
Selepas isya aku dan yugo pamit pulang.
Papa menyuruh kami menginap tapi yugo tidak bisa.
Aku melambaikan tangan ku ke arah papa dan putra.
Padahal aku sudah menikah tapi papa tetap memberikan ku uang setiap bulan nya, tetap membiayai kuliah ku.
"Maaf yah, tidak bisa menginap, ada hal yang harus aku lakukan di kebun teh dan perubahan papa" jelas yugo.
"Iya gpp kok, semoga masalah di Perusahaan papa kamu segera ada penyelesaian nya" seru ku.
"Aamiin, makasih yah" jawab Yugo.
Ku pandangi sekeliling. Hari sudah sangat gelap. Apa lagi perjalanan ke villa cukup jauh.
"Sayang" seru yugo tiba tiba.
Aku menoleh.
"Yah?" Jawab ku.
"Ah, gpp cuma manggil ajja" seru nya seolah tidak jadi mengatakan sesuatu.
"Ada apa? cerita lah" pinta ku.
"Ah, gak ada apa apa kok" jawab nya.
Yugo Masih fokus menyetir.
Kami telah sampai di villa, seperti biasa kami langsung bersih bersih diri dan bersiap tidur, istirahat.
Yugo seperti nya sangat stress tapi ia menyembunyikan nya dari ku, bahkan ketika perusahaan mereka bermasalah aku tidak tau.
Aku mendekati nya.
Ku peluk ia dari belakang.
Membuat nya terkejut. Tapi ia terlihat sangat senang.
"Mulai agresif nih yee" ejek nya.
"Ihh, aku kan cuma mencoba menenangkan mu dari berbagai masalah yang kamu hadapi di luar sana. Kan aku ingin jadi istri yang Solehah" jawab ku.
Yugo tersenyum sambil memegang tangan ku yang memeluk nya dari belakang.
"Obat stress ku cuma kamu, yuk, main" ajak nya.
"Main?" tanya ku.
"Ah, nda peka nih" ujar yugo.
"Main apa? kuis?" tanya ku polos.
"Ya udah gak pake kode2an deh, susah juga ngomong sama bocil. Maksud nya aku mau bercinta, seperti kemarin, kamu kan mau menghibur ku" ucap nya.
Aku baru mengerti maksud perkataan nya.
"Ohh, hahaha, maka nya yang jelas dong kalau ngomong" seru ku.
Malam semakin larut.
__ADS_1
Aku melayani yugo lagi.
Malam ini tidak hujan seperti kemarin.
Sebelum nya kami berpelukan seolah tidak lama tidak berjumpa. Padahal kami selalu bertemu.
.......🌺🌺🌺.......
Keesokan hari nya aku ke kampus seperti biasa. Kali ini aku di antar supir karena Yugo sangat sibuk. Seperti nya masalah yang di hadapi perusahaan nya adalah masalah besar.
Baru masuk kampus Sumiati langsung menyambut ku.
"Eh lidya, aku sudah selidiki devan yang kamu tanyakan kemarin, dan tidak ada mahasiswa di sini nama nya devan" seru sumiati.
"Masa sih? jadi dia siapa?" tanya ku.
Sumiati menggeleng lalu tersadar dan merinding.
"Kamu yakin dia manusia?" tanya sumiati.
Aku mengangkat bahu ku tanda tidak yakin.
"Astaga lidya, kamu indigo?" tanya sumi.
"Enggak!" bantah ku.
"Dia manusia kok, yah mungkin saja bukan mahasiswa di sini, siapa tau mampir atau ada keluarga atau kerabat nya di sini" aku tetap positif thinking.
"Ih serem deh" seru sumiati.
"Serem apa nih?" tanya seseorang di belakang kami.
"Tuh kan, devan itu orang, manusia" ujar ku ke Sumiati yang refleks menghindari kami.
"Kalian kenapa?" tanya devan.
"Itu tuh di sumiati aneh, masa dia meragukan kamu itu manusia atau makhluk halus haha" tawa ku.
Sumiati mendekati kami perlahan. Ia pun mulai memperhatikan devan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sumi juga memberanikan diri untuk menyentuh lengan devan.
"Eh beneran orang ternyata" ujar sumi kocak.
"Emang kamu kira aku apaan, oh ya kita belum sempat kenalan lebih jauh kan kemarin, aku anak biologi, nama kamu siapa?" tanya nya pada ku.
"Aku Sumiati" jawab Sumiati cepat sambil menyodorkan tangan nya untuk berjabatan.
Tapi devan justru menoleh ke arah ku dan menunggu jawaban ku.
"Lidya" jawab ku singkat.
Sumiati yang merasa terabaikan, tangan nya lalu bersalaman dengan mahasiswi yang sedang lewat. Aku tertawa melihat nya
Devan hendak pergi tapi Sumiati menghentikan nya.
"Tidak ada nama devan di kampus ini, siapa kamu sebenarnya?" tanya sumi.
Devan tidak menoleh.
"Itu hanya nama panggilan saja, nama asli ku bukan itu" jawab devan.
__ADS_1
"Emang nama asli mu siapa?" sumi tetap merongrong nya dengan pertanyaan.
"Aku akan beri tahu siapa aku asal teman mu itu bersikap lebih baik dan mau berkenalan dengan ku" tunjuk nya ke arah ku.
"Haduh, susah, dia memang seperti itu, cuek, apa lagi dia sudah menikah dan berhijab, wajar saja kan dia jaga jarak dengan lawan jenis kan" jelas sumi.
"Oh, ternyata seperti itu" jawab devan.
"Sama aku ajja deh kenalan nya, aku jomblo loh" seru sumi kocak.
"Eh, maaf, aku gak nanya" ujar devan seraya berjalan menjauh.
"Ih pelit banget sih" protes sumi.
Aku tertawa melihat nya kesal.
"Sudah lah, banyak kan laki laki lain" ujar ku.
"Kamu sih enak udah nikah" seru sumi.
"Bersyukur lah, aku juga gak mau nikah muda, ada cita cita yang ingin ku capai, ada kehidupan masa muda yang ingin aku nikmati tapi semua pupus sudah, karena aku sekarang seorang mahasiswi dan istri di rumah" ucap ku.
"Iya juga sih, tapi tetap bisa dong nikmati masa muda bersama suami, kalau mau keluar kan bisa ijin suami, ah bikin iri" seru sumi tetap membandingkan kehidupan kami.
"Ya udah, kalau begitu jadi lah besti ku, sahabat masa muda dan tua,di kampus atau di luar, saling membantu dan menjaga, bagaimana, janji?" ucap ku sembari mengeluarkan jari kelingking ku tanda perjanjian.
Sumiati tersenyum dan segera menautkan jari kelingking nya ke jari kelingking ku.
"Janji" jawab nya mantap.
Kami lalu berjalan masuk ke dalam kelas. Kami satu jurusan maka nya bisa akrab karena sering bertemu.
"Sekarang kamu sudah yakin kan kalau devan itu orang, lucu banget sih kamu ini sum, suka buat opini sendiri tanpa tau kebenaran nya" seru ku.
"Tetap ganjil lah, dia gak mau kasi tau nama asli nya, kata nya anak biologi yah,hm?" sumi meletakkan jari telunjuk dan jempol nya ke dagu seperti detektif.
"Apa nya lagi sih yang ganjil?" protes ku.
"Gpp kamu tenang ajja, aku akan menyelidiki latar belakang nya, kita ini anak hukum, anggap ajja belajar hahaha" ujar sumi sembari tertawa licik seperti dalam sinetron.
Aku tertawa melihat tingkah konyol nya.
"Terserah kamu deh sum, aku gak ikut2" jawab ku.
Iya ,aku akan berhenti menjadi orang yang kepo mulai saat ini.
Aku ingin hidup ku tenang.
Dosen datang dan kami berhamburan mencari tempat duduk.
......🌺🌺🌺......
"Lidya!" pekik sumi nyaring membuat hampir semua orang di koridor melihat nya.
"Apaan sih teriak teriak" protes ku.
"Sudah aku duga devan itu aneh, aku menemukan arsip alumni di kampus ini yang wajah nya mirip sama devan, nih lihat biodata nya" jelas sumi sembari memperlihatkan aku arsip alumni sekitar 10 tahun yang lalu.
Aku menggeleng. Bukan karena Devan aneh tapi karena tekat sumiati yang sampai sebegitu semangat nya menyelidiki siapa devan.
"Dari mana kau dapat arsip ini?" tanya ku.
__ADS_1