
Dimas hanya diam tidak menjawab pertanyaan papah nya. Obrolan mereka pun terhenti ketika Yugo memanggil papa nya untuk masuk ke dalam gedung.
Dimas kembali ke teman temannya untuk mendiskusikan perjalanan mereka ke waduk belakangan.
"Ya elah, lu ngapain sih bawa bawa beginian,kita kan sedang jalan jalan, bukan saat nya belajar" protes Roni ke Bimo yang membawa buku novel.
Bimo memang hobby membaca.
"Ini novel, bukan buku pelajaran kali" bantah Bimo.
Roni merampas buku itu dan membaca judul di sampul nya "Ketika Tuhan Jatuh Cinta" karya Wahyu sujani.
"Ini kan novel lawas banget" seru Roni.
"Gpp, aku suka novel novel jaman dulu dari pada yang sekarang" balas Bimo.
"Hmm, terserah deh" jawab Roni.
Aku menatap mereka sesaat lalu menatap keluar jendela.
Teman teman mulai siap siap untuk kesana kecuali aku tentu nya.
"Malas banget kemana mana, aku di sini ajja yah" ujar ku.
"Tidak, satu orang tidak ikut jalan jalan nya batal!" proses Dimas.
Aku menghela nafas panjang saat yang lain menatap ku tajam.
"Ya sudah, ok ok aku ikut" jawab ku pasrah.
Mereka pun tersenyum senang.
Aku hanya memakai Hoodie sweater dan ransel kecil tempat handphone dan dompet.
Kami memakai sepeda untuk ke sana.
Sesampai nya di lokasi semua tertegun dengan keindahan alam di sekitar kami.
Semua berlari mengambil spot terbaik untuk berfoto.
Aku kagum tapi biasa saja, tidak seheboh mereka. Aku duduk di salah satu rumput kering sembari menikmati pemandangan.
"Seperti nya kamu gak menikmati nya" seru Roni.
"Terlalu banyak hal yang ku pikirkan" jawab ku.
__ADS_1
"Kamu kenapa, yok cerita yok" seru Roni lagi.
"Terlalu panjang untuk di ceritakan, nikmati saja jalan jalan nya, jangan hiraukan aku" ujar ku.
"Yah, jangan galau galau dong, ayo" Roni menarik tangan ku untuk bergabung bersama yang lain.
"Piiss" seru teman teman menghadap ke kamera, aku dengan terpaksa ikut memasang senyum. Senyum palsu.
Setelah asik berfoto Dimas yang sudah memasang tikar mengajak kami untuk makan siang. Ia membuka rantangan yang sudah ia pesan pada ibuk ibuk pekerja di kebun teh milik keluarga nya.
Ku rain botol minuman.
Mengingatkan ku kejadian dengan Mr.galak.
Dimas menepuk pundak ku.
"Kok melamun liatin minuman botol itu?" tanya nya.
"Eh, gpp kok. Kita masi lama di sini?" tanya ku balik.
"Kenapa sih, kamu gak nyaman? buru buru banget mau pulang, ih nda asik" jawab Dimas.
"Bukan gitu, perut ku sakit seperti nya akan datang sesuatu" seru ku.
"Anu, itu, biasa lah perempuan, gak lucu kan kalo datang tiba tiba di sini" protes ku.
Dimas mengernyitkan dahi.
"Alah sok mikir Lo, padahal udah tau kan maksud ku apa" jawab.
Dimas menggeleng tapi abis tu tertawa.
"Haha iya tau, ya udah kamu pulang duluan saja, sini ku anterin" seru Dimas.
Baru saja aku hendak berdiri ternyata sudah keluar aja sesuatu itu, di saat yang tidak tepat.
celana ku sudah ada bercak nya.
Huft malu banget.
Dimas panik dan segera melepaskan jaket nya lalu memakaikan di pinggang ku, lalu mengikat 2 sisi lengan nya. Kanan kiri di depan ku.
"Maaf yah" seru nya saat selesai mengikat jaket nya.
Bagian bokong ku sudah tertutup sempurna.
__ADS_1
"Terus bagaimana sekarang?" tanya ku.
Dimas seperti berpikir lalu mengambil sepeda nya.
"Ayo ku antar kembali ke villa" seru dimas.
Tanpa pikir panjang aku langsung naik ke sepeda itu, duduk menyamping.
Teman teman kaget melihat kami buru buru pulang.
"Loh dim, Mau kemana?!" pekik Roni.
"Antar nona muda balik ke villa dulu, dia gak enak badan" teriak Dimas.
"Oh baik lah, hati hati ya, tapi balik lagi kan?" seru Roni.
"Iya cuma ngantar doang kok" jawab Dimas nyaring.
Perjalanan cukup jauh kembali ke villa sekitar 20 menitan jika naik sepeda.
Kami telah sampai di perkebunan teh. Pekerja di sana melihat kami sambil tersenyum.
Hampir semua menyapa Dimas.
"Hati hati kerja nya ibu cantik" seru Dimas pada pekerja wanita paruh baya.
Ibu ibu itu tersenyum manis sambil mengangguk.
Akhirnya kami sampai di villa.
"Kamu yakin gpp aku tinggal sendiri?" tanya Dimas khawatir.
"Iya gpp kok, makasih yah, kembali lah, teman teman lain pasti sedang menunggu mu" jawab ku.
Dimas mengangguk dan melambaikan tangan.
Aku segera masuk ke dalam villa untuk memasang pembalut. Syukur di dalam tas ku selalu ada persediaan pembalut dan minyak kayu putih. Berjaga jaga saja, karena aku berbeda dengan wanita lain. Biasa nya wanita lain akan datang bulan sekali saja, tapi aku dalam satu bulan biasa nya kena 2 kali.
Maka nya selalu membawa pembalut kemana pun.
Huft. Sudah ke dokter tapi kata dokter hanya hormon. Ya sudah lah, nikmati saja.
Ku sapu minyak kayu putih di sekitar perut ku yang keram. Aku harus minum sesuatu yang hangat hangat. Dan kelebihan ku yang lain, ketika datang bulan aku kadang mual dan muntah seperti orang sedang ngidam. Huft. Tapi itu jarang terjadi. Syukur kali ini hanya keram.
Ku raih termos air hangat yang berada di sisi meja. Syukur lah ada isi nya.
__ADS_1