Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Sekolah


__ADS_3

Papa memeluk ku.


Tante Mona tersenyum senang.


"Alhamdulillah kamu sudah pulih" seru Tante Mona.


"Iya Tante Mona" ujar ku.


Putra mencubit pipi ku.


"Kok panggil Tante terus sih, panggil Mama, mama" protes putra sambil mencubit geram pipi ku.


"Ih sakit tau, iya iya. Mama" seru ku sambil memegang pipi ku yang merah akibat cubitan putra.


"Ya sudah, kalian makan dan istirahat lah ,pasti lelah kan" kata papa.


Aku mengangguk.


Tapi kami tidak makan karena sudah makan di rumah dimas. Kami ke kamar masing masing tanpa ngobrol lagi. Karena sangat lelah setelah mandi aku langsung tertidur lelap.


......🌺🌺🌺......


Aku berjalan ke arah taman sekolah. Tiba tiba Maisaroh mendatangi ku.


"Jangan pernah percaya mimpi, sebagian hanya bunga tidur mu, bukan petunjuk apa pun" ujar nya tiba tiba.


Aku menatap Mai aneh.


"Maksud nya Mai?" tanya ku bingung.


Mai hanya tersenyum pada ku kami pun duduk di taman itu.


"Entah lah, terlalu rumit untuk di jelaskan. Semoga saja kamu tidak terperdaya oleh mimpi mimpi mu" jawab Mai sambil menatap ke arah langit.


......🌺🌺🌺......


Aku tersentak dari tidur ku, terbangun, ternyata aku bermimpi. Ku lirik jam dinding di kamar ku. Pukul 02.00 dini hari.


Aku mengikuti saran putra untuk berwudhu dan berdoa sebelum tidur. Akhir akhir ini aku sering mimpi buruk.


Meski mimpi kali ini bukan mimpi buruk yah setidak nya aku mencegah mimpi mimpi buruk lain.


Keesokan hari nya.


Pagi aku terbangun, aku masuk kamar putra tanpa permisi seperti biasa nya. Tumben dia tidak berontak. Ku lihat dia menyisir rambut nya.


"Tumben kesini pagi pagi, gak siap siap berangkat ke sekolah?" tanya nya.


Aku menggeleng pelan. Aku masih ingin istirahat di rumah.


"Ya sudah kamu istirahat saja, sampai benar benar pulih, tapi jangan keterusan yah, kita gak lama lagi ulangan kenaikan kelas loh" seru putra.


"Iya bawel" jawab ku.


Aku bahkan belum mandi dan masih memakai baju tidur karakter. Entah lah pagi ini aku hanya ingin melihat putra.

__ADS_1


"Ada apa sih liatin aku terus, aku tampan yah pagi ini?" putra memuji diri sendiri.


Aku memasang tampang jijik tapi becanda. Ku lempar bantal ke arah nya.


"Ih rambut ku sudah rapi ini, udah pakai minyak rambut" protes nya karena bantal mengenai rambut nya.


Aku tertawa melihat nya marah.


"Melihat mu sudah kuat mengganggu ku berarti kamu sudah sehat, buruan siap siap ke sekolah ,masih ada waktu, jangan suka bolos nanti gak naik kelas." putra menarik tangan ku menuju keluar kamar nya dan memaksa ku untuk siap siap berangkat ke sekolah.


Sebenarnya aku malas sekali ke sekolah tapi karena putra memaksa akhir nya aku menurut.


Setelah siap aku menuju ke bawah untuk sarapan.


Aku hanya makan roti tawar dengan selai kacang. Dan air mineral 1 gelas. Aku gak boleh banyak makan lagi seperti dulu, aku takut kembali gendut. Membayangkan nya saja aku jadi merinding takut. Aku gak boleh gendut.


......🌺🌺🌺......


Kali ini aku ke sekolah di antar supir.


Sesampai nya di sana aku langsung melangkah masuk ke dalam kelas.


"Wah, ada Lidya Wijaya, bagaimana kabar mu hari ini? baik baik saja?" tanya Dimas.


"Iya,baik" jawab ku singkat sambil duduk di bangku ku.


Maisaroh datang menyambut ku.


"Adit belum bisa turun sekolah"seru nya lesu.


"Ya elah ,labay banget sih kayak suami nya lagi sakit ajja, pake galau segala" ejek Dimas.


Aku tertawa. Iya juga yah, kok Mai segitu panik nya saat Adit sakit. Apa sebenarnya dia suka sama Adit bukan Dimas, cuma dia ajja yang belum bisa menerka hati nya sendiri.


Ah entah lah.


Aku tiba tiba teringat mimpi ku. Semalam aku mimpi ngobrol dengan Maisaroh. Ah itu pasti bunga tidur saja. Tepis ku.


Tapi aku penasaran. Ku lirik Maharani.


Aku masih belum puas dengan jawaban Maharani tentang kenapa dia takut dengan Mai. Tapi untuk mengorek informasi itu tidak mudah. Maharani susah di ajak ngobrol serius. Paling dia jawab sesuai logika nya.


Sebentar lagi ulangan kenaikan kelas, aku gak boleh mikir aneh aneh. Harus fokus ke pelajaran. Titik. Tapi hati kecil ku merasa ada yang janggal.


Aku menenangkan pikiran ku di taman sekolah.


Seseorang menepuk pundak ku.


Ternyata Jesika.


"Ada apa?" sapa ku tanpa rasa takut sedikitpun.


Jesika berdiri di depan ku dan tiba tiba menyiram air mineral ke wajah ku.


"Ups sory, tangan ku licin" tawa jesika. Dia sengaja mengerjai ku

__ADS_1


"Mau kamu apa?" pekik ku sambil mencengkeram kuat lengan Jesika membuat botol itu jatuh dari tangan nya.


"Aduh, ih lepasin" seru Jesika mengaduh kesakitan.


Kebetulan Jesika sedang sendirian tanpa anggota geng nya.


"Kau jauh jauh datang hanya untuk menganggu ku? semua itu gak akan bisa membuat pacar mu itu keluar dari penjara!!!" pekik ku.


Jesika berusaha keluar dari cengkeraman tangan ku. Ia terus mengaduh kesakitan.


"Kakak kelas yang terhormat, harus nya kau belajar baik baik untuk ujian nasional, bukan nya malah buang buang waktu untuk bucin sok membela pacar kriminal mu itu. Dan mengganggu adik kelas mu ini, betul kan!" bentak ku.


"Hentikan monster plastik, kau mau membunuh ku??!!" pekik nya nyaring. Tapi karena suasana taman sedang sepi jadi tidak ada yang mendengar nya.


Ku dorong tubuh Jesika , ia mundur perlahan. Ku lap Wajah ku yang basah karena di siram Jesika. Lalu menatap nya sinis.


"Kau, anjing!" pekik nya.


Geng Jesika datang saat melihat Jesika tengah kesulitan menangani ku dari kejauhan.


Mereka berlima mulai mengganggu ku lagi.


Tapi kali ini aku sudah tidak takut lagi.


Sesungguhnya aku lagi malas meladeni mereka tapi karena mereka yang mulai aku pun terpancing emosi.


Mereka tidak terima aku membalas Jesika. Mereka mulai menyentuh ku.


Aku segera dengan sigap membalas mereka. Berbekal pelatihan bela diri ku dari ajaran putra aku pun membantai mereka semua. Meski baru belajar aku sudah menunjukkan ada kemajuan dalam diri ku yang lemah dulu.


"Belajar lah yang rajin, bukan saat nya main main" bisik ku di telinga Jesika yang sudah kalah melawan ku.


Jesika mengumpat kesal ke arah ku. Aku berbalik, tersenyum sinis dan memberi nya salam jari tengah.


Membuat nya semakin kesal. Apa lagi melihat geng nya juga kalah melawan ku.


"Bego banget sih, lawan 1 orang ajja kalian gak bisa!!!" bentak Jesika.


"Lo tuh yang bego, mana kami tau diam diam dia pandai berkelahi" umpat Lulu sambil memegang tubuh nya yang sakit akibat pukulan ku.


Pada akhir nya jadi mereka yang bertengkar. Aku hanya tertawa dari jauh melihat mereka.


Sesampai nya di kelas.


"Dari mana?" tanya Dimas.


"Cari angin, suntuk di kelas Mulu" jawab ku.


Mai menatapnku cemburu. Ia tidak suka melihat aku di perhatikan oleh Dimas.


Tapi aku bisa apa? menghindari Dimas?


"Eh dim, nanti pulang sekolah jalan jalan ke rumah ku yuk. Nanti ada banyak makanan kesukaan kamu loh" ajak Maisaroh.


Dimas seperti berpikir.

__ADS_1


"Hem kayak nya seru nih, sama Lidya juga kan" kata dimas sambil melirik ke arah ku


"Eh.....iya deh." seru Mai agak kecewa, karena sebenarnya dia mau hanya Dimas yang berkunjung ke rumah nya. Tapi kerena gak enak, Maisaroh mau tidak mau mengajak ku.


__ADS_2