
Setelah puas bermain di rumah Jeny kami pun pulang ke hotel.
Keesokan hari nya. Aku sekeluarga jalan jalan ke pantai amal Tarakan.
Lumayan lah pemandangannya.
Kami makan kerang kapah dengan sambal jeruk, ada juga udang, enak banget rasa nya. Makanan seafood khas di sana. Ada es kelapa dan kelapa muda utuh.
Puas berkembang pantai kami tidak lupa berfoto ria.
Menjelang petang kami pun pulang.
Malam ini rencana kami akan ke restoran lemakan samudra, restoran pinggir laut.
Karena kota ini memang di kelilingi laut.
Ah liburan yang menyenangkan.
"Kamu suka dengan kota ini?" tanya putra.
Aku mengangguk.
Lelah berjalan seharian kami pulang dan istirahat di kamar hotel masing masing.
......🌺🌺🌺......
Esok nya tidak ada jadwal jalan dari papa. Mereka ada pertemuan dengan keluarga mama.
Kami tentu di bawa ke sana. Sungguh membosankan.
"Hey, kok murung gitu" seru jeny.
"Bosan banget" jawab ku.
"Sabar, setelah ini nanti ku ajak jalan jalan deh" ajak nya.
"Em baik lah" jawab ku.
"Ikuut" seru putra yang ternyata mendengar percakapan kami.
"Bonceng 3? kan aku cuma punya motor" protes Jeny.
"Haha, ya gak lah, nanti aku pinjam motor om adin ajja" ujar putra.
"Terserah deh" seru Jeny.
Setelah selesai pertemuan keluarga yang membosankan itu kami pun melaju jalan jalan.
Mumpung masih siang.
"Kita kemana?".tanya ku.
"Hutan mangrove" seru Jeny.
"Hutan???" batin ku.
__ADS_1
Tidak jauh ternyata letak nya, tidak sejauh pantai amal kemarin.
Ketika masuk aku pikir hutan mangrove itu seperti apa karena memang sebelumnya tidak pernah ke hutan mangrove. Ternyata seperti ini.
Jeny membeli jajanan di luar dan minuman botol dingin kepada kami.
"Bagaimana? adem kan di sini", seru Jeny.
"Yah. Lumayan lah" jawab ku.
Ku amati sekeliling. Putra lalu menarik tangan ku mendekat di sisi nya.
"Jen' fotokan kami dong" seru putra.
"Ok, siap" jawab Jeny sembari menyiapkan kamera nya.
Banyak pose konyol kami, sampai pose romantis.
"Eh tunggu tunggu, kok kalian cocok deh, tapi kalian sodaraan haha" ejek Jeny.
Aku hanya senyum ringan. Jeny salah. Hanya aku yang menyukainya putra. Putra tidak.
Aku juga harus sadar diri.
"Jen, kamu bisa pulang sendiri, aku mau ajak Lidya ke tempat lain" ujar putra.
"Haha ngusir nih Yee, iya iya. Lagian aku juga ada perlu kok" jawab Jeny sembari pamit untuk pulang.
"Have fun" seru Jeny, ia melambaikan tangan nya.
"Di mana ajja yang penting ada kamu" ujar putra tiba tiba.
Aku pukul pundak nya.
"Alay Lo. Gombal!" pekik ku.
Dia pun tertawa.
"Gombalin saudara sendiri kan boleh haha" ejek nya.
"Terserah Lo deh put" balas ku.
Kami keluar dari hutan mangrove, memakaikan aku helm, seketika aku teringat Bimo, ia dulu selalu memperlakukan ku seperti ini.
Aku gak boleh kalah dengan kenangan. Ini kenangan baru yang mungkin kelak hanya bisa ku kenang saja.
Aku duduk di atas motor matic milik om nya putra. Motor melaju pelan, ku peluk putra dari belakang.
Kami pulang sejenak untuk sholat ashar, lalu jalan lagi.
Sesampai nya di tujuan ,aku melihat tulisan besar di taman itu, Taman berlabuh. Aku tersenyum sesaat. Berlabuh?
Putra mengajak ku ke ujung taman, terlihat lah hamparan laut dari atas taman. Senja yang indah.
"Selfi yuk" ajak ku.
__ADS_1
Putra menurut. Kami berpegangan tangan sekarang.
Aku melepaskan pegangan tangan kami.
"Maaf putra. Aku gak mau salah paham" seru ku.
"Maksud nya? salah paham bagaimana?" tanya putra.
"Salah paham mengira kau menyukai ku, bukan sebagai saudara tapi sebagai wanita yang kau cintai" jelas ku.
Hening sesaat di antara kami.
"Kau gak salah paham kok" jawab putra.
"Maksud nya?" tanya ku.
"Aku memang menyukai mu sebagai wanita, bukan sebagai saudara" jelas putra.
Aku sungguh tidak menyangka dengan pernyataan dari putra ini.
Matahari semakin turun kebawah, seolah akan tenggelam dalam lautan.
"Tapi....." putra memegang tangan ku, menaruh telapak tangan ku di dada nya.
"Maaf kah aku mencintaimu Lidya" ujar nya.
Jantung ku sungguh berdegup sangat kencang saat ini. Wajah ku merona, tapi aku berusaha menetralkan perasaan ku.
"Cinta kita terlarang" tegas ku.
"Kita? kau juga menyukai ku?" tanya putra.
Sungguh aku malu untuk menjawab nya tapi aku tidak bisa berbohong lagi.
Aku hanya bisa mengangguk perlahan.
Kami lalu berpegangan tangan lagi.
"Tapi kita ini saudara putra. Kita gak mungkin berhasil" seru ku.
"Aku tau itu" jawab putra singkat.
Sepanjang jalan kami berpegangan tangan menuju parkiran.
Putra memakai kan helm pada ku.
Sudah petang, sebentar lagi magrib.
Kami segera pulang ke hotel.
Hati ku berbunga-bunga saat ini tapi..... Aku sadar, cinta kami ini rumit. Aku gak tau akan seperti apa kami nanti nya. Cinta kami terlarang.
Ku pandangi langit langit hotel.
__ADS_1