Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 47.


__ADS_3

Aku dan Maisaroh segera melaporkan tindakan kakak kelas kepada Maimunah.


Kepala sekolah terkejut bukan main.


Keesokan hari nya orang tua dari ke 13 pelaku itu pun di panggil.


"Ini pasti fitnah. Anak ku tidak seperti itu" berontak para orang tua.


Aku dan Maisaroh duduk di kursi korban.


"Kami punya bukti" teriak Maisaroh, Seperti nya Maisaroh sudah kehabisan kesabaran.


"Ini kriminal, penganiayaan, bisa kena pasal 354 KUHP, jangan kira aku akan diam saja saudara ku diperlukan buruk seperti itu.


Karena kerap di bulli oleh mereka, saudara ku akhir nya mati. Tapi meski pun beliau sudah mati kriminal tetap lah kriminal. Aku Maisaroh akan segera menuntut kalian" kata Maisaroh sambil menunjuk para pelaku.


Mereka tertunduk malu, sempat akan terjadi penyerangan. Salah satu pelaku maju dan hendak menyakiti Maisaroh tapi Maisaroh bisa menepis nya. Apa kah dia lupa Maisaroh sabuk merah?


Pelaku nya ada 8 laki laki dan 5 perempuan.


Semua nama tercantum pada buku Maimunah sebelum dia mati.


Video pelecehan pun kini jadi bukti kuat. Video Maimunah yang benar benar di buat telanjang oleh mereka. Bayangkan betapa memaluakn nya itu, apa lagi sampai di video, belum lagi kekerasan lain yang mereka lakukan.


"Aku tidak bisa memaafkan kalian semua, aku tidak peduli kalian anak pejabat, atau anak presiden sekali pun, saudara ku menderita di akhir hidup nya, kalian tenang tenang saja,bahkan tertawa." pekik Maisaroh, ia sangat marah pada para pelaku dan orang tua mereka yang berusaha menutupi kejahatan anak nya. Pihak sekolah berusaha menenangkan Maisaroh.


"Bayangkan jika anak kalian di perlakukan seperti itu, apa kalian akan diam saja, apa anak kalian baik baik saja setelah itu, apa kalian bisa pastikan korban tidak stress dan mati bunuh diri karena itu?" Maisaroh tetap mengeluarkan unek-unek nya.


Tiba tiba orang tua Maisaroh datang, mama maisaroh memeluk nya.


Mereka pun menangis.


"Maafin mama yang kurang perhatian sama kalian" ujar nya. Ia baru tau ternyata anak nya jadi korban perundungan di sekolah nya.


Jika ia tau tentu ia setuju saat Mai meminta untuk pindah sekolah.


Ayah Maisaroh juga bukan orang sembarangan, ayah nya adalah seorang panglima TNI angkatan darat. Ia tidak bisa hadir karena sibuk.


Orang tua pelaku tidak bisa berbuat apa apa selain menandatangani surat pernyataan.


Keesokan hari nya polisi datang menangkap semua pelaku kejahatan itu. Mereka sudah kelas 3 SMA sekarang, Usia mereka 18 tahun.


Maisaroh tersenyum lega. Aku pun begitu.


Setelah semua terungkap kami berdua naik ke atap tempat di mana Maimunah pergi untuk selama nya.

__ADS_1


Kami berdua memandang langit, aku melambai seolah Mai melihat kami dari atas sana. Aku dan maisaroh menangis haru.


Aku melihat Mai, ia tersenyum kepada kami di sudut atap hingga menghilang dari pandangan ku selama nya.


Aku dan maisaroh mulai turun kembali ke dalam kelas. Anak anak yang sudah mendengar kabar itu heboh melihat kami.


"Kalo Maisaroh sih wajar jika ia sibuk membela saudara nya, tapi kenapa lily ikut ikutan sih, cari muka kali yah sama Maisaroh" bisik anak anak.


Maisaroh yang mendengar itu jadi naik pitam. Ia meremas kerah baju seragam renita.


"Jaga ucapan mu itu, jika tidak tau apa apa diam saja, Bacot!!!" pekik Maisaroh.


Aku terperangah melihat aksi nya membela ku.


Aku bahkan tidak terlalu mendengar apa yang renita katakan tentang aku.


Renita kesal dan pergi. Semua teman sekelas memang ingin akrab dengan Maisaroh karena tenar dan kepopulerannya. Tapi Maisaroh tipe yang tidak mudah bergaul. Hanya Adit dan Dimas teman akrab nya di kelas.


Kami pun duduk di bangku masing masing.


Seperti biasa Dimas mengganggu ku.


"Cantik, pulang sekolah jalan jalan yuk" ajak nya.


Adit menjitak kepala Dimas.


"Untuk merayakan keberhasilan kita menangkap pelaku perundungan saudara ku, aku yang traktir deh" kata Maisaroh.


"Asiiik" seru Dimas. Adit melirik sesaat kepada ku. Aku pun mengangguk tanda setuju.


Aku dan maisaroh ternyata sama sama bawa mobil sendiri ke sekolah.


Aku Dimas Adit dan Maisaroh tengah berjalan di lapangan sekolah menuju parkiran mobil dan motor kami.


Angin siang itu mengibas rambut panjang ku, banyak pasang mata menatap kami, seolah kami adalah artis.


Aku yang cantik berbadan tinggi langsing meski palsu.


Maisaroh si cantik natural, pintar, berbadan tinggi dan langsing. Tinggi ku hampir sama dengan maisaroh beda dikit ajja, Maisaroh lebih tinggi sedikit dari ku.


Adit berbadan atletis, berkulit putih,tinggi, agak cuek.


Dimas berwajah tampan, kulit nya sawo matang , macho banget, tapi suka jahilin orang.


"Jadi bagaimana donk. Gak asik jalan kalo kendaraan nya masing masing" ujar ku.

__ADS_1


Adit dan Dimas juga pakai motor masing2 ke sekolah.


"Aku punya ide, kita pulang ajja dulu ganti pakaian, baru kita jalan, aku yang jemput kalian deh, Aman" tawar Maisaroh.


Kami semua mengangguk setuju.


"Jadi nanti aku jemput Adit duluan yah, supaya dia yang bawa mobil, setelah itu jemput Dimas dan lili" kata Maisaroh antusias.


Kami pun pulang ke rumah masing masing.


Aku sibuk mencari baju apa yang akan aku kenakan nanti. Ku beri tahu google map pada Maisaroh agar ia gampang menemukan lokasi rumah ku.


Kabar nya Mereka sudah berkumpul, dan otw untuk menjemput ku.


Aku panik dan segera menyelesaikan persiapan jalan ku.


"Mau kemana?" tanya papa tiba tiba.


"Tumben jam segini sudah pulang" seru ku.


"Lusa aku nikah, jadi sibuk persiapan pernikahan, harus nya kau tidak keluyuran" pekik papa.


"Yang nikah kamu, kenapa harus aku yang sibuk, dah papah" ejek ku.


"Anak durhaka!" pekik papa.


Aku lalu kabur ke depan gerbang rumah ku, sengaja aku berjalan agak jauh, Supaya Teman teman tidak melihat rumah ku.


Mobil pun datang. Aku segera masuk ke dalam mobil. Di belakang bersama Dimas.


Adit dan Maisaroh di depan.


"Emm saroh, boleh gak aku panggil kamu Mai saja?" tanya ku.


"Ih gemes banget sih, ya gpp lah, kan sama ajja" kata Maisaroh pada ku.


"Iya nih, gitu ajja pake ijin segala" seru Dimas.


"Ihh diem ajja Lo" protes ku.


Adit melihat ku dan Dimas dari balik kaca spion tengah mobil. Ia diam saja tidak banyak bersuara.


"Lo kenapa dit, diam ajja kek orang sariawan hahahaha" tawa Dimas.


Adit hanya melotot, ia tidak suka Dimas menertawai nya seperti itu.

__ADS_1


"Udah deh dim, gak usah jahilin Adit entar dia nda fokus berkendara" kata Maisaroh mengingatkan.


"Iya deh iya, garing Banget" kata Dimas.


__ADS_2