Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 50.


__ADS_3

Malam hari nya semua keluarga berkumpul di ruang makan.


Papa menyuruh ku untuk segera turun untuk makan bersama.


Aku pun turun, Oma yang melihat ku langsung memalingkan wajah nya.


"Untuk apa dia di sini, dia bisa makan di tempat lain" ujar Oma pada papa.


Aku yang baru saja duduk memutuskan untuk pergi namun papa menahan ku.


"Membuat nafsu makan ku hilang saja" kata Oma lagi.


Aku pun pergi. Kembali ke kamar ku.


Melihat ku pergi Oma lalu mulai makan.


Ku ambil jaket ku di kamar dan membawa kunci mobil. Ketika mereka sibuk makan, aku pergi dari rumah membawa mobil.


Aku tancap gas ke jalan besar.


Mampir ke sebuah rumah makan Padang.


Handphone ku berkali berkali berdering. Namun aku mengabaikan nya.


Aku makan nasi Padang.


Putra menghubungi ku, lewat chat.


Putra: Di mana?


Aku tidak membalas nya.


Besok adalah hari pernikahan papa.


Setelah selesai makan aku melajukan mobil ku ke arah danau, seperti Biasa tempat ku melampiaskan segala penat ku.


Berteriak tidak jelas sampai suara ku hampir habis.


Sebuah mobil mendekati mobil ku.


Putra turun dari mobil nya dan menghampiri ku.


"Sudah ku katakan, aku selalu bisa menemukan mu" ujar putra.


Aku Diam saja mengabaikan nya.


"Ada apa kali ini? kau bisa cerita pada ku" kata putra.


"Tidak bisa kah orang tua kita tidak menikah?" tanya ku.


Putra tersenyum kecut.


"Tidak bisa, mereka memang ditakdirkan untuk bersama, berhenti lah menyalahkan takdir" jelas putra.


Aku duduk di atas rerumputan malam itu. Berbaring dan memandang bintang.


Putra mengikuti gaya ku.


"Langit akan tetap indah meski hati mu tidak, dunia akan tetap bersinar meski hidup mu gelap dan redup" seru nya.


"Seburuk apa pun, keluarga tetap lah tempat mu untuk pulang" kata putra.


Papa terus menelepon ku.


Sudah 13 panggilan tak terjawab.


"Iya, halo" akhir nya ku angkat juga panggilan itu.


"Kemana saja? pulang lah nak, maafkan Oma, Oma memang seperti itu, pulang yah sekarang" kata papa.


"Aku di rumah Tante Mona pa, tenang saja" jawab ku berbohong.


"Oh, ya sudah, nanti segera pulang yah" kata papa lagi.

__ADS_1


"Ok" jawab ku singkat.


Putra terkejut mendengar aku menyebut nama mama nya.


"Ayo" ajak ku. Putra terlihat bingung.


"Kemana?" tanya nya.


"Ke rumah mu sekarang" jawab ku.


"Kok tiba tiba?", tanya nya.


"Gak usah banyak bacot, keburu aku berubah pikiran" tegas ku.


Putra segera masuk ke mobil nya dan aku menyusul nya.


Terlihat rumah kontrakan sederhana dari luar.


Kami pun masuk. Tante Mona sedang sibuk merapikan sisa barang barang nya. Semua terkemas rapi seolah siap untuk pindah.


Tante Mona terkejut melihat ku datang.


"Eh, maaf yah rumah nya berantakan" ujar nya.


Ku lihat suasana rumah itu, kontrakan nya gelap dan sempit. Aku harus banyak bersyukur karena hidup mewah selama ini.


Peluh membasahi kening Tante mona.


Ia pun bangkit untuk membuat kan ku teh.


Beberapa menit kemudian dia hadir membawa kan ku secangkir teh hangat.


Aku ijin pamit ke toilet padahal hanya ingin melihat lihat rumah itu.


Melihat kondisi nya aku merinding, kotor sekali? apa mereka memang se susah ini?


Aku buru buru keluar kembali.


"Kok masih sempat jalan jalan sih, subuh nanti kita semua akan ke hotel kan?" tanya Tante Mona.


"Gpp, toh belum subuh", jawab ku.


Tante Mona menggeleng kepala mendengar jawaban ku.


Aku pun pamit karena sudah jam 10 malam.


Putra mengantar ke mobil.


Aku melaju menuju pulang ke rumah.


Papa dengan cemas menunggu ku di ruang tamu.


"Ah syukur lah kamu sudah datang" kata papa.


Subuh nanti kami semua ke hotel untuk persiapan acara. Di dandani dan lain lain.


Aku segera masuk ke kamar. Ngantuk sekali rasa nya. Aku pun tertidur.


Bi Minah membangunkan ku. Jam 5 subuh. Kami semua bergegas ke hotel. Untuk di make up.


Papa memboking beberapa kamar di hotel itu di luar dari budget wedding organizer. Jadi kami semua ikut nginap di hotel.


Jam 6.30 pagi ku pakai gaun ku. Senada dengan warna baju pengantin.


Jam 8 make up ku sudah selesai.


Aku pun turun ke bawah tempat acara. Sudah terlihat putra di sana memakai baju yang senada juga dengan ku.


1 jam lagi akad nikah akan di langsung kan.


Keluarga besar papa telah berkumpul.


Papa terlihat tampan memakai jas.

__ADS_1


Papa memang tampan.


Banyak media yang meliput. Aku tidak lagi bersembunyi di balik layar.


Papa sudah mengakui ku di depan publik.


Putra mendekati ku.


"Kamu cantik banget" puji nya.


"Kau mengejek ku?" pekik ku.


"Haha, gak lah, memang cantik kok" ujar nya.


Ah dia pasti mengejek karena cantik ku tidak alami seperti wanita lain.


Jam 9 akad berlangsung dengan lancar. Akhir nya papa menikah. Aku menitikkan air mata. Putra melihat ku. Memberi ku sapu tangan nya.


"Terima kasih" kata putra.


Setelah itu kami pun berfoto keluarga.


Selesai acara akan segera masuk ke kamar hotel ku.


Aku menangis lagi. Entah kenapa aku cengeng sekali akhir akhir ini.


Tiba tiba kamar hotel ku ada yang mengetuk.


Aku pun melihat siapa di luar sana.


"Papa?" aku mengelap air mata ku.


"Kamu sudah makan?, jangan lupa makan ya, jangan membuat papa cemas lagi" kata papa.


Ia sempat sempat nya menemui ku.


Aku hanya mengangguk.


Setelah papa pergi aku kembali ke kasur empuk ku. Ku pandangi ponsel ku.


Ternyata banyak panggilan tak terjawab dari teman teman sekolah ku. Jelas saja aku bolos sejak hari Jumat, 2 hari aku tidak masuk sekolah.


Aku kehilangan selera untuk belajar.


Baru sejenak berbaring. Ada lagi yang mengetuk pintu. Dengan kesal aku melangkahkan kakiku menuju pintu.


"Ada apa?" tanya ku.


"Boleh masuk? aku bawa banyak makanan nih" seru nya.


"Aku diet" jawab ku.


"Ayo lah, tidak ada diet di saat pesta seperti ini, Atau mau makan di luar", tawar nya.


Aku pun membuka pintu membiarkan nya masuk.


Putra membawa banyak sekali makanan ke dalam kamar ku.


"Dari mana semua ini?" tanya ku.


"Dari pesta lah. Pesta nya kan sudah selesai. Dan makanan nya masih banyak banget di prasmanan, kan mubazir kalo gak di makan. Maka nya aku bawa ke sini untuk kita makan bareng" jawab nya.


Aku geleng kepala.


Dia tidak malu ambil banyak makanan sebanyak itu?


Putra mulai makan dengan lahapnya, seperti ia sangat lapar, sekilas aku merasa iba melihat nya. Mungkin saja dia memang jarang bisa makan enak seperti ini maka nya dia sampai bertindak seperti itu.


Padahal aku enggan sekali untuk makan lagi. Tapi untuk menghargai nya aku mulai ikut makan bersama nya.


Putra makan pakai tangan? tidak pakai sendok.


Ya ,dia tidak bawa sendok kemari.

__ADS_1


Mau tidak mau aku pun ikut makan pakai tangan. Rasa nya nikmat sekali.


Baru kali ini aku merasakan sensasi makan seperti ini. Ah, jika tiap hari begini aku bisa gendut kembali. Desah ku.


__ADS_2