
Jerman.
Putra menatap jendela kaca rumah sakit, mengintip perawat dan dokter yang lalu lalang di luar sana.
Ingin sekali ia menghubungi Lidya tapi tidak bisa. Ia ingin Lidya bisa melupakan perasaan pada nya.
Putra sedang berada di Asklepios Klinik Barmbek, Jerman.
Berlokasi di Hamburg, Jerman, Asklepios Klinik Barmbek merupakan rumah sakit swasta terbesar di Eropa.
Rumah sakit ini memiliki lebih dari 100 fasilitas dan teknologi medis yang belum dimiliki oleh rumah sakit lainnya di dunia.
Ia sedang di rawat di sana. Bukan karena akan berkuliah, niatan nya dulu memang seperti itu tapi karena ia sakit, ia harus di rawat di sana hingga sembuh baru bisa berkuliah.
Semua fasilitas di sana papa yang membiayai.
Putra merahasiakan sakit nya itu pada Lidya, ia tidak ingin Lidya kepikiran, ia ingin Lidya bahagia tanpa dia. Karena dia sendiri tidak tau akan bertahan berapa lama lagi untuk hidup di dunia ini.
Putra mengidap kanker darah, sama seperti ayah nya dulu. Ia ingin segera di rawat. Ia sudah mendiskusikan hal ini pada papa dan mama, tapi ia meminta untuk di rahasia kan dari Lidya.
Putra juga sudah Pasih berbahasa Inggris karena jauh sebelum berangkat ke Jerman ia sudah kursus bahasa Inggris dan Jerman.
Seorang perawat masuk ke ruangan putra untuk mengecek.
"Hey putra, was beschwerst du dich heute?" Seru wanita itu.
(Hay putra, apa keluhan anda hari ini?)
Putra kebingungan. Ia belum fasih berbahasa Jerman.
"I'm not fluent in German, can you just speak English?" protes putra pertama polos.
(saya tidak fasih bahasa Jerman, bisa kah anda berbahasa Inggris?).
"Haha, ok, i can" jawab nya sembari tertawa.
Perawat itu pun mengecek kondisi putra.
"You have to get a donor immediately if you want to get well" seru perawat itu.
(Kamu harus segera mendapatkan pendonor jika ingin sembuh).
Obrolan mereka berlanjut, perawat itu mencatat sesuatu di kertas laporan nya.
Putra menatap nya lesu.
......🌺🌺🌺......
Aku berlari mencari Maharani dan Tante nya.
"Hay, kamu kemana saja, kami udah nungguin loh dari tadi" proses Maharani saat melihat ku muncul.
"Eh itu tadi ke toilet" jawab ku bohong. Karena tidak mungkin kan aku bilang sedang di lamar dimas tadi. Aku tidak ingin ada kesalahan pahaman atau gosip. Aku tidak suka menceritakan kehidupan pribadi ku, bagi ku hal percintaan atau perasaan itu adalah privasi.
"Oh, ya sudah ayo, Tante Sifa udah nungguin tuh, acara perpisahan juga udah selesai" seru Maharani.
__ADS_1
"Iya deh, bawel banget sih" jawab ku.
Baru selangkah kami berjalan, teman teman dari club' berhamburan memeluk ku.
Mereka minta foto bareng buat kenangan.
Aku menatap tidak enak pada Maharani.
"Maaf ya Rab, sebentar ajja kok" seru ku.
Maharani mengangguk dan berusaha memahami posisi ku.
Tidak hanya itu, kemudian berdatangan adik adik kelas dan junior di club voli pun menyerbu untuk bisa berfoto dengan ku.
Berasa jadi artis dadakan.
Syukur tadi sudah berfoto dengan kepala sekolah dan wali kelas ku. Mereka akan memajang foto ku di Mading. Dan hanya mereka yang masih bersekolah yang akan melihat nya.
Semoga menjadi motivasi untuk adik kelas. Aku juga tidak menyangka akan menjadi juara umum. Aku akhirnya bisa mengalahkan Bimo. Padahal level ku jauh di bawah nya. Mungkin ini berkat kerja keras, bukan bakat kepintaran. Kerja keras akan mengalahkan bakat.
Setelah selesai berfoto. Aku menatap sesaat melihat ke seluruh penjuru sekolah ini.
Selamat tinggal sekolah penuh kenangan.
Ku usap air mata ku dan berlari menuju tempat, Maharani dan Tante Sifa menunggu ku.
"Maaf banget yah Tante, sudah menunggu lama" seru ku tidak enak.
"Iya gpp, maklum saja, kamu kan artis hahaha" jawab Tante Sifa.
"Ah bisa ajja, artis dadakan" jawab ku. Kami pun tertawa.
"Loh, kiraen kita naik angkot ajja" seru Tante Sifa polos.
"Kan ada mobil, ngapain naik angkot?" jawab ku.
Maharani pun menceritakan tentang aku yang punya mobil dan bisa mengendarai nya sendiri ke sekolah atau kemana pun.
Aku pamit ke parkiran.
"Wah ,keren banget yah teman kamu ran, bisa bawa mobil. Cewek, masih muda pula, pasti anak orang kaya" celoteh Tante Sifa, rambut pirang maroon nya bergerak tertiup angin.
Maharani hanya tersenyum ringan Mendengar Tante nya.
Mobil ku berhenti tepat di hadapan mereka dan menyuruh mereka untuk masuk.
"Ayo" ajak ku.
Mereka pun masuk ke dalam mobil.
"Kita kemana ini Tan?" tanya ku.
"Kalian mau kemana?" tanya nya balik.
"Kedai pelangi ajja deh" ujar Maharani.
__ADS_1
Aku pun belok ke arah kedai pelangi.
"Lidya, kamu kok bisa cantik banget, pintar, pandai bawa mobil, sempurna banget" ujar Tante Sifa.
Maharani sampai harus mencubit lengan Tante nya takut aku tersinggung.
"Ah, gak ada manusia yang sempurna kok Tan, ini hanya titipan dari Tuhan" jawab ku.
"Tuh kan, udah gitu baik lagi, ya ampun, beruntung banget deh yang dapetin kamu nanti" seru nya.
Aku tersenyum.
"Haha Tante bisa ajja deh" seru ku.
Kedai pelangi tidak jauh dari sekolah kami. Kami sering jajan di sana ketika pulang sekolah atau sekedar nongkrong bersama teman teman.
"Kita sudah sampai nih" kata ku.
Kami semua turun dari mobil.
Melangkah ke masuk. Ku lihat ada seseorang yang tidak asing di sana. Kenapa ada dia sih. gerutu ku.
"Loh kok tiba tiba berhenti? ada apa?" tanya Maharani bingung.
Maharani menatap ke arah dalam kedai memastikan apa yang aku lihat.
"Mr.galak ?" seru Maharani.
Aku mengangguk kesal.
"Kenapa berhenti di sini, ayo" ajak Tante Sifa sembari menarik tangan kami berdua untuk masuk.
Dengan terpaksa kami pun mengikuti Tante Sifa.
Kedai pelangi terkenal dengan es serut, es cream dan kopi nya yang enak. Maka nya selalu ramai.
Sekali melihat saja aku sudah sangat kesal dengan orang itu.
Tante Sifa menyuruh kami ambi tempat duduk dan dia yang memesan.
"Kalian mau jajan apa?" tanya nya.
"Aku es serut, sama burger king yah" jawab Maharani.
Tante Sifa menatap ku.
"Eh, aku es cream strawberry deh sama burger biasa." seru ku.
"Baik lah" jawab nya lalu pergi memesan.
Pria arogan itu menatap ke arah kami . Aku lalu berbalik agar ia tidak mengenali kami.
Tidak lama kemudian Tante Sifa datang membawa nampan berisi pesanan kami.
Ia sendiri tidak memesan apa apa.
__ADS_1
"Loh Tante gak pesan? masa cuma kami yang jajan?" protes ku.
"Gpp kok, Tante sudah kenyang tadi sudah makan di rumah sebelum ke sekolah kalian" jawab Tante Sifa bohong.