Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Part Maharani.


__ADS_3

Aku menatap gedung lapas tepat di depan kami.


Maharani memegang erat makanan dan perlengkapan mandi yang kami bawakan untuk Mai.


Sebulan sekali kami mengunjungi nya.


Sesampai nya di dalam.


Tidak seperti dulu Mai selalu marah melihat kami datang. Sekarang wajah nya sudah lebih bersahabat.


"Aku gak minta kalian untuk selalu datang menjenguk ku, apa kalian tidak malu punya teman seorang psikopat seperti ku" seru Mai.


Waktu kami ngobrol tidak banyak.


"Gak malu sama sekali kok, bagaimana pun keadaan nya kamu tetap teman kami" ujar ku.


"Iya Mai, maaf hanya ini yang bisa kami lakukan, semoga Tuhan menerima taubat mu, dan semoga kamu bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi" seru Maharani sedih.


Waktu kami sudah habis. Kami pun pamit pulang.


Terdengar Mai hanya bisa menangis menyesali perbuatannya. Ia tidak berpikir panjang waktu itu.


Aku dan Maharani menyusuri jalanan lengan sekitar lapas.


"Makasih yah lid, udah mau temani aku jengukkin Mai setiap bulan nya" ujar Rani.


"Mai juga teman ku kan? tidak perlu berterima kasih" seru ku.


Ku lihat Maharani mulai aneh.


Dan aku sudah terbiasa dengan Keanehan nya itu.


Biasa lah, jika ia melihat sosok gaib.


"Lidya, aku kesana bentar yah, tungguin" seru Maharani.


Aku hanya mengangguk ringan.


Aku menunggu Maharani yang pergi entah kemana.


Di bawah pohon berteduh, siang ini panas sekali.


Kami masih memakai seragam sekolah kami.


Tukang es cream lewat. Aku segera membeli nya.


Lumayan mendinginkan suasana. Pikir ku.


Maharani lama banget sih.


Es cream ku bahkan sudah habis.


Ku seka keringat di kening ku. Wajah ku mulai merona karena cuaca yang sangat panas.


Maharani pun akhir nya datang.


"Lama banget sih!" pekik ku.


"Hehe maaf, aku sedang kasi makan kucing dan anjing liar di sekitar sini" ujar Maharani.


"Kenapa gak ajak aku, aku kan bete nungguin kamu lama" seru ku.


"Aku takut kamu gak suka kucing dan anjing" jawab Maharani.

__ADS_1


"Biasa ajja sih, di bilang suka nda juga, di bilang benci nda juga" protes ku.


Kami pun menyusuri jalan yang panas ini.


Menuju tempat kami parkir kan mobil.


Sudah jam 3 tapi cuaca masih panas membakar.


Ku antar Maharani pulang ke rumah nya.


Aku baru sadar selama berteman baru kali ini Maharani mau aku antar pulang?


Aku bahkan tidak pernah ke rumah nya yang misterius itu.


Maharani banyak diam, sesekali bersuara hanya untuk memberi petunjuk arah jalan ke rumah nya.


Sesampai di lokasi Maharani menawari ku untuk mampir ke rumah nya.


Ini kesempatan bagus.


Kapan lagi aku bisa ke rumah Maharani?


Aku parkir kan mobil agak jauh di luar, karena rumah nya masuk gang kecil setapak.


Sesampai nya di rumah Maharani, espektasi ku pikir rumah nya terkesan angker.


Tapi justru sebalik nya.


Sekitar rumah Maharani ramai sekali tetangga nya.


Seperti perumahan bangsal atau kelas bawah.


Rumah Maharani bahkan berdempetan dengan rumah lain, bercat warna pink terang terkesan ceria dari luar.


Dengan agak ragu aku pun masuk ke rumah nya, tetangga mulai berbisik saat kami lewat tadi.


Seorang wanita paruh baya keluar.


Perawakan nya aneh, rambut nya pirang maroon, makeup nya tebal, menor sekali.


"Eh ran, tumben bawa teman kemari, ada juga ternyata teman mu" ujar wanita itu.


"Hey Tante, salam kenal, saya Lidya" seru ku memperkenalkan diri.


"Oh iya iya, syukur lah Rani punya teman, Ran, aku pergi kerja dulu. Jangan lupa panasin makanan nya" Seru wanita itu sambil menyambar tas Selempang milik nya lalu pergi.


"Dia bukan ibu ku" seru Maharani tanpa aku bertanya. Seolah dia tau apa yang ada di pikiran ku.


"Jadi siapa kamu?" tanya ku.


"Dia Tante ku, orang tua ku sudah meninggal" ujar Maharani.


Astaga, aku bahkan baru mengetahui hal itu, teman macam apa aku ini.


"Oh maaf" seru ku.


"Maaf kenapa? ayo masuk. Tante pasti sudah masak" ajak nya.


Aku mengikuti Maharani ke kamar nya.


Kamar Maharani rapi. Setelah itu Maharani mengajak ku untuk ke dapur untuk makan?


"Ini sih bukan makan siang?" seru ku.

__ADS_1


"Iya, kita melewati makan siang. Gpp, ayo kita makan, jangan sungkan, aku hanya tinggal berdua dengan Tante" ujar Rani.


Aku pun menurut saja meski aku tidak merasa lapar, tapi untuk menghargai Maharani aku pun mulai menyantap nasi ku.


Ada telur sambal balado, tempe goreng tepung, dan ikan masak kuning.


"Maaf yah, cuma ada ini" seru Maharani malu.


"Ah gpp kok" seru sambil mulai makan.


Maharani tersenyum melihat ku.


"Wah enak banget masakan Tante kamu" puji ku jujur.


"Benar kah? Tante memang jago masak, hehe" jawab nya senang.


Maharani tersenyum riang.


"Nah gitu dong, senyum, kan cantik. Kemana kau sembunyikan kecantikan mu itu selama ini?" goda ku.


"Bisa ajja kamu mah, gak senyum tetap cantik kok" balas nya.


"Iya sih tapi kan garang, orang takut melihat nya haha" jawab ku.


Makan sambil ngobrol tak terasa nasi ku pun habis.


Maharani segera menyimpun dan mencuci piring yang ada di meja.


*Menyimpun\= membereskan/merapikan.


Aku menunggu di kamar nya.


Terlihat foto nya berdua dengan Mai.


Ada juga foto keluarga nya, utuh saat masih kecil.


Banyak buku di kamar nya. Rata rata novel horor. Aku sedikit merinding melihat koleksi ganjil milik Maharani.


Suara pintu di buka. Maharani masuk ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaan rumah nya.


"Aku ganti baju dulu yah" ujar nya sembari membuka lemari pakaian nya.


Meski terbilang kampung rumah bangsal tapi rumah Maharani tidak kumuh, semua terlihat rapi dan bersih. Sederhana tapi bersih.


Melihat Maharani bakan berganti pakaian baku segera keluar kamar nya.


Ruang tamu jadi satu dengan ruang tengah. Sehingga ketika masuk ke dalam rumah ini kita langsung bisa melihat televisi dan dapur hanya tertutup tirai tanpa pintu. Kamar nya ada dua. Toilet ada di dapur.


Kenapa aku jadi house tour rumah Maharani?


Aku lihat beberapa piala terpampang di lemari kaca mini di samping rak televisi.


Semua milik Maharani.


Pandai sekali anak ini. Menang cerdas cermat saat masih sekolah menengah pertama dan lain lain.


"Maaf, lama yah?" Maharani mengejutkan ku.


"Eh gak kok, santai saja" jawab ku.


Maharani sudah berganti pakaian dengan baju rumah santai.


Aku melihat foto Maharani dan Tante nya.

__ADS_1


"Sejak kedua orang tua ku meninggal karena kecelakaan, aku di rawat beliau, beliau seorang janda yang ditinggal suami nya. Suami nya selingkuh, Tante ku stres dan trauma dan memutuskan untuk tidak menikah lagi, ayah ku adalah saudara nya, meski pun aku tau dia pasti kesepian. Tapi dia enggan untuk dekat lagi dengan laki laki. Kata nya ia hanya ingin melanjutkan hidup. Dia mengadopsi ku dengan sepenuh hati seperti anak sendiri sejak aku masih berumur 3 tahun" jelas Maharani.


"Baik sekali Tante mu itu, pintar masak pula" puji ku.


__ADS_2