
Tidak lama kemudian Tante Mona datang di antar supir.
Tante mon langsung di arahkan ke arah kantor guru. Sebagian anak mengintip dari luar.
Tari selaku korban pun di panggil ke ruang guru.
"Silahkan duduk dulu Bu" tawar pak Budi.
"Ada apa pak. Apa yang di lakukan anak saya sehingga di panggil kemari?" tanya Tante Mona.
"Anak ibu telah mencuri dan menghancurkan barang milik teman nya". jelas pak Budi.
Tante Mona tidak terkejut, dia sudah biasa mendapati putra nakal di sekolah nya..
Tante bernafas berat.
"Apa itu benar sayang?" tanya nya pada ku.
"Gak tan, eh mama, itu tidak benar, aku tidak pernah mencuri barang milik orang lain, untuk apa aku mencuri? aku bahkan tidak pernah kekurangan apapun" jelas ku.
"Bukti nya hp yang hilang ada di dalam tas milik anak ibu" kata pak Budi.
"Lalu, apa benar kamu merusak barang milik teman mu itu?" tanya Tante Mona.
"Kalo itu sih benar, karena aku emosi di tuduh mencuri" jelas ku.
Tante Mona menghela nafas berat dan pasrah.
"Jika begitu beri saja sangksi sesuai hukum yang berlaku di sekolah ini" ujar Tante Mona pasrah ke pak guru.
Aku menatap nya kesal. Apa lagi ke tari.
Ia tersenyum sinis ke arah ku.
Aku membalas nya dengan tidak kalah sinis.
Dan pada akhir nya aku di skors selama 1 Minggu dan mengganti Handphone tari. Mengganti ponsel nya sih gampang tapi nama baik ku hancur. Belum lagi pertandingan voli yang di nantikan oleh ku. Lagi lagi aku mengecewakan mereka.
"Pak, saya mohon ijinkan Lily ikut pertandingan meski sedang di skors. Dia hanya ikut pertandingan, bukan belajar di kelas kan?" seru Wulan memohon ke guru wali kelas ku.
Kali ini guru BK tidak ikut berperan, semua di lakukan oleh wali kelas ku. Ia percaya diri untuk mengurus anak anak murid di kelas nya.
"Baik lah" jawab pak Budi.
Keesokan hari nya.
Aku turun ke bawah tanpa memakai seragam.
"Loh kamu gak sekolah?" tanya putra.
"Panjang ceritanya" jawab ku. Baru Tante Mona yang tau masalah ku.
__ADS_1
Aku mengambil buah di meja.
"Kamu tidak ke sekolah?" tanya papa.
"Tanya ajja sama Tante Mona" seru ku santai.
Papa dan putra menatap Tante Mona dengan heran.
"Maaf yah sayang, Lidya memang seperti itu, agak kasar, butuh waktu seperti nya agar dia bisa berubah" jelas papa.
"Eh gak apa apa mas, aku maklum kok, dia itu hanya kurang kasih sayang dari orang tua" jawab Tante Mona.
"Kurang di didik akhlak juga, apa dia buat masalah di sekolah?" tanya pak Rudi.
"Sedikit, tapi Masalah nya sudah selesai kok, dia hanya sedang menjalani hukuman nya" kata tante Mona dengan lembut.
"Jadi itu yang membuat nya tidak masuk sekolah?" tanya putra.
"Iya, dia di skors selama 1 Minggu" jawab Tante Mona lesu.
Aku kembali lagi untuk mengambil air minum.
"Lidya, sini kamu!!!" bentak papa. Ku lihat raut wajah amarah nya.
Aku melirik nya sesaat lalu meletakkan kembali air dalam gelas yang akan ku minum.
"Mas!" Tante Mona menggeleng kan kepala sambil tangan nya menahan papa.
Aku tidak jadi minum. Aku kembali ke kamar ku.
Putra melihat ku prihatin lalu mengikuti ku.
Putra masuk ke kamar ku.
"Kamu kenapa Lidya?"tanya putra.
"Gak papa, pergi lah ke ke sekolah, nanti terlambat" jawab ku.
"Masih setengah jam lagi ke sekolah, ada masalah apa di sekolah mu?", tanya putra.
"Aku merusak barang milik teman ku" jawab ku.
"Kok bisa. Karena apa?" tanya nya lagi.
"Aku marah karena di tuduh mencuri, sedang aku tidak melakukan nya, untuk apa aku mencuri? kau lihat sendiri aku tidak pernah kekurangan apa pun" seru ku.
"Ohh, sabar yah, tapi meski begitu, sebaik nya kamu tidak merusak barang milik nya" kata putra.
"Yah, nama nya juga orang lagi emosi" Jawab ku.
" Ya sudah, aku berangkat ke sekolah dulu, belajar lah di rumah, jangan main handphone terus" nasehat nya.
__ADS_1
"Iya bawel" seru ku.
Putra pun beranjak dari kamar ku.
Menjelang siang jam pulang sekolah, ku pakai seragam voli ku, aku ke sekolah untuk latihan voli bersama tim ku.
"Aku akan tunjukan pada mereka yang selalu meremehkan club voli, bahwa kami ini gak menang tampang doang tapi memang punya kelebihan" batin ku.
Selepas latihan yang melelahkan aku terduduk di sudut lapangan, ku teguk air mineral.
"Makasih yah sudah mau berlatih segiat ini" ujar Wulan.
"Iya sudah seharusnya, ayo kita buktikan kekuatan kita agar club ini tidak di pandang sebelah mata lagi oleh murid dan guru di sekolah ini" seru ku.
"Ya ampun aku terharu banget mendengar nya" jawab Wulan sambil memeluk ku erat.
Semua Anggota club pun mendekati kami dan ikut berpelukan.
Kami memang sedang cladi resik. Latihan terakhir sebelum besok bertanding. Kami pun berdoa bersama.
"Jaga kesehatan dan stamina yah semua" nasehat Wulan selaku kapten tim.
Hari mulai petang, langit semakin gelap.
Aku pun pulang kembali ke rumah mempersiapkan diri untuk besok, istirahat lebih awal dari biasa nya.
Keesokan hari nya. Waktu pertandingan pertama melawan SMA 7.
Kebetulan perlombaan ini tuan rumah nya adalah SMA cahaya, sekolah lama ku. Di adakan di gedung khusus olahraga milik SMA cahaya.
Aku hapal benar tata letak sekolah ini.
Ku lirik murid murid yang tidak asing di mata ku. Kegiatan belajar mengajar di percepat sampai jam 12 siang saja. Semua murid berhamburan keluar kelas menuju gedung olahraga untuk menonton pertandingan persahabatan antar sekolah yang ada di kota ini. Hampir seluruh sekolah ikut serta.
Ku kuncir rambut ku jadi 1. Agar tidak menghalangi penglihatan ku selama pertandingan. Beberapa murid dari sekolah lain pun ramai berdatangan. Termasuk dari sekolah ku, dengan seragam khas nya.
Aku melihat Bimo dan Siska sudah duduk manis di tribun mini gedung olahraga ini, mereka membawa cemilan dan minuman seperti orang sedang kencan di bioskop.
Hati ku panas seketika.
Ada Reno juga, mantan ketua OSIS sekolah cahaya, sudah di gantikan yang lain karena dia sudah kelas 3 dan fokus ujian.
Reno dan kawan kawan nya duduk juga di tribun.
Ku lihat Adit Dimas dan Maisaroh baru hadir untuk mendukung kami. Tentu nya hanya sedikit yang datang dari sekolah ku, karena memang club' voli di pandang sebelah mata oleh mereka, bahkan guru guru pun enggan menonton kami. Hanya pelatih kami saja satu satu nya guru yang ada.
Pertandingan akan di mulai jam 1 siang ini.
Ku lihat semua orang yang pernah membully ku dulu, termasuk club' voli di sekolah ini, mereka duduk di bangku penonton karena memang belum giliran mereka bertanding.
Ku akui club' mereka kuat. Karena selalu menang juara 1 setiap perlombaan di mana pun. Semua orang juga tau dan mengakui bidang olahraga SMA cahaya itu kuat.
__ADS_1