
Hay pembaca setia, bagaimana lebaran nya, menyenangkan? atau malah sebalik nya.
Bagaimana pun suasana hati kalian, semoga semua baik baik saja.
Selamat hari raya ke 3 :)
Salam manis,
Author.
Lanjut.
Aku dan bimo saling pandang sesaat. Ingin sekali aku teriak dan memeluk Bimo seperti biasa nya. Akan kan dia menerima perubahan ku?
Menjelang magrib.
Tugas kelompok mereka akhir nya selesai juga.
Putra mengajak Bimo sholat di masjid, Bimo yang biasa nya sholat di rumah pun akhir nya ikut juga.
Sebagian teman sudah pulang.
Aku hanya bisa menunggu Mereke pulang di rumah Bimo.
Ku tatap nomun yang sedang manja di pangkuan ku.
Seketika air mata ku keluar dengan sendiri nya tanpa sebab yang jelas. Ku usap air mata ku lalu mulai membersihkan ruang tamu itu.
Terdengar suara deru mobil di depan.
Seperti nya mereka sudah pulang.
Putra dan Bimo pun masuk.
Aku gugup setengah mati. Putra menepuk pundak ku, menguatkan ku.
"Sekarang saat nya, semangat, ada aku", bisik nya.
Bimo terlihat bingung dengan ekspresi ku.
"Eh Bim, aku mau ngomong sesuatu" ujar ku.
Aku berusaha mengatur nafas ku, untuk menenangkan diri.
"Ngomong ajja Li, ada apa?" tanya nya.
Ku lirik Putra keluar perlahan ke teras meninggalkan kami.
"Em, aku, aku.....", aku tidak mampu mengatakan nya. Lidah ku kelu.
"Iya, kamu kenapa?" tanya Bimo dengan sabar.
"Kamu janji dulu gak akan marah?" seru ku.
__ADS_1
"Haha kenapa aku harus marah?" jawab nya.
Aku menunduk.
"Sebenar nya aku, aku, Lidya si gendut sahabat mu" ujar ku perlahan.
Aku menunggu reaksi dari bimo.
Ia tidak terlihat terkejut.
Ia menatap ku dalam. Membuat ku semakin tidak enak.
"Aku sudah tau" jawab ku ringan.
"A, apa!!!" pekik ku kaget.
Kenapa jadi aku yang terkejut?
"Sudah terlalu lama aku menunggu mu untuk jujur pada ku, tapi kau terus membohongi ku dan diri mu sendiri. Aku sungguh kecewa pada mu, kau bahkan menghindari ku, mengganti nomor ponsel mu, kau pergi tanpa kabar dan jejak. Meski pun terlambat, terima kasih" jelas Bimo.
Air mata ku turun, aku merasa sangat bersalah.
"Maafin aku Bim, aku, aku takut, aku takut kamu kecewa dengan perubahan ku" ujar ku sesenggukan.
"Aku lebih kecewa karena kau membohongi ku, ini kah yang kau sebut sahabat? bisa bisa nya kau sembunyikan hal besar seperti itu pada ku, Lidya yang dulu tidak begitu. Kau bukan Lidya." pekik Bimo kecewa.
Aku menangis lebih dalam. Putra di luar membiarkan kami ngobrol.
"Maafin aku..." ujar ku sambil terus menangis tak berhenti.
Mata ku semakin bengkak karena terlalu banyak menangis.
Aku berlari keluar.
Putra terkejut melihat ku tiba tiba memeluk nya.
Putra mengelus kepala ku tanpa berkata apa pun. Putra menuntun ku kembali ke dalam menemui Bimo.
"Aku bahkan tidak tau latar belakang keluarga nya, apa kami benar benar bersahabat?" tanya Bimo ke putra.
Aku tidak mampu lagi berkata kata.
"Banyak hal yang tidak kamu ketahui. Lidya telah mengalami banyak hal, mulai dari kdrt, tidak di akui oleh keluarga nya sendiri. papa nya juga tidak mengakui nya sebagai anak, itu alasan mengapa ia menyembunyikan identitas keluarga nya. Karena papa nya yang menyuruh nya untuk merahasiakan nya, mama kandung Lidya telah lama meninggal setelah melahirkan nys. Aku tau Lidya salah pada mu, tapi maafkan lah dia, dia terlalu takut untuk menghubungi mu. Aku adalah saudara tiri nya. Orang tua kami baru saja menikah" jelas putra.
Aku masih bersembunyi di balik tubuh putra.
Bimo terkejut mendengar penjelasan putra.
"Aku sudah lama memaafkan nya, aku cuma kecewa. Karena jika kami adalah sahabat tentu nya tidak ada yang kami sembunyikan" kata Bimo
Suasana hening sesaat. Semua larut dalam lamunan masing masing.
"Bagaimana bisa kau pacaran dengan Siska? yang sering membully mu dengan Lidya dulu?" tanya putra.
__ADS_1
"Siska memang bukan orang baik tapi setidak nya ia tidak berbohong pada ku, semua orang bisa berubah, benci jadi cinta, cinta jadi benci, Baik jadi jahat, jahat jadi baik. " ujar Bimo.
Hati ku teriris iris mendengar nya.
"Baik lah, hanya itu yang mau aku sampaikan. Di maafkan atau tidak itu urusan mu, maaf mengganggu waktu mu, putra ayo kita pulang" tegas ku.
Putra menurut, ia pamit ke Bimo dan kami pergi sesegera mungkin.
Dalam mobil selama perjalanan aku masih menangis. Aku benar benar kehilangan Bimo kali ini. Hati ku sakit sekali. Ku pegang dada ku dan menepuk nya untuk menguatkan. Putra memberi ku ruang dan waktu untuk mengekspresikan kegalauan hati ku saat ini.
"Kita langsung pulang?" tanya nya.
Aku hanya mengangguk.
Perjalanan tidak jauh. Kami telah sampai di rumah megah itu lagi.
Aku langsung berlari ke kamar.
Kembali larut dalam kegalauan.
Papa dan Tante Mona terkejut melihat ku pulang dalam keadaan menangis.
Mereka bertanya kepada putra. Putra pun menceritakan kepada mereka.
Tante Mona memberanikan diri masuk ke kamar ku.
Di atas springbad ku tumpahkan lagi air mata ku.
"Eh, Lidya maaf jika mama lancang" ujar Tante Mona yang sudah ada di samping ku.
"Keluar!!!" pekik ku.
Aku sedang tidak ingin di ganggu siapa pun.
Tante Mona dengan sabar menemani ku hingga sedikit tenang.
"Sayang, hidup itu memang gak selalu bahagia, pasti ada masa di mana kita sedih, marah, kecewa, sakit hati, semua nya pasti akan terlewatkan oleh masa kok. Jadi jangan larut ya galau nya", Nasehat Tante Mona.
Aku melirik sekilas ke arah nya dari balik selimut.
Ia membuka selimut ku. Lalu menyuruh ku bangun. Ia menuntun ku keluar balkon.
"Lihat lah, bulan dan bintang bintang itu, indah kan. Semua akan baik baik saja. Hidup mu boleh hancur ,galau dan lain lain, tapi dunia akan tetap indah untuk menemani mu, dalam suasana hati apa pun" jelas Tante Mona.
"Emang Tante pernah patah hati?" tanya ku. entah kenapa aku lebih nyaman memanggil nya Tante.
Tante Mona tersenyum.
"Bukan patah lagi, tapi hancur" ujar nya.
Tante Mona lalu memperlihat kan bekal luka di lengan nya, bekas luka yang sangat dalam.
Ia lalu menceritakan tentang kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dia alami bersama putra nya.
__ADS_1
"Kamu masih remaja nak, kehidupan orang dewasa itu berkali lipat lebih keras, jadi kamu harus jadi orang kuat, tidak ada manusia yang sempurna. Berbuat baik lah meski tidak di balas baik oleh orang lain" Nasehat Tante Mona.