Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Prepare.


__ADS_3

Ku temui tante sifa yang sedang duduk sendiri di teras cafe sambil merokok.


"Tante sifa" sapa ku.


"Loh kamu ngapain di sini?" tanya nya.


"Ini kan tempat umum tante" jawab ku.


"Oh benar juga yah" ujar nya.


Aku memesan minum.


"Tante, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan? jujur lah sebelum aku mengungkapkan semua nya" ancam ku.


Tante sifa tertawa.


"Apa yang kau ingin tau dari aku? apa pun yang kamu tau itu bukan lah urusan mu" jawab nya.


"Ini juga Urusan ku karena mamah kandung ku ada hubungan nya dengan mu kan?" selidik ku. Sebenarnya aku tidak tau tapi aku mengecoh tante sifa agar mau bercerita semua keganjilan ini.


Tante sifa terkejut namun ia segera menyembunyikan ekspresi kaget nya.


"Anak aneh, aku bahkan tidak mengenal siapa ibu kandung mu" jawab nya.


Aku memegang lengan tante sifa.


"Nama mama ku Leni anata, 3 bersaudara, sekolah di SMA negeri 7" jelas ku.


Kali ini ekspresi tante sifa berubah ,ia terkejut sekali mendengar nya.


"Apa tante mengenal nya?" tanya ku.


Tante sifa tidak langsung menjawab.

__ADS_1


Ia menghisap lagi rokok nya.


"Dunia memang sempit yah" ujar nya.


"Maksud tante?" tanya ku.


"Tidak, tidak ada apa apa, aku tidak mengenalnya" jawab tante sifa.


"Bohong?" protes ku.


"Hey anak kecil, untuk apa aku bohong?" tanya nya.


Maharani tiba tiba datang, tante sifa buru buru membuang rokok nya sebelum Maharani melihat nya merokok.


"Eh ada lidya, kalian janjian?" tanya nya.


"Gak kok, kebetulan ajja ketemu di sini" jawab ku.


Tante sifa memperbaiki cara duduk nya. Seperti nya ia menjaga sikat jika di depan Maharani, keponakannya nya itu.


"Maharani kamu pulang duluan saja nanti, ini uang, beli kan lah jajan, tante masih banyak urusan" tante Sifa berdiri dan pamit pergi.


"Yah, gimana sih Tante ini, dia yang mengajak kemari eh sekarang malah pergi" umpat Maharani.


"Tante mu sangat baik yah sama kamu" ujar ku.


Maharani tersenyum.


"Iya ia bahkan lebih baik dari ibu kandung sendiri, ia sangat memperhatikan aku, meski dia tidak pernah bilang sayang pada ku tapi dari sikap nya ia sangat menyayangi ku, dia lah orang satu satu nya yang paling ingin ku lindungi dan bahagia kan di dunia ini" jelas Maharani.


"Terharu aku mendengar nya, pengen deh punya tante seperti itu" ujar ku.


Maharani tersenyum dan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Tentu nya aku minta jemput sama supir di rumah.

__ADS_1


Seminggu berlalu, semakin dekat hari H aku semakin cemas dan stress. Aku berusaha meyakinkan diri ku bahwa ini bukan lah pernikahan sesungguhnya.


Ku pandangi langit sore itu dari balkon atas rumah ku. Tidak ada niatan sama sekali untuk menikah muda.


Ku lirik di balik pagar ada pria tua itu lagi. Siapa sebetulnya orang itu? apa dia orang gila?


"Lidya" papa memanggil ku, membuyarkan pandangan ku.


Aku menoleh ke Belakang.


"Iya, ada apa?" tanya ku.


"Besok libur kuliah kan karena tepat hari minggu, besok kita fitting baju pengantin sama yugo yah" seru papa.


Aku menoleh lagi ke arah pagar, pria itu menghilang.


"Kamu lagi liatin apa sih, kamu dengar kan kata papa?" tanya papa merasa terabaikan oleh ku.


"Iya iya dengar, fitting baju kan" jawab ku.


"Nah gitu dong, anak papa yang pintar dan penurut" ujar papa senang.


"Eh, pah, akhir akhir ini aku selalu melihat ada pria tua di depan gerbang rumah kita, kadang juga dia ada di depan gerbang kampus, dan hari ini aku melihat nya di balik pagar, apa papa pernah melihat nya tau mengenal nya?" tanya ku penasaran.


Papa mengernyitkan dahi.


"Papa tidak pernah melihat nya, mungkin hanya perasaan mu saja terlalu stress mikirin pernikahan, maka nya jalani ajja dengan ikhlas" jawab papa.


"Hiss, papa, aku serius. Kalo itu orang jahat gimana?" protes ku.


"Semua akan baik-baik saja lidya wijaya, apa perlu papa kasi kamu bodyguard 2 sekaligus untuk melindungi kamu?" tanya papa.


"Risih juga sih, ah. Ya sudah abaikan saja orang itu" seru ku.

__ADS_1


"Ya sudah, jika ada apa apa Segera hubungi papa" seru papa.


__ADS_2