
Setelah asik ngobrol sambil menunggu bus datang.
Akhir nya bus kami datang juga.
Bus bergerak berhenti tepat di depan halte tempat kami menunggu.
Perjalanan cukup jauh jika dari rumah kami. Jika dari sekolah tidak terlalu jauh.
Ku pandangi lagi langit malam itu.
Masih cantik. Indah.
Ku lihat putra sedang ngantuk dan mulai tertidur.
Beberapa menit kemudian kami sampai di halte berikut nya, dekat dengan rumah kami.
"Putra, bangun, udah sampai nih" seru ku sambil menggoyang kan tubuh putra.
Putra mengerjapkan mata nya.
Ia pun terbangun dan kami turun dari bus.
Kami berjalan kaki ke rumah. Lumayan bakar kalori, pikir ku.
Sesampai nya di rumah kami langsung istirahat .
......🌺🌺🌺......
Keesokan hari nya.
"Minggu depan ulangan kenaikan kelas sungguh menyebalkan !!" umpat Dimas.
"Sabar dim" seru Mai.
Adit terlihat segar memasuki kelas. Mai langsung menyambut nya.
"Lily mana? kok gak ada?" tanya Adit.
Mai langsung cemberut.
"Nyari kok yang gak ada sih, yang ada ajja Napa" protes Mai.
"Kalo ada ngapain di cari" celetuk Adit.
"Iya juga , gak biasa nya Lidya terlambat?" seru Dimas khawatirkan.
" 5 menit lagi masukan loh, jam pelajaran akan segera di mulai. Atau dia terlambat?" seru Adit.
Mai mengangkat bahu tanda tidak tahu. Ada raut kecewa di wajah cantik nya.
Aku tergesa gesa masuk ke dalam kelas. Huft hampir saja aku terlambat. Teman teman langsung menyambut ku. Aku segera duduk di bangku ku. Nafas ku masih tersengal-sengal karena berlari mengejar gerbang sekolah yang hampir tertutup. Ahk syukur lah.
Ku pegang dada ku menenangkan jantung ku yang berdegup kencang akibat berlari.
Pak Budi akhirnya masuk kelas.
"Anak anak, kita kedatangan murid baru, semoga kalian cepat akrab ya," seru pak Budi.
__ADS_1
Semua lalu bersemangat menoleh ke arah pintu kelas. Penasaran dengan murid pindahan.
Kenapa ada murid pindahan di saat akan ulangan kenaikan kelas seperti sekarang ini?
Aneh. Kenapa dia tidak menunggu sekalian selesai bagi raport. Ah bukan urusan ku. Ayo lah Lidya, jangan suka mencampuri urusan orang lain. Fokus belajar. Batin ku.
Seorang anak laki laki yang sangat aku kenal masuk ke dalam kelas.
"Hay perkenalkan nama saya Bimo, pindahan dari SMA cahaya, salam kenal" seru Bimo.
Aku melotot melihat siapa di hadapan ku.
"Bimo!!!" pekik ku dalam hati.
Aku berpura-pura tidak mengenal nya, seperti mau nya, melupakan semua tentang persahabatan kami yang terjalin sejak kecil itu.
"Silahkan duduk di bangku yang kosong itu yah" tunjuk pak Budi ke arah bangku di samping Maharani.
Seketika kelas riuh ramai menyambut kedatangan Bimo. Gadis gadis mulai tebar pesona. Karena Bimo selain tampan badan nya juga atletis membuat wanita terpesona melihat nya. Maisaroh sampai tidak berkedip memperhatikan Bimo diam diam.
Cih, pasti besar kepala si Bimo itu di godain cewe cewe di kelas ini.
Hem apa kabar Siska?
Bimo berhenti tepat di depan meja ku sekilas, ia tersenyum lalu berjalan menuju bangku kosong di samping Maharani.
Konon bangku itu keramat. Siapa yang duduk di sana akan tertimpa sial.
Ada ada saja kelas ini membuat mitos seperti itu. Maharani diam saja, akhir nya ada juga teman yang duduk di samping nya setelah sekian abad duduk sendirian.
Aneh.
"Anak anak, bapak ada keperluan sebentar. Kalian catat saja materi yang bapak kasi yah, sekertaris tolong catat ini di papan tulis" pamit pak Budi. Sekertaris kelas langsung berdiri maju ke depan kelas untuk mencatat materi dari pak Budi.
Setelah kepergian pak Budi dari balik pintu, kelas jadi rame sekali, anak anak mulai ribut nyamperin meja Bimo.
Maharani terlihat risih karena tidak pernah selama hidup nya bangku yang ia tempati menjadi seramai ini. Karena bertepatan di sebelah bangku Bimo.
Hampir semua gadis di kelas ngajak kenalan ke Bimo.
Aku menoleh ke bangku nya.
"Huft, apa yang dia rencanakan sih pindah ke sini" keluh ku.
"Apa kamu bilang Li? kamu kenal anak baru itu?" tanya Maisaroh.
"Eh ,iya ,dia teman sekelas ku di SMA cahaya dulu" jawab ku.
"Wah, hebat dong, tapi kenapa dia pindah?" tanya mai lagi.
"Entahlah, tanya ajja sendiri ke orang nya" jawab ku.
Aku sendiri sebenarnya penasaran.
Tapi aku terlalu gengsi untuk bertanya.
Aku harus tanya putra. Putra kan sekelas dengan nya juga. Pasti terjadi sesuatu di sana.
__ADS_1
Jam istirahat semua berhamburan keluar kelas seolah kantin akan lari jika mereka tidak mengejar nya. Aku hanya menggeleng pelan.
Kesempatan nih. Maisaroh ke toilet. Aku mengajak Adit dan Dimas sekaligus untuk bicara di luar kelas.
Kami ke taman sekolah. Duduk bertiga.
"Sebelum nya terima kasih karena kalian menyukai ku, tapi kita semua sahabatan, jangan hancurkan itu karena perasaan pribadi kita. Aku minta maaf karena gak bisa menjadi pacar salah satu di antara kalian, aku benar benar minta maaf" jelas ku.
Adit dan Dimas terlihat kecewa tapi akhir nya mereka lega karena sudah mendapat jawaban meskipun tidak sesuai dengan harapan mereka.
Mai dari jauh berlari ke arah kami.
"Ih pantesan di cari gak ketemu ternyata kalian di sini" proses Mai kesal.
Tiba tiba Bimo memanggil ku.
"Lidya" seru nya.
Kami semua menoleh ke arah nya.
Aku lalu mengabaikan nya.
Merasa di abaikan Bimo memberanikan diri mendekati ku.
"Lidya aku mau bicara" seru Bimo.
"Gak ada yang perlu di bicarakan lagi Bim" tolak ku.
"Tapi..." kalimat Bimo terhenti karena Dimas pasang badan untuk mencegah Bimo mendekati ku.
"Ada apa bro, sini bicara sama aku ajja haha" Dimas mulai jahil.
Karena merasa tidak ada kesempatan Bimo akhir nya pergi.
Mereka ber 3 langsung memberondong ku dengan banyak sekali pertanyaan.
Dan aku memilih untuk tidak menjawab nya. Cukup putra saja yang tau apa yang terjadi antara aku dan bimo. Aku tidak ingin teman teman tau kedekatan ku dengan Bimo di masa lalu sesuai dengan keinginannya. Untuk melupakan masa lalu.
Mai menatap ku datar, aku tidak mengerti arti dari ekspresi nya itu.
Ia seperti tidak senang melihat ku. Dan aku gak ngerti kenapa. Aku sudah mengikuti kemauan nya untuk tidak menerima cinta nya Dimas. Aku juga menolak Adit jika memang dia suka kedua nya jadi apa lagi yang dia cemburu kan pada ku.
"Aku lapar" kata ku akhir nya dan berdiri menuju kantin. Dimas dan Adit juga berdiri mengikuti ku.
Tiba tiba Maisaroh melarang mereka mengikuti ku.
"Aku tidak lapar, temani aku di sini" seru Mai.
Aku sudah agak jauh dari taman ketika Mai berkata seperti itu pada Dimas dan adit.
"Tapi Kami lapar juga loh, biasa nya juga kamu ikut ngumpul di kantin meski gak ikut makan, beli minum ajja seperti biasa" ujar Dimas.
"Kalian sahabat ku atau sahabat nya Lily sih!!!" bentak Mai.
Dimas dan Adit saling bertatapan.
"Kamu kenapa?" tanya Adit bingung.
__ADS_1