Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Undangan.


__ADS_3

"Lidya" seru papa.


Aku menoleh ke arah nya.


"Yah?" jawab ku singkat.


"Nanti malam temani papa ke acara nikahan teman papa" ajak nya.


"Ogah, kenapa gak sama mama" jawab ku.


"Jika dia bisa ngapain papa ajak kamu" balas nya.


"Emang kenapa dia gak bisa?" tanya ku.


"Dia ke rumah kawan nya, ada undangan pengajian malam ini" jawab papa.


"Hem, baik lah" Jawab ku.


Papa lalu tersenyum.


"Nah gitu dong, ini baru anak papa yang penurut" seru nya sembari mencubit gemas pipi ku.


Aku menepis tangan nya dan kembali ke kamar ku.


Malas banget. Huft.


Menjelang malam.


"Lidya, sudah jam segini, lama banget sih, cepetan!" pekik papa.


"Sabar" jawab ku dengan malas.


Aku turun tangga dan segera mengikuti nya.


Papa sendiri yang membawa mobil.


Sesungguhnya aku malas banget kemana mana.


Sesampai nya di lokasi aku segera turun dari mobil papa.


Ku pandangi gedung serba guna di hadapan ku.


"Ayo" ajak papa sedikit menarik lengan ku.


"Wah tampan sekali pak Rudi Wijaya ini, loh ini dengan siapa? cantik sekali, wanita mana lagi ini pak, haha, istri mu mana?" tanya rekan papa.


"Hust, ini anak ku, istri ku sedang sibuk juga ada undangan di tempat lain" jawab papa.


"Astaga, jadi ini anak gadis mu itu pak, ya ampun, seperti bukan ayah dan anak, seperti saudara" gombal nya.


"Alah, banyak kali cakap mu. mana yang lain?" tanya papa.


"Serius pak Rudi" jawab nya.


Seseorang menepuk pundak papa.


"Rudi Wijaya, kamu sudah datang rupa nya, mana calon menantu ku?" tanya pak Eric.


Aku terlindung di balik tubuh besar papa.


"Oh, ini dia, aku membawa nya" seru papa sembari menunjuk ke arah ku.


"Oh kiraen kamu gak berhasil membawa nya, aku juga membawa calon menantu kamu nih, dia baru saja wisuda, menyelesaikan S1, Dia akan melanjutkan S2 nya nanti" seru pak Eric seraya menepuk pundak Yugo.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah mereka.


Yugo yang sedari tadi mendengar obrolan para orang tua itu pun terkejut.


"Kamu?!" ujar nya.


Aku memasang senyum sinis.


"Loh kamu sudah kenal dia?" tanya pak Eric.


"Iya dia kan teman nya Dimas, si pembuat onar" jawab nya.


"Apa kau bilang?!" pekik ku.


"Wah bagus lah jika kalian sudah saling kenal, jadi gak sabar pengen lihat mereka nikah, iya kan pak Rudi" ujar pak Eric.


"Oh tentu dong pak Eric. Kita atur saja tanggal main nya, haha, tapi anak ku ini agak keras kepala orang nya jadi mohon bersabar yah" seru papa.


"Permisi sebentar yah om" seru Yugo pada papa.


Yugo menarik tangan ku menjauh dari para orang tua itu.


Aku menghempas tangan kasar itu.


"Apaan sih?!" pekik ku.


"Jadi kamu orang itu, wanita yang papa pilihkan untuk ku? jangan harap kita bisa menikah, aku sudah punya pilihan sendiri!" bentak nya.


Aku tertawa.


"Hey, siapa juga yang mau nikah sama kamu, ih gak level, cuihh" balas ku.


Yugo pun geram mendengar jawaban ku.


"Kembali kan handphone ku!" bentak nya.


Aku menyilang kan kedua lengan ku.


"Aku tidak membawa nya" jawab ku.


"Apa?! pekik nya.


"Kenapa juga aku harus membawa ponsel itu kemana pun aku berada?" jelas ku.


"Ya sudah sepulang dari sini aku akan mengikuti mu" jawab nya.


"Terserah" jawab ku sembari pergi kembali ke papa.


"Ciehh lagi obrolin apa sih pake menjauh segala" goda pak Eric.


Aku diam saja memasang tampang tidak suka.


"Haha, jangan begitu dong Lidya, jangan jutek gitu muka nya, ayo senyum" ujar papa.


Aku memaksa untuk senyum.


"Ayo kita beri selamat ke pengantin" seru pak Eric.


Aku hanya ikut langkah papa.


"Makasi banyak yah sudah datang" seru pengantin pria, teman nya papa.


Setelah itu papa mengajak ku mengambil makanan. Kami duduk berdekatan dengan pak Eric dan anak nya yang menyebalkan.

__ADS_1


Selesai makan bersama.


Papa masih duduk santai ngobrol dengan yang lain nya. Aku tiba tiba berdiri.


"Loh, mau kemana Lidya, papa belum mau pulang, setelah ini papa akan singgah ke tempat lain, kamu pulang sendiri gpp kan, nanti papa telepon supir" seru papa.


Yugo pun ikut berdiri.


"Biar saya yang antar dia pulang om, saya juga ingin pulang cepat" ujar Yugo ke papa.


"Wah bagus lah kalo begitu, titip Lidya yah, makasi yugo" jawab papa.


"Gak perlu, aku bisa pulang sendiri" tegas ku.


Yugo lagi lagi menarik lengan ku.


"Gak usah ge er kamu, bocah, aku antar kamu pulang Karena ponsel ku ada di rumah mu, jika bukan karena itu, aku juga gak Sudi antar kamu pulang" jelas nya.


Yugo sedikit memaksa agar aku mau di antar nya pulang.


"Sok jual mahal banget sih kamu, pelit kata" ujar nya sembari menyetir mobil.


"Memang mahal" jawab ku.


Yugo tertawa mendengar jawaban ku.


"Mahal?" kata nya mengejek.


"Iya, kau saja yang tidak tau biaya perawatan supaya aku bisa seperti ini, cantik seperti wanita pada umumnya" tegas ku.


"Haha, seberapa mahal sih?".tanya nya.


"Sudah lah, kau tidak akan mampu" jawab ku.


Tidak terasa kami sudah sampai di rumah ku.


Ia mengikuti ku masuk ke dalam rumah.


"Siapa yang menyuruh mu masuk, tunggu saja di luar" tegas ku.


Tapi ia tetap ikut masuk.


Ia pun menunggu di ruang tamu.


Aku segera naik ke atas kamar ku.


Lalu kembali turun.


"Rese yah kamu, udah di larang masuk, tapi gak dengar, nih ponsel mu?"ujar ku.


Ia lalu merampas dari tangan ku ponsel itu dan segera pergi keluar tanpa kata kata.


"Dasar gak sopan dan gak tau terima kasih" umpat ku.


Ia menoleh kembali ke arah ku sembari senyum jahat. Ku lihat jari tengah nya terangkat.


Aku memasang tampang jijik melihat nya.


Yugo tersenyum senang handphone nya sudah kembali.


Aku juga tersenyum jahat karena sebentar lagi ia pasti berkelahi dengan pacar nya.


Yugo segera menelpon Feby.

__ADS_1


Tapi tidak di angkat.


__ADS_2