
Selesai mengobati luka nya Dimas aku pun segera pergi dari ruang itu.
"Terima kasih, Lidya" seru nya.
Aku menoleh sesaat.
"Panggil lili saja!" Tegas ku.
Dimas tersenyum.
Sepulang sekolah aku teringat papa yang akan menikah bulan depan. Membuat ku stress. Aku takut punya ibu tiri.
Seseorang menelpon ku tiba tiba saat aku asik nonton drama Korea di laptop ku.
"Halo, dengan siapa!".tanya ku.
"Galak amat sih, aku putra, ayo ketemuan" ujar nya.
"Aku sibuk" tolak ku.
"Kamu yakin gak mau ketemu aku?" tanya nya.
"Yakin donk" jawab ku.
"Oh, ok jangan heran jika satu sekolah mu tahu rahasia besar mu. Hahaha" tawa putra di ujung telepon.
Aku mulai goyah.
"Mau mu apa?!" pekik ku.
"Ayo lah, Ade tiri ku yang cantik, aku tunggu di cafe rain, 30 menit dari sekarang, jangan terlambat." seru nya.
Belum jadi saudara saja dia sudah berani mengancam ku.
Aku melangkah kesal ke luar rumah. Dengan baju se ada nya. Aku memakai sweater warna peach.
Aku mengemudi mobil sendiri. Satpam membukakan pintu gerbang.
Apa yang mau putra sampaikan pada ku ya? ah, aku jadi tambah membenci nya.
Sesampai nya di cafe itu.
Putra tersenyum menang melihat ku.
Aku mendekati nya dan langsung duduk di depan nya.
"Wah, sudah datang rupa nya, ayo duduk dulu" seru nya.
"Gak usah basa basi, inti nya mau kamu apa!" pekik ku.
"Uuu garang, atuuut" balas nya.
Aku menatap nya tajam.
"Aku mau orang tua kita menikah dengan lancar, aku tidak mau kau mengacaukan semua nya" jawab putra.
"Apa!!! hahahaha", tawa ku membuat putra semakin kesal.
"Kau dan ibu mu pasti matre. Kalian mengincar harta kami saja, iya kan? hahaha, sudah aku duga" tawa ku semakin nyaring membuat putra tidak nyaman.
__ADS_1
"Jaga ucapan mu!!!" pekik nya.
"Aku hanya ingin melihat mama ku bahagia, apa itu salah?!" pekik nya lagi.
"Hmm, entah lah, aku tidak percaya siapa pun, aku kan tidak begitu mengenal kalian" balas ku.
Putra menatap ku kesal.
"Bagaimana pun juga, kau harus terima saja pernikahan mereka, biarkan mereka bahagia, jangan pernah menghalangi nya atau kau akan merasakan akibat nya" ucap putra tanpa ragu. Ia lalu minum sejenak.
Aku menyilang kan kedua lengan ku. Duduk dengan anggun di tempat itu.
"Coba saja, aku ingin lihat sejauh apa yang bisa kau perbuat" tantang ku.
"Ok, jangan sampai menyesal, ku peringatkan sekali lagi, aku mengetahui rahasia besar mu" jawab putra dengan lantang.
Mata kami beradu, seperti nya perang akan di mulai.
Nyali ku mulai ciut, mendengar ancaman putra.
"Terserah mu!" aku pun pergi tanpa pamit.
Tanpa menoleh ke arah nya sedetik pun.
Saking kesal berjalan, aku hampir menabrak seseorang.
"Hati hati" seru nya.
Aku tidak memperdulikan siapa orang itu. Ternyata Bimo. Dunia emang sempit?
Putra lalu memanggil Bimo dengan ke arah nya. Seolah sengaja agar aku mendengar nya.
"Untuk permulaan, apa aku harus memberi tahukan orang ini?" teriak putra pada ku.
"Takut?" tanya nya.
Bimo terlihat heran melihat ku.
"Eh ada apa ini?" tanya Bimo bingung.
"Kau, brengsek!!!" pekik ku ke putra.
Putra semakin tertawa.
"Apa orang ini penting bagi mu, hmm semakin menarik" seru putra.
Bimo tidak mengerti apa yang putra katakan.
"Jadi bagaimana? apa kau masih akan melawan ku dan menentang takdir?" tegas putra.
Aku berpikir sejenak, demi ketentraman ku di sekolah, demi sahabat ku, terpaksa aku harus menyerah.
"Baik lah, aku turuti mau mu" jawab ku.
Putri bertepuk tangan.
"Ada apa putra? kenapa memanggil ku?" tanya Bimo.
Putra memberi isyarat agar aku mau duduk kembali ke kursi ku.
__ADS_1
Aku pun menurut.
"Hay Bim, kenal kan, adik ku, cantik kan" ujar putra.
"Apa?! adik?" seru Bimo tidak percaya.
"Iya, dia adik ku, nama nya Li......
aku memotong kalimat putra.
"Kami sudah saling kenal kok" jawab ku.
"Iya, kami pernah bertemu beberapa kali" jelas Bimo.
"Oh, bagus lah, semakin menarik" seru putra sambil melirik ke arah ku.
"Em, Bim, apa kabar Lidya yah, apa kau sudah mendengar kabar nya?" tanya putra.
Aku menginjak kaki putra.
"Aduhh!!!" pekik putra.
"Kenapa put?" tanya Bimo bingung.
"Eh, gpp kaki aku kesemutan hehe", jawab nya.
"Beruntung sekali punya adik cantik" seru Bimo.
"Hahahahahahaaaa"
Putra lagi lagi menertawai ku.
"Eh Bim, aku penasaran deh, kamu suka tipe cewe yang seperti apa?" tanya putra.
"Emm. Apaan sih, bagi ku fisik gak terlalu penting sih, yang penting baik, sederhana ,setia apa ada nya dan bukan pembohong" seru Bimo.
Aku terdiam.
"Wah berarti cewe pembohong bukan tipe kamu yah" pancing putra.
"yup, untuk apa dia cantik tapi pembohong, karena aku paling tidak suka di bohongi. Hehe kan gak enak tuh" ujar nya lagi.
Aku sedikit takut mendengar nya.
Putra melirik ku.
Aku menatap nya tajam.
"Sudah larut, ayo kita pulang, besok sekolah" Ajak ku.
"Ok nanti kita lanjut per bincangan ini yang lebih hot" seru putra sambil beranjak dari tempat nya.
"Astaga aku sampai lupa, aku ada janji sama seseorang di cafe ini!!!" pekik Bimo. Ia melihat sekeliling mencari orang itu.
Aku pun ikut mencari.
Aku melihat Siska yang berdecak kesal saat Bimo menghampiri nya.
Siska? lagi? ada hubungan apa mereka.
__ADS_1
Entah kenapa hati ku cemburu melihat nya.
Putra melihat ku, menepuk pundak ku lalu tersenyum senang.