
Aku kembali ke dalam kelas.
Semua masih sibuk bercerita tentang persiapan camping Minggu depan.
"Kamu dari mana,kok tadi buru buru banget keluar kelas?" tanya Adit.
"Eh ada perlu di luar", jawab ku
"Perlu apa?" tanya nya lagi
"Harus kah aku beri tau segala aktifitas ku?", aku mulai kesal dengan Adit.
"Ya udah sory" jawab nya.
Maisaroh langsung merangkul ku.
"Hemm lagi ngomongin aku yah" seru Mai.
"Ih ge er banget sih" jawab Adit.
Aku hanya tersenyum.
"Laper nih, makan yuk di kantin" ajak Mai.
"Ini kan masih jam pelajaran mai?" tolak ku.
"Iya sih, tapi kan jam pelajaran nya kosong di kelas kita, gak ada guru" bantah Mai lagi.
"Kamu ajja deh" tolak ku.
"Ih gak seru lah, diet kamu, gak kan, ayok" paksa Mai.
Aku pun dengan berat hati ikut Mai menuju kantin sekolah.
"Wow ada monster plastik nih di kantin" seru Jesika, Kakak kelas kami.
Aku hanya diam. Maisaroh sudah siap berdiri untuk membalas jesika tapi aku menahan nya.
Jesika datang dan menaruh makanan nya di depan ku.
"Suatu kehormatan bisa duduk di meja yang sama dengan monster plastik yang terkenal ini" seru Jesika.
Jesika bersama anggota nya yang terdiri dari 5 orang itu mulai mengganggu ku.
Aku masih diam dan melarang Mai bertindak membalas mereka. Aku gak mau Mai bermasalah karena aku, seperti yang di alami Dimas dulu.
"Bisu yah, haha gak bisa ngomong karena malu kali yah, ambil korek, plastik kalo kena api biasa nya cocok" seru Jesika.
2 orang Manahan Maisaroh. Sementara 2 yang lain menarik ku ke belakang sekolah.
Jesika sudah memegang korek tangan nya.
"Mau apa kamu!!" pekik ku.
"Cari hiburan, bosan banget gak ada yang di bully. Hampa rasa nya sekolah ini" seru Jesika sambil menyalakan korek dan mendekatkan nya ke arah ku.
"Hentikan!!!" pekik ku berusaha kabur tapi dua orang itu memegang ku kiri kanan.
__ADS_1
Jesika mengambil rambut panjang ku yang ku ikat jadi satu. Lalu ia menyalakan korek api nya. Api itu mulai membakar ujung rambut ku.
Aku berteriak histeris.
Jesika tertawa terbahak bahak melihat ku panik.
Api itu bejalan cepat membakar rambut ku
"Heh anak bawang, harus nya kau tidak bertindak sejauh itu, kau pikir dengan memenjarakan pacar ku kau bisa lolos dan hidup damai? akan ku pasti kan selama aku masih di sekolah ini kau terima akibat nya" jelas Jesika.
"Apa maksud mu?" tanya ku. Masih dengan panik nya. Itu hampir membakar kepala ku.
Jesika lalu menyiram kan ku air mineral. Memadamkan api yang sudah membakar separuh dari rambut ku.
"Jangan berlagak amnesia, kasus maimunah yang sudah lama di tutup kenapa kau membongkar nya, salah satu pelaku adalah pacar ku, jangan sok jadi pahlawan kesiangan!!!" pekik Jesika.
Aku terkejut mendengar nya.
"Sudah sepantasnya dia mendapat hukuman karena tindakan kriminal nya itu!!!" pekik ku.
"Masih bisa melawan kamu anak bawang!!!" Jesika mulai marah dan menampar ku keras, membuat wajah ku merona merah.
Setelah puas mengerjai ku mereka pun kembali ke kantin. Maisaroh segera mencari ku.
Dia dapati aku sedang terduduk dengan rambut yang terbakar berantakan.
"Astaga ,apa yang terjadi???" tanya Mai.
"Mereka hanya iseng" jawab ku dan menghindari Mai.
Ku sisir rambut berantakan ku di dalam toilet.
Aku ke UKS meminjam gunting.
Ku gunting sisa Bakaran rambut ku. Rambut ku jadi sangat pendek. Nanti aku rapikan di salon, setidak nya bekas Bakaran itu hilang.
Aku kembali ke kelas, masih tidak ada guru. Aku ambil ransel ku dan ijin pulang. Adit terkejut melihat rambut ku. Syukur aku pakai jaket, aku menutup kepala ku dengan penutup kepala dari jaket Hoodie ku.
Aku mengendarai mobil ku menuju salon langganan ku.
Aku segera turun dan masuk ke dalam. Sedang sepi.
"Aduh anak sultan, itu rambut nya kenapa?" tanya Yuyu bingung. Yuyu adalah banci salon yang terkenal di kota ini. Salon nya besar dan punya banyak anak buah. Tapi selama di sini aku selalu dia yang melayani.
Yuyu tau aku anak dari Rudi Wijaya karena papa kenalan nya.
"Ada masalah sedikit di sekolah, tolong yah di rapikan" seru ku.
"Gampang itu, tapi jadi potongan blow gitu seperti polwan gak apa apa?" tanya nya.
"Sembarang deh yang penting rapi" jawab ku.
"Sip" Yuyu mulai memotong rambut ku.
"Rambut model bagaimana pun pasti cantik deh di kami yang sekarang ini" goda Yuyu.
"Hem, jadi aku yang dulu gak cantik gitu?" tanya ku.
__ADS_1
"Gak gitu juga kali" jawab Yuyu.
"Yu, sekalian deh aku mau perawatan. Full satu badan, creambath, lulur, spa dan lain lain" pinta ku.
"Siap" jawab nya.
Hampir 4 jam lebih waktu ku habis perawatan di salon. Segar sekali rasa nya.
Menjelang magrib aku pulang ke rumah.
Melihat rambut baru ku papa diam saja, dia sudah biasa melihat ku ganti model rambut.
Justru Tante Mona yang histeris.
"Astaga Lidya, ada apa dengan rambut mu, kenapa pendek sekali?" tanya nya.
"Gpp, bosan ajja dengan rambut panjang" jawab ku.
Aku segera naik ke lantai atas kamar ku.
Aku lihat putra sudah siap untuk ke masjid.
"Eh putra. Nanti ajari aku sholat dan mengaji yah?" pinta ku.
Putra mundur, ku pikir dia tidak mau.
"Jangan sentuh, aku sudah berwudhu" jawab nya.
"Eh maaf, lupa, mau kan?" tanya ku lagi.
"Iya iya, nanti ya selepas sholat isya baru aku ajari" jawab nya.
"Siap" seru ku.
Putra tidak pulang. Mungkin selepas isya baru dia akan pulang.
Dari balkon aku lihat putra sudah pulang.
Aku pun turun mengajak nya makan malam sebelum belajar.
"Astaga , aku lupa sama Dinda" pekik ku di sela makan malam.
"Aku ada teman yang tinggal d sekitar sekolah nanti aku bertanya pada nya" seru putra.
"Tapi Dinda kan hamil, bagaimana dong, jika pihak sekolah tau dia pasti di keluarkan?" tanya ku khawatir.
"Iya sih, apa dia tidak punya keluarga tempat nya pulang" pikir putra.
"Ibu nya meninggal kemarin saja tidak ada yang datang, miris sekali" balas ku.
"Dinda harus menikah" tegas putra tiba tiba.
"Menikah? dengan siapa, pak Rio kak di penjara dan Dinda tidak mau dengan nya" kata ku.
"Entah lah, maksud ku jika dia menikah pasti dia ada yang nafkahi dan mengurus nya", solusi dari putra memang benar tapi apa ada pria yang mau menikahi perempuan yang sedang hamil anak orang lain?
__ADS_1