
Aku langsung menghindari Bimo otomatis membuat teman teman ku keheranan.
Bimo masih mengejar nya.
"Ada apa lagi sih Bim!!!" bentak ku ketika sudah agak jauh dari teman teman.
"Apa kau benar Lidya?" tanya nya ragu.
"Gak, Lidya udah mati, aku Lily sekarang. Jangan pernah panggil nama asli ku di depan teman teman ku!!!" ku peringatkan kan Bimo.
"Kenapa? kau malu dengan masa lalu mu?" tanya Bimo.
"Masa lalu apa?" tiba tiba Adit sudah ada di belakang ku.
Aku menghela nafas berat.
"Dit, tolong tinggalkan kami sebentar" ujar ku.
"Aku sengaja mengikuti mu, siapa tau di orang jahat" seru Adit.
Bimo menatap Adit sesaat.
"Sudah ku duga kau punya banyak teman sekarang, kau sungguh kacang lupa kulit nya" seru Bimo.
"Bukan begitu Bim...." belum selesai kalimat ku tiba tiba Adit menarik tangan ku menjauh dari Bimo.
"Dia siapa kenapa bicara seperti itu?" tanya Adit sambil berjalan menjauh dari Bimo.
Bimo melangkah cepat ke arah kami.
Bimo menarik tangan kiri ku. Sedang Adit menarik tangan kanan ku.
"Apa yang kalian lakukan sih!!!" pekik ku.
"Kami belum selesai bicara!" ujar Bimo.
Adit menatap tidak suka ke arah Bimo.
Aku melepaskan diri dari cengkeraman tangan mereka.
"Kalian kenapa !??" bentak ku.
"Aku tidak suka kau kasar pada nya" kata Adit ke Bimo.
"Haha jadi sekarang ada pahlawan kesiangan yang melindungi mu?? apa kau lupa siapa yang selalu ada di saat kau susah dulu???" pekik Bimo.
"Jika kau memang baik, kau tidak akan mengungkit kebaikan mu" seru Adit.
"Aku sedang tidak berbicara kepada mu!" kata Bimo.
Aku dilema. Teringat sekilas kebersamaan ku dengan Bimo. Hampir kemana pun aku selalu bersama nya. Tapi Bimo yang dulu tidak pernah berbicara kasar pada ku.
Di sela kebingungan ku harus ikut Bimo atau adit, putra datang membawa ku pergi.
Aku hanya menurut.
"Jangan lemah" ujar nya saat aku mulai nostalgia.
"Gendut, bawakan tas ku" ujar putra sambil melempar tas nya. Dan dia tertawa melihat ekspresi ku.
Aku menatap nya kesal. Apa maksud dia panggil aku gendut. Aku mengingat kembali saat aku sangat benci kepada putra. Karena ia terus mengatai ku gendut. Meski dulu memang gendut tapi aku tidak suka di panggil seperti.
Kita memang gak tau sifat asli seseorang jika hanya sekilas pertemuan dan tidak dekat dengan nya. Aku masih ingat betapa menyebalkan nya putra dulu. Sampai ia jadi saudara tiri ku.
__ADS_1
Aku mengira ia adalah salah satu orang jahat dan licik yang akan memanfaatkan kekayaan keluarga ku ternyata sebalik nya, semua hanya ekspektasi ku sendiri. Tante Mona juga tidak terlihat matre.
Ia tidak banyak menuntut papa. Ia tidak meminta apa pun. Penampilan nya pun sederhana seperti seorang ibu pada umum nya.
Melihat ku kesal putra kembali mengambil tas nya dan mengacak acak rambut ku.
Bimo dan Adit hanya bisa menatap kami Lalu pergi lewat jalan yang berlawanan.
Aku berjalan menuju kembali ke arah rombongan ku, bersama Maisaroh, Wulan dan kawan kawan.
Aku berlari ke arah mereka.
Kami kembali tour di sekolah itu. Ku lihat reno dari kejauhan. Di masih tampan seperti biasa nya. Meski sifat nya menyebalkan.
Reno pun sekilas melihat ku dan tersenyum.
Ya Tuhan tampan sekali ciptaan mu ini.
Memang manusia gak ada yang sempurna. Ada yang tampan tapi jahat, ada yang baik tapi penampilan biasa saja.
Aku tidak membalas senyuman Reno. Ekspresi ku datar.
"Teman teman, aku ke toilet dulu yah" kata ku sambil sedikit berlari ke arah toilet.
Aku merapikan rambut ku.
Seseorang keluar dari toilet. Semula aku takut melihat nya, dia adalah anak club' voli yang pernah membully ku dulu.
Ia merapikan rambut nya di westapel sebelah ku.
"Hay, kalian lumayan juga" sapa nya pada ku.
"Biasa saja, tidak sebanding dengan kalian" kata ku merendah.
"Aku seperti pernah mengenal suara mu, tidak asing, tapi siapa yah?" kata gadis itu.
"Mungkin hanya perasaan mu saja" jawab ku sambil pergi menghindari nya.
Tapi Aurel mengejar ku.
"Hey, nama kamu siapa?" tanya nya.
Aku tidak menjawab.
"Kau tuli yah!!" bentak nya.
"Apa nama ku penting untuk mu, maaf! aku tidak tertarik untuk berkenalan dengan mu!" jawab ku dengan tatapan tidak suka.
Masih terngiang dulu saat anggota club' mereka melempari ku bola voli. Bimo pun pernah kena sasaran mereka hingga kacamata Bimo pecah saat itu.
Kami yang lemah hanya bisa pasrah di perlakukan kasar oleh teman teman.
Ia mendekati ku dengan wajah marah.
"Jangan sombong kamu!!! baru mengalahkan SMA 7 saja sudah bangga, akan ku tunjukan nanti permainan voli yang sebenarnya,!" pekik Aurel.
"Silahkan!" balas ku sambil mengabaikannya.
Ia sangat kesal, ia menghentakkan kaki nya ke lantai.
Tiba tiba aku bertemu Reno.
Cinta pertama ku yang jahat.
__ADS_1
"Hay, permainan kamu bagus, sungguh mengagumkan" seru nya.
Aku pun mengabaikan nya.
Tapi Reno menahan ku.
"Aku suka cewe yang cuek seperti ini" kata nya.
Aku tetap mengabaikan nya.
Aku terus berjalan dan di ikuti oleh nya.
"Nama kamu siapa, wajah mu tidak asing, seperti nya kita pernah bertemu sebelum nya" ujar Reno.
Aku tidak menjawab nya.
"Aku Reno, mantan club' basket di sekolah ini" seru nya.
Aku terus berjalan hingga hampir sampai ke luar sekolah. Putra melihat ku di ikuti oleh Reno. Ia segera mendekati kami.
Melihat putra aku merasa sangat lega.
Aku berjalan lurus dan putra datang menghalangi Reno untuk mendekati ku.
"Ada perlu apa dengan nya?" tanya putra ke reno.
"Bukan urusan mu" jawab Reno.
"Dia adik ku, jadi itu urusan ku, ku lihat dia tidak nyaman kau mengikuti nya" jawab putra.
"Apa?!" jadi dia adik mu" Reno tersenyum lebar seperti punya peluang.
"Aku tau siapa kau sebenarnya, jangan harap bisa mendekati adik ku!"
Putra memperingatkan Reno sembari berjalan mengejar ku.
Reno hanya bisa diam melihat kami semakin menjauh.
Aku bersyukur ada putra di sisi ku.
Kami pun satu persatu pulang dari SMA cahaya.
Sesampai nya di rumah.
Aku membersihkan diri.
Putra pun datang setelah aku sampai.
Aku pun ke kamar nya setelah tau dia datang.
"Terima kasih yah" seru ku.
"Karena apa?" tanya nya bingung.
"Pokok nya makasih ajja" jawab ku.
"Iya, keluar gih, aku mau ganti baju" seru nya.
"Gak mau" jawab ku sambil nyengir.
"Eh mulai Nakal yah, buruan keluar" putra mengusir ku.
Tidak lama kemudian dia keluar memakai baju Koko dengan sarung hendak ke masjid untuk shalat ashar.
__ADS_1