
"Bimo" seru pak Budi.
"Kepada wali murid kami persilahkan" kata pak Budi lagi.
Ayah Bimo dengan bangga berdiri dan maju ke depan untuk mengambil raport anak nya.
"Peringkat ke dua jatuh kepada Maharani" seru pak budi.
Maharani pun maju ke depan kelas untuk mengambil raport nya sendirian, tidak ada wali yang datang mengambil kan raport nya.
Aku hanya melihat nya di balik jendela luar kelas. Mengingatkan aku dulu juga seperti itu, tidak pernah ada wali yang datang mengambil kan raport ku.
"Peringkat ke 3 jatuh kepada Lidya Wijaya" ujar pak Budi.
Papa pun maju ke depan kelas mengambilkan raport ku. Huft aku bernafas lega, setidaknya nya aku masuk 3 besar di kelas ini.
Adit turun jadi peringkat ke 4.
Semua mata masih mengagumi papa. Sebagian ibu ibu mendekati papa selepas pembagian raport.
"Halo. Anda Rudi Wijaya kan,pengusaha yang terkenal itu, salam kenal ya, di liat secara langsung ternyata lebih tampan" seru ibu ibu orang tua murid yang lain.
"Ah bisa ajja" jawab papa malu. Ia pun segera berjalan menemui ku.
"Ayo pulang" seru papa.
"Eh , aku bawa mobil kok tadi, makasih sudah datang" seru ku.
Papa mengelus rambut pendek ku.
Ku lirik ke Bimo yang sedang berjalan keluar dengan ayah nya.
Dimas membawa sendiri raport nya karena papa nya juga orang yang sangat sibuk.
Dimas mendekati kami.
"Hay om, saya dimas teman nya Lidya, salam kenal" ujar Dimas sok akrab dengan papa.
Papa menyambut nya sambil tersenyum.
"Ya sudah kalo begitu papa pulang duluan yah" seru papa.
Aku mengangguk lalu berbalik menatap Dimas.
"Kenapa?" tanya nya.
Ayah Bimo menatap ku sesaat tapi tidak berkata apa-apa. Ia tidak mengenali ku. Aku rindu sekali dengan om Adi.
Seketika kenangan itu muncul lagi dalam ingatan ku
Aku dan bimo saat itu masih duduk di bangku SMP.
Om Adi selalu memanjakan kami.
Membelikan kami jajan dan lain lain.
Meski tidak punya banyak uang, om Adi selalu bisa mengajak kami jalan jalan.
__ADS_1
"Bimo, Lidya kok gak pernah datang main ke rumah lagi?" tanya om Adi.
Bimo bingung harus mengatakan apa pada ayah nya.
"Eh, nanti aku ceritakan di rumah ajja yah" seru Bimo sembari berjalan menuju parkiran.
Aku melihat mereka, Bimo naik ke motor Vespa milik ayah nya, ia pun membonceng om Adi.
Sekilas ia menatap ku sebelum tancap gas.
Aku lalu mengalihkan pandangan ku.
"Aku gak boleh kalah oleh kenangan" seru ku.
"Lid, Lo kenapa ngomong begitu" tanya Dimas penasaran.
"Eh gak ada apa apa kok dim," jawab ku.
"Teman teman aku pulang duluan yah" seru Adit menghampiri kami.
"Iya hati hati" jawab ku.
"Selamat yah Lidya, kamu masuk 3 besar di kelas. Aku bangga sama kamu, udah cantik, pinter, kaya, ah aku cinta, beruntung sekali yang dapetin kamu" gombal Dimas.
Aku menepuk pipi nya gemas.
"Bukan saat nya mikirin cinta, kita sudah kelas 3 sekarang" balas ku.
"Justru cinta bikin kita semangat menjalani hari hari di sekolah" protes Dimas.
"Kau tidak malu menyukai perempuan dengan kecantikan palsu seperti ku?" tanya ku.
"Ihh" ku Raup wajah nya dengan tangan ku.
"Canda cantik" goda nya lagi.
"Udah ih, ayo pulang" ajak ku.
"Bentar dulu, setelah ini kita libur panjang, aku bakal rindu banget sama kamu" protes Dimas.
"Hem. Aku harus pulang cepat dim, mau packing, besok aku akan berangkat" seru ku.
"Nah kan, huhu, jaat banget aku di ghosting" ujar Dimas mewek.
"Apaan sih muka mu itu, nyebelin tau" jawab ku.
"Hehe. Ya udah selama liburan jangan nakal ya. Jangan lupa kabarin" ucap Dimas.
"Haha apaan, emang kamu siapa, kenapa aku harus kabarin?" ujar ku.
"Aku jodoh mu haha" ujar Dimas.
Aku tidak menghiraukan nya, aku berjalan menuju parkiran.
Ku lihat dimas juga bergegas untuk pulang setelah melihat ku semakin menjauh.
......🌺🌺🌺......
__ADS_1
Sesampai nya di rumah, ku lihat putra sedang packing di kamar nya. Aku perlahan masuk dan memeluk nya tiba tiba dari belakang diam diam.
"Astagfirullah!" pekik nya kaget.
Ia memukul ringan lengan ku karena sudah membuat nya terkejut.
"Maaf, laju bener packing nya, aku ajja belum siap apa apa" seru ku
"Gpp, aku gak suka melakukan hal tergesa gesa, kalo dari sekarang kan packing nya bisa santai" jawab putra santai.
Putra melepaskan diri dari rangkulan ku. Seperti tidak nyaman.
"Kamu kenapa?" tanya ku.
"Gak ada apa apa, pergi lah ke kamar mu, packing juga" jawab nya.
Aku menatap nya bingung.
Merasa di usir aku pun melangkah ke depan arah pintu dengan manyun.
"Mulai sekarang aku gak bisa lagi menjaga dan manjakan kamu seperti biasa nya, jadi ayo kita hidup biasa saja seperti dulu" seru putra.
Langkah ku terhenti.
"Kenapa?" aku bertanya tanpa menoleh ke arah nya.
Putra tidak menjawab. Aku sedih mendengar nya. Maafkan aku putra jika aku selalu merepotkan mu. Mungkin kamu lelah karena aku. Batin ku.
Aku menutup pintu kamar putra dan segera berbalik ke kamar ku.
Ku rebahkan diri. Aku merasa kehilangan sesuatu yang entah apa.
Ku tatap langit langit kamar ku. Dan tertidur tanpa berganti pakaian.
Papa dan mama juga sudah packing untuk besok.
Menjelang sore aku terbangun.
Aku lapar sekali, lupa makan siang, aku pun segera ke bawah untuk makan.
Aku mendengar percakapan putra dengan Tante Mona. Mereka seperti bertengkar tapi aku tidak tau kenapa.
Ku rapatkan badan ku ke tembok samping agar mereka tidak melihat ku.
"Apa kamu sudah menuruti kata mama untuk tidak memanjakan Lidya, mama gak mau ada apa apa di antara kalian" seru mama khawatir.
"Tidak ada apa pun di antara kami, aku baik pada nya Karena aku saudaranya, jadi berhentilah mengkhawatirkan kami" balas putra.
"Syukur lah kalau begitu, mama hanya...." jawab Tante Mona.
"Jangan mengungkit ini lagi, aku tidak suka mendengar nya, harus berapa kali mama menanyakan itu, dan aku sudah menjawab nya kan" pekik putra.
Aku memegang dada ku yang entah mengapa sesak sekali. Wajar putra baik pada ku, karena dia saudara ku, lantas mengapa aku sedih dan tidak bahagia mendengar nya, lalu kenapa hati ku sesakit ini. Apa aku mencintai putra? apa kah aku bertepuk sebelah tangan.
Putra hanya menganggap ku saudara nya bukan sebagai seorang wanita.
Aku berlari ke kolam renang. Duduk di pinggiran dan Memasukan kaki ku dalam nya.
__ADS_1
Aku masih memegang dada ku yang masih sesak. Aku kenapa? Tuhan ada apa dengan ku.