
Dengan tubuh lelah aku pergi meninggalkan rombongan club'.
Aku menuju kelas untuk mengambil tas ku yang tertinggal. Sudah lama jam pulang sekolah usai.
Ku ambil kunci mobil di dalam tas ku. Tertinggal mobil ku terparkir di sana.
"Eh itu lili kan, ternyata dia bawa mobil ke sekolah, kita nebeng yuk, dari pada cape nunggu jemputan" seru Rara ke Wulan.
"Gak enak ih merepotkan", tolak Wulan.
Rara berlari tanpa jawaban dari Wulan.
"Li, tunggu!!!" teriak Rara.
Aku menolah saat melihat Rara berlari ke arah mobil ku.
Aku membuka jendela kaca mobil ku.
"Ra , kami nebeng donk, boleh kan?" tanya nya.
Aku menatap Wulan sambil tersenyum.
"Boleh donk, ayo masuk, aman deh" jawab ku.
Wulan duduk di depan bersama ku.
Sementara Rara di belakang.
"Jarang jarang loh di sini siswi bawa mobil ke sekolah, hebat kamu" puji Rara.
"Ah, biasa saja kok, kita ke arah mana nih? atau mau singgah ke suatu tempat?" tawar ku.
"Langsung pulang ajja deh, cape" jawab Wulan.
Rara padahal semangat pengen jalan jalan.
"Hmm, ya udah nanti ajja kalo pelatih udah menentukan tim inti dari club' voli kita, kita rayain, semoga ajja kita bertiga jadi tim inti" seru Rara.
"Kalo kalian berdua mah sudah pasti masuk tim inti" seru ku.
"Tapi kamu hebat loh untuk pemula, cuma mesti di asah ajja agar lebih tajam" ujar Wulan.
"Baik lah, jika aku masuk tim inti kita akan rayakan, aku yang traktir kalian semua" seru ku.
"Wah pasti menyenangkan banget" ujar Rara girang.
"Maaf ya tadi aku menatap mu marah, karena aku tidak suka ada anak baru yang tidak disiplin, sok jago" ujar nya lagi.
"Iya gpp" jawab ku singkat lalu mengantar mereka pulang ke rumah masing-masing.
Aku memarkirkan mobil ke garasi Lalu turun. Tubuh ku lelah sekali rasa nya.
Papa terlihat sedang duduk santai di ruang tamu.
"Akhir akhir ini sering pulang lama ya?" sapa nya.
"Banyak kegiatan sekolah" jawab ku singkat.
"Oh ya, ada putra tuh jalan jalan ke rumah kita. Semoga kalian bisa akur dan cepat akrab ya " seru papa.
__ADS_1
"Apa?!! di mana dia sekarang!!" pekik ku.
" Di atas" jawab papa singkat sembari menyeruput kopi nya.
Aku segera berlari ke atas, menuju kamar ku.
Ku lihat pintu kamar ku terbuka lebar.
Aku pun masuk dan melihat putra ada di kamar ku.
"Lancang kamu!!!" teriak ku.
Putra melihat ku, tangan nya menggenggam cermin kecil.
Putra lalu mendekati ku. Sangat dekat, hingga wajah kami hanya berjarak 1 jengkal saja.
"Ini cermin yang aku berikan pada Lidya gendut waktu itu, kenapa ada di kamu? haha. Berkat benda ini lah aku tau siapa kau sebenar nya" seru putra.
Aku merebut cermin itu lalu melempar nya ke balik jendela. Aku membuang cermin itu tepat di depan mata nya.
"Keluar sekarang, kau belum jadi siapa siapa di rumah ini!!!" perintah ku.
Putra tersenyum.
"Bukan kah usaha ku berhasil, dan kau berubah sekarang, ah kacang lupa kulit nya nih" ujar putra.
"Kau sudah gila!!!" pekik ku. Aku mendorong nya keluar kamar. Di depan pintu.
"Salah kan ayah mu yang memberi tahukan identitas lama mu, bye baby muach" ujar nya lalu pergi.
Aku ganti pakaian dan segera turun menemui papa
"Kau katakan apa pada putra?" tanya ku pada papa.
"Dia akan jadi bagian dari keluarga kita, tidak ada salah nya jika dia tau, kita keluarga, tidak boleh ada yang di sembunyikan" seru papa sok bijak.
"Dia mengancam ku, akan menyebarkan berita itu ke sekolah ku, dan itu mengganggu ku, bukan kah tidak baik keluarga saling mengganggu" pekik ku.
Papa dengan santai masih menikmati kopi nya.
"Istirahat lah, semua akan baik baik saja" hanya itu yang ia katakan.
Aku kembali ke kamar, aku membanting pintu, menghambur barang barang ku karena kesal. Aku melihat di balik jendela, malam tiba, langit berbintang, ada bulan juga. Bulan nya cantik. Lumayan menghilang kan sedikit stress ku.
Aku kangen Bimo. Biasa nya dia selalu jadi tempat curhat ku. Malam itu sudah pukul 20.30. Pada siapa lagi aku cerita kan keluh kesah ku, air mata ku mulai turun.
Aku nekat pun menghubungi Bimo. Syukur kami sempat bertukar nomor WhatsApp waktu itu.
Aku menelepon nya.
"Halo, Assalamualaikum", sapa nya
"Wa'alaikumsalam, Bim....." kata kata seperti tercekat di tenggorokan, aku bingung akan mulai dari mana.
"Ada apa li?" tanya Bimo bingung.
Hanya suara tangis ku yang keluar. Aku tidak berkata apa apa.
"Kamu nangis?, ada apa? kamu di mana?" tanya Bimo.
__ADS_1
Yah seperti ini lah Bimo. Dia tidak pernah tega melihat wanita menangis.
"Aku baik baik saja setelah mendengar suara mu, maaf yah mengganggu" jawab ku.
"Kamu yakin gak kenapa kenapa, apa yang bisa kau bantu?" tanya nya lagi.
"Gak ada kok Bim, udah dulu yah" ucap ku mengakhiri telepon kami.
Dan aku melanjutkan menangis di balik jendela.
Keesokan hari nya.
"Lemes amat, tuh mata kayak abis begadang seminggu" seru Dimas saat melihat ku datang.
"Aku sedang tidak ingin berdebat kali ini dim, tolong jangan ganggu aku" seru ku.
"Haha, gak ganggu kok, cuma menggoda ajja" balas Dimas.
Adit melihat ku yang lemas pucat.
"Kamu sakit?" tanya Adit.
"Gak kok, aku baik baik saja" ucap ku.
Latihan voli pun aku tidak semangat.
Pelatih memarahi ku.
Wajah ku pucat, keringat dingin mengalir di kening ku.
Ku pegang perut ku.
"Maaf pak saya istirahat dulu" jawab ku saat di marahi.
Selesai latihan Wulan mendatangi ku.
"Kamu sakit?" tanya wulan.
"Aku pms lan, lagi dapet" ujar ku.
"Wahh pantesan, aku khawatir loh. Kamu ke UKS saja istirahat, nanti aku beri tahu pak dewan" jelas Wulan.
Dengan langkah gontai menuju UKS. Perut ku kram, sakit sekali rasa nya.
Baru separuh jalan, langkah ku terhenti, suasana gelap sekali, aku tidak bisa melihat.
Ternyata aku pingsan di jalan menuju UKS.
Anak anak mulai heboh.
Kebetulan Dimas yang melihat ku jatuh pingsan. Dia pun segera menggendong ku ke UKS.
Adit terlambat, ia hanya bisa melihat ku di angkat oleh Dimas.
Adit pun ikut ke UKS untuk melihat ke adaan ku.
Maisaroh pun ikut.
"Lili kenapa?" tanya Maisaroh.
__ADS_1
"Entah lah, dia tiba tiba pingsan di koridor" jawab Dimas yang sudah berhasil meletakkan ku di tempat tidur UKS.
Adit memandang ku dengan khawatir.