🌺🌺🌺......


Putra menjemur pakaian nya dan nenek nya.


Tante Luna mendekati nya.


"Putra ,kamu gak pulang? udah seminggu lebih kami di sini, apa mama mu gak nyari? apa lagi Tante dengar kamu sebentar lagi ujian nasional" seru Tante Luna.


Putra melirik sesaat sembari melanjutkan menjemur pakaian.


"Kasian nenek jika ku tinggal" jawab nya.


"Kan ada Tante yang menjaga nya ,gpp kok, aman, serahkan sama Tante, kembali lah sekolah" seru Tante Luna.


"Tante ngusir aku?" tanya putra.


"Eh gak gitu, Tante cuma khawatir sama sekolah kamu, Tante senang kok kamu di sini jaga nenek, tapi kamu gak bisa kan selama nya di sini" kata Tante Luna


"Hm, baik lah, lusa aku pulang" jawab putra.


"Kamu bisa kok jengukkin nenek, kapan pun kamu mau" ujar nya.


"Iya" jawab putra singkat, membawa baskom yang sudah kosong ke dalam, karena semua pakaian sudah ada di jemuran.


Diam diam bapak dan anak memperhatikan putra sedari tadi.


"Clara lihat lah, dia laki laki tapi tidak gengsi untuk menjemur pakaian, mantu idaman" seru pak Haris, bapak nya Clara.


"Iya bah, Clara tau kok" seru Clara.


Diam diam Clara memang menyukai putra, sahabat nya sejak kecil itu.


......🌺🌺🌺......


Malam Minggu kelabu.


Aku termenung sendiri di dalam kamar, bosan. Bukan saat nya belajar.


Tiba tiba papa masuk ke kamar ku.


Aku terkejut karena ia tidak mengetuk pintu.


"Ada apa lagi?" tanya ku.


"Ayo ikut papa ke pesta anniversary pernikahan temen papa" ajak nya.


"Apa?!" kok aku sih, kan bisa sama mama!" protes ku.


"Iya kita ber 3 pergi nya, cepat lah ganti baju, papa tunggu di bawah" seru papa.

__ADS_1


"Kenapa aku harus ikut!" aku mulai berontak.


Papa mendekati ku dan memegang dagu wajah ku.


"Dandan lah yang cantik. Jangan banyak protes" ujar nya.


Aku mendecak kesal lalu mulai beranjak dari tempat tidur.


Gak ada niatan sama sekali untuk jalan malam ini.


Ku raih sembarang gaun berwarna peach, tidak banyak polesan make up nya tipis ajja.


Aku turun ke bawah memakai tas selempang mini.


Papa tertegun memandang ku yang turun dari atas.


"Wah, cantik sekali anak papa ini" puji nya.


Mama memandang ku sembari tersenyum.


Kami masuk ke dalam mobil menuju tempat pesta itu.


"Anniversary pernikahan, ini kan acara nya orang tua, ngapain coba aku ikut, nda etis banget" celoteh ku selama di dalam mobil.


"Sudah deh, gak usah marah marah nanti cantik nya luntur" seru papa.


Mama dan papa saling melirik sambil tersenyum, seperti nya mereka sudah baikan, hm syukur lah kalo begitu.


"Sekilas info, jodoh mu itu nanti satu sekolah dengan mu Sekarang, keren kan" ujar papa.


"Apa!!" pekik ku. Hampir tersedak aku mendengar nya.


Papa tertawa melihat ku.


Acara nya di hotel bintang lima.


Aku mulai turun dari mobil melihat sekeliling.


Rata rata orang tua semua. Ih nda nyaman banget.


Papa merangkul ku.


"Ayo" ajak nya.


Kami ber 3 pun masuk ke dalam gedung.


Papa langsung mengajak ku untuk bertemu teman nya itu.


"Wah pak Rudi sekeluarga sudah datang" seru pak Eric Abidal, teman papa, lebih tua dari papa, beliau yang punya acara.


Ku lihat sekeliling dengan ekspresi datar.


Mewah. Kesan pertama yang ku lihat.


"Oh iya ini kenalkan anak ku , Lidya" seru papa ke om Eric.


"Wah cantik sekali kamu, jadi ini toh calon menantu ku?" Eric melirik papa.


Papa tersenyum sambil mengangkat jempol nya.


Calon menantu kata nya? cih , percaya diri sekali anda om Eric, batin ku.


Jelas nanti, aku akan menolak perjodohan dari papa.

__ADS_1


Enak ajja, emang nya jaman Siti Nurbaya.


__ADS_2