
Feby akui, tidak sepenuhnya salah yugo, dan dia menyesal telah menolak ajakan yugo untuk menikah waktu itu, Karena ia tidak berpikir yugo akan meninggalkan nya seperti ini.
Nasi sudah menjadi bubur. Feby hanya bisa melanjutkan hidup tanpa yugo lagi.
......🌺🌺🌺......
"Salah mu juga kenapa tiba tiba menghilang dan tidak memutuskan hubungan mu dahulu dengan feby sebelum melamar lidya!" ujar dimas.
"Kau tau apa anak kecil, dia yang salah kenapa menolak ku!" balas yugo.
"Ok, ya sudah, kalian berdua sama sama salah! puas!" seru dimas.
"Sudah sudah, kalian ini yah, bertengkar terus. Gak pernah akur, heran mamah" ujar mama.
Dimas berlari ke kamar karena ia tahun, kedua orang tua nya pasti membela kakak nya itu.
Keluarga Dimas sebenarnya dulu hampir berantakan, papa dan mama mereka pisah rumah tapi tidak bercerai, hanya talak 1, dimas ikut papah nya dan yugo ikut mamah.
Namun akhir nya pak Eric sadar akan kesalahannya dan mengajak bu windi untuk rujuk, hampir setahun lama nya mereka pisah rumah dulu. Sekarang keluarga mereka lengkap lagi meski pun anak anak mereka selalu bertengkar.
......🌺🌺🌺......
Aku menatap kalender. Semakin hari semakin mendekati hari itu. Hari pernikahan konyol ku.
Aku menatap foto mama.
"Mah, jika mama ada di sini apa mama akan membiarkan papa memaksa ku menikah seperti ini?" tanya ku pada foto yang sedang tersenyum kepada ku itu.
Aku lalu memeluk foto itu.
Ku lanjutkan mengerjakan tugas kuliah ku sebelum nanti aku cuti lagi untuk menikah, seperti nya bakal lama deh aku lulus nya jika seperti ini. Cita cita ku sebagai jaksa seperti nya pupus sudah, karena ku dengar peraturan untuk menjadi jaksa tidak boleh menikah sebelum pengangkatan atau sebelum 28 tahun. Tapi entah lah, itu hanya kabar simpang siur yang belum pasti.
Aku rindu putra. Yang selalu ada untuk mendengarkan semua keluh kesah ku.
Telepon ku tiba tiba berdering mengejutkan ku dari lamunan.
Putra? tumben? aku segera mengangkat telepon dari nya.
"Assalamualaikum, putra, bagaimana sekarang kabar mu?" seru ku.
"Alhamdulillah sedang proses pemulihan" jawab nya.
"Ah syukur lah kalo begitu, Alhamdulillah" jawab ku.
"Lidya, bulan depan aku akan pulang ke Indonesia, kata dokter, aku belum boleh kerja berat, jadi mama menyuruh ku untuk beristirahat selama setahun dulu baru nanti kuliah" seru putra.
"Oh ya, bagus dong, aku gak sabar ketemu kamu tapi..." jawab ku.
Tapi bulan depan aku menikah. Batin ku.
__ADS_1
"Tapi kenapa?" tanya nya.
"Ah gpp kok, di tunggu yah kedatangan nya kembali, aku rindu" seru ku bersemangat.
"Siap" jawab nya.
"Kamu tumben nelpon aku" tanya ku.
"Gpp kangen ajja, lagian sepi karena mama pulang ke penginapan dulu, kamu lagi ngapain?" jawab nya.
"Oh begitu, aku lagi ngerjain tugas kuliah nih nih" jawab ku.
"Wah sibuk nih yee, semangat, ya sudah aku mau istirahat lagi, selamat belajar" seru nya.
"Ih cepet banget sih" protes ku.
"Cepat apa nya, telpon nya? tenang, gak lama lagi aku pulang kok" ujar nya.
"Hem ya sudah, lekas sembuh yah ,jangan sakit sakit" jawab ku.
Kami pun mengakhiri telepon itu.
Keesokan hari nya di kampus.
Aku menatap dosen pengganti yang ada di depan ku ini. Ini bukan bukanlah kehaluan ku tapi kenyataan bahwa dosen di depan yang sedang mengajar ini akan jadi suami ku. Bagaimana yah jika nanti ada yang tau.
"Keren banget sih pak yugo, cuma agak garang sih tapi gpp tetap tampan" bisik wanita di samping ku.
Dia adalah Melissa. Teman kuliah ku.
Sepulang dari kampus aku bertemu lagi dengan pria tua yang berada di depan gerbang rumah ku dulu. Ia memakai topi dan jaket lusuh nya.
Langkah ku terhenti, entah kenapa aku takut melihat nya. Siapa sebenarnya orang itu.
"Kamu ngapain berdiri di tengah jalan, menghalangi jalan tau!" suara Yugo terdengar menyebalkan di belakang ku.
Tapi aku tidak beranjak karena ada pria tua itu di depan gerbang kampus.
"Kamu kenapa sih!" pekik nya sembari ikut menatap ke arah luar gerbang.
Aku harus menunggu orang tua itu pergi lalu aku akan pulang.
Yugo mendorong ku ke samping karena menghalangi jalan. Dan berjalan melewati ku.
"Eh tunggu!" ujar ku tiba tiba.
Yugo berbalik sesaat.
"Ada apa?" tanya nya.
__ADS_1
"Eh, gak jadi" jawab ku. Gengsi banget minta tolong sama mr.galak.
Mendengar jawaban ku yugo kembali berjalan menjauh. Aku hanya bisa memandang punggung nya yang semakin menjauh.
Pria tua itu tidak beranjak dari tempat nya.
Ku lihat mobil yugo mula bergerak dari parkiran.
Refleks aku berlari sekencang mungkin dan menghalangi yugo untuk melanjutkan perjalanan nya.
Yugo membuka kaca mobil nya dan mengumpat.
"Hey, ngapain sih di situ! hobby banget yah menghalangi jalan orang!" seru nya.
Aku berlari ke arah mobil nya dan berusaha membuka pintu mobil nya itu dengan panik.
Yugo yang bingung melihat ku hanya bisa membuka kunci dan membiarkan aku masuk.
Aku menutup wajah ku dengan jaket.
"Kamu ngapain sih, aneh banget!" pekik yugo.
Ku tutup mulut Yugo dengan satu jari ku.
"Ssst, gak usah banyak bacot. Antar aku pulang sekarang!" balas ku.
Yugo menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Mobil juga akhir nya melintas melewati gerbang kampus. Pria tua itu masih di sana menatap mobil kami, aku melihat nya dari spion mobil yugo.
Huft. Aku sedikit bernafas lega.
"Perasaan kamu bawa mobil kan, kenapa mobil nya di tinggal?" tanya yugo setelah agak jauh dari kampus.
"Aku bertemu orang asing , seorang pria tua dengan bekas luka di pipi nya, dulu aku melihat nya ada di depan gerbang rumah ku, menatap ke dalam rumah ku cukup lama, sekarang ia ada di depan gerbang kampus. Aku merasa risih dan ada firasat buruk ketika melihat nya, maka nya aku numpang dulu, masalah mobil nanti aku suruh supir yang mengambil nya" jelas ku.
Yugo tertawa.
"Wanita judes seperti mu bisa takut juga yah" seru nya.
"Judes...?" pekik ku namun aku tidak melanjutkan perjalanan ku karena aku melihat ada tante sifa di jalan.
"Berhenti di sini saja" pinta ku.
Yugo mengernyitkan dahi nya.
"Kok di sini, kan masih jauh?" jawab nya.
"Aku ada urusan sebentar, pulang lah duluan" jawab ku sambil keluar dari mobil dan pergi tanpa menoleh ke arah yugo sedikit pun.
__ADS_1
Yugo tersenyum sinis.
"Dasar bocil, bahkan dia tidak tau berkata terima kasih" ujar nya ringan sambil menggeleng kan kepala nya kesal melihat ku langsung pergi tanpa pamit.