Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 65.


__ADS_3

"Maaf teman teman, aku harus kembali ke SMA cahaya " ujar ku.


"Loh kenapa?" tanya Mai.


"Aku ada urusan penting dengan putra, maaf yah" kata ku sambil memaksa untuk turun dari mobil saat itu juga.


Aku menghentikan taksi dan segera tancap gas kembali ke SMA cahaya.


"Bisa cepetan dikit pak?" seru ku.


Pak sopir segera menambah kecepatan.


Sesampai nya kembali di SMA cahaya aku berlari mencari putra. Sekolah sudah mulai sepi. Sebenar nya aku takut ketemu raja. Tapi aku harus ketemu sama putra.


Reno memperhatikan ku yang kebingungan dari atas lantai 2 sekolah, ia pun segera turun menghampiri ku.


"Hay, ketemu lagi, kamu baik baik saja kan?" tanya Reno.


"Lihat putra?" tanya ku.


"Enggak sih, mau ku temani mencari?" tanya nya.


Aku tidak menghiraukan nya, aku berlari kesana kemari mencari putra.


Putra kemana sih. Aku raih ponsel dan menelpon nya.


Tidak di angkat.


Hampir putus asa aku mencari nya, ku lihat ia keluar dari toilet pria.


Aku segera berlari ke arah nya.


Refleks kupeluk dia.


"Maafkan aku sudah gak percaya sama kamu" ujar ku seolah takut kehilangan putra.


"Hey, apaan sih, aku baik baik saja" protes nya.


Ku lepas pelukan ku.


"Aku ingat sesuatu, aku pernah melihat Dinda bertengkar dengan pak Rio, penjaga perpustakaan yang pernah aku ceritakan waktu itu. Aku curiga mereka punya hubungan, jika memang itu anak pak Rio kenapa Dinda menuduh mu?"tanya ku penasaran.


"Entah lah, jika mendengar rumor yang beredar, Dinda memang sering terlihat jalan dengan om om di luar sana. Tapi aku tidak mau berprasangka, mungkin mereka salah melihat orang" jawab putra.


"Jadi kau mau pasrah di tuduh seperti itu!!!"pekik ku.

__ADS_1


Aku berlari meninggalkan putra, mencari Dinda, semoga saja dia masih ada di sekolah.


Dinda keluar dari perpustakaan, aku segera melabraknya.


"Heh dinda!!! maksud kamu apa nuduh putra seperti itu!!!" pekik ku.


Dinda dengan santai menyilangkan kedua lengan nya.


"Ada apa sih adik ipar, kok marah marah, santai, rileks." jawab nya.


"Apa aku bilang? ipar?! cuiihh, Najiss!!!" jawabku. Emosi ku meluap luap.


Dinda tertawa melihat ku yang menatap nya jijik.


"Aku punya bukti kalo putra bukan pelaku nya, aku penasaran kenapa kau malah menuduh putra seperti itu. Bukan nya menyeret langsung ayah kandung dari anak mu. pak Rio kan pelaku sesungguhnya." ujar ku.


Dinda melotot, ia terkejut mendengar pernyataan ku.


"Da, dari mana kau tau dia pelaku nya, siapa kau sebenarnya!!!" pekik Dinda panik.


Giliran aku yang tersenyum sinis ke arah nya.


"Berarti benar pak Rio adalah pelaku nya" kata ku.


Dinda terlihat panik dan hendak menyakiti ku. Ia ingin mengambil bukti Yang ada pada ku. Padahal itu hanya lah jebakan, aku tidak punya bukti apa pun.


Putra segera datang menyelamatkan aku dari keberingasan Dinda.


"Kau tidak akan bisa menang melawan ku, jadi berhenti lah dan akui kesalahan kalian!!!" ujar ku.


"Tidak!!! aku cinta sama putra, maafkan aku, aku ingin bersama nya" jawab Dinda sambil terisak-isak.


Putra telah sampai ke tempat kami, ia mendengar semua nya, ia menatap Dinda kecewa.


"Apa yang kau katakan?" tanya putra tidak percaya.


"Aku, aku terlalu cinta sama kamu maka nya aku nekat menuduh mu agar aku bisa bersama dengan mu, maafkan aku, aku wanita bodoh, bego" seru Dinda sambil memukul diri sendiri.


"Sudah Dinda! cukup!" pekik putra.


"Aku hampir di keluar kan dari sekolah dan kau sebut itu cinta?" seru nya lagi.


Dinda menunduk dan berlutut di depan putra.


"Tolong maafkan aku, lebih baik aku mati saja, aku terlalu malu untuk melanjutkan hidup ku, kau tau sendiri aku di gunjing satu sekolah karena beredar rumor bahwa aku simpanan om om. Di tambah lagi aku sedang hamil sekarang, jika mereka tau, aku tidak sanggup membayangkan nya ketika aib ku terbongkar, tidak. Aku harus mati" seru Dinda.

__ADS_1


Dengan air mata yang masih mengalir di pipinya Dinda berlari ke arah atap sekolah.


Membuat kami panik seketika.


Aku dan putra mengejar nya.


Menaiki tangga, membuat nafas ku tersengal sengal.


"Kau sudah gila ya!!!" pekik ku


"Iya!!!" teriak nya.


"Turun lah, jangan memperburuk keadaan. Jika kau mati, kau pikir Masalah mu akan selesai? justru itu awal permasalahan baru mu di alam sana" nasehat putra sambil mengajak Dinda turun dari pembatas atap dengan ketinggian.


"Maafin aku putra, aku sungguh malu hiks" Dinda terus menangis dan memukul perut nya.


Aku berusaha menenangkan nya.


"Dinda, banyak orang sakit di luar sana ingin sembuh, ingin hidup, kamu justru mau mati? sebesar apa pun masalah nya bertahan lah" ujar ku.


Putra perlahan mendekati Dinda, Dinda mundur perlahan menjauh dari putra, selangkah lagi dia akan jatuh.


"Biarkan aku pergi" seru nya.


"Gak Dinda, gak boleh" ujar putra.


"Aku wanita hina, benar kata mereka, aku wanita bayaran, simpanan om om, semua ku lakukan untuk pengobatan ibu ku yang sakit, tapi aku justru hamil, apa yang hendak ku katakan pada ibu ku jika ia tau nanti" Dinda semakin menangis.


Aku dan putra semakin iba mendengar nya.


"Turun lah Dinda, bertaubat dan minta ampun sama Allah, aku tau tujuan mu itu, yang lalu biar lah berlalu, lahir kan anak mu, jadi lah wanita yang lebih baik, ibu mu pasti akan mengerti nanti, yang terpenting sekarang fokus lah merawat ibu mu, dia membutuhkan mu" seru putra.


"Iya, berhenti lah, aku janji akan membantu biaya pengobatan ibu mu sampai sembuh" ujar ku.


Aku dan putra mendekati Dinda dan mencoba menurunkan nya, Dinda Masih menangis.


Ah syukur lah.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, masa depan ku sudah hancur"ujar Dinda.


"Ampunan Allah itu maha luas, jika kamu benar benar bertaubat, kamu akan memiliki masa depan yang lebih baik" jawab putra.


Kami membawa Dinda turun ke bawa. Kebetulan guru bimbingan konseling belum pulang.


Kami lalu menceritakan kejadian sebenarnya, guru terkejut mendengar nya, pak Rio segera mendapat hukuman nya, di berhentikan, karena dia enggan bertanggung jawab pak Rio lalu dilaporkan ke polisi karena menghamili murid di sekolah itu.

__ADS_1


Pak Rio yang ketakutan akan di penjara akhir nya mau bertanggung jawab tapi Dinda tidak mau, dinda ingin pak Rio di penjara.


Setelah Masalah itu selesai kami hendak mengantar Dinda pulang tapi ia minta di antar ke rumah sakit tempat ibu nya di rawat.


__ADS_2