
Esok nya pak rudi dan Yugo fokus mencari lidya yang menghilang. Bahkan pak rudi memasang tarif tinggi untuk siapa pun yang menemukan anak nya.
Tiba saat nya mereka pun bertemu. Pak rudi dengan om rado.
"Kembali kan anak ku, siapa kau sebenarnya, kenapa menculik anak ku, jika terjadi sesuatu kepada nya aku pastikan kamu mati sebelum keluar dari tempat ini" ancam pak rudi wijaya pada om rado. Mereka bertemu di sebuah restoran termewah di kota itu.
Mudah bagi seorang rudi wijaya menemukan pelaku nya.
Om rudi tertawa.
"Anak? sejak kapan kamu mengakui nya anak? aku akan mengambil kembali keponakan ku, aku tidak akan pernah membiarkan mu menyiksa nya lagi!" bentak om rado.
"Maksud mu? siapa kau!" tanya pak rudi lagi.
Om rado tersenyum sinis. Bekas luka di pipi nya terlihat jelas.
"Aku rado. Kakak kandung leni, wanita yang telah kau hamili dan kau tinggalkan begitu saja, masih ingat kah kau penghinaan keluarga mu terhadap leni dan keluarga ku, di mana saja kau selama leni mengandung dan melahirkan, tidak sekali pun kau menjenguk nya dalam kesakitan nya" pekik om rado.
"Bagaimana pun juga, keluarga ku sudah menanggung segala keperluan nya saat mengandung sampai melahirkan, dan setelah leni meninggal, aku lah yang merawat anak itu sampai saat ini, harus nya aku yang berkata 'sejak kapan kau mengakui nya sebagai keponakan? lalu tiba tiba kau datang menculiknya dan sebut diri mu paman?" balas rudi wijaya tidak kalah sinis.
Om rado tertawa lagi.
"Aku tau kau tidak menganggap nya anak sampai dia duduk di bangku SMA, kenapa tiba tiba kau berubah pikiran sekarang? mengakuinya? apa karena dulu dia jelek dan gendut? kau malu? setelah dia berubah baru kau mengakui nya sebagai anak? keterlaluan kamu rudi!" jawab om rado.
"Aku memang cuek tapi lidya tidak pernah kekurangan materi sedikit pun, aku memenuhi semua kebutuhan nya, dia gendut karena terlalu banyak menikmati segala yang ku berikan, dia juga berubah atas kemauan nya sendiri. Dia setuju. Memang benar dulu aku tidak menginginkan anak ini tapi aku sadar bagaimana pun keras nya aku menolak, lidya tetap lah anak ku, darah daging ku. Aku tidak bisa menyerahkan nya pada mu, orang asing yang tiba tiba datang untuk memelihara nya? lidya sudah besar, sudah dewasa, dia berhak menentukan hidup nya" seru pak rudi.
"Apa? menentukan hidup kata mu? kamu bahkan memaksa nya menikah dengan laki laki pilihan mu, bukan kah itu egois wahai pak rudi wijaya yang terhormat" pekik om rado.
"Aku melakukan itu untuk kebaikan nya. Kebaikan anak ku, tidak ada hubungannya dengan mu!" balas pak rudi.
Om rudi tersenyum sinis.
Aku dan tante sifa pun melangkah masuk ke tempat mereka berdebat.
__ADS_1
Rudi terperanjat saat melihat tante sifa. Ia bahkan hampir jatuh dari tempat duduk nya.
"Le.. leni?" ujar nya.
"Hahaha, lihat lah diri mu, bahkan tidak bisa membedakan orang, bagaimana bisa orang seperti mu mengurus anak" kata om rudi.
"Pah, ini tante sifa, tante nya Maharani yang dulu makeup menor itu" jelas ku.
Pak rudi tertegun melihat wajah asli tante sifa yang sangat mirip leni.
"Kamu benar nak, ternyata wajah asli orang ini mirip mama kamu" jawab pak rudi pada ku.
Melihat ku datang, papa langsung menarik tangan ku untuk menjauh dari om rado tapi aku menghempaskan tangan itu.
"Lidya! ada apa? kamu gak mau kembali sama papa?" tanya papa bingung.
"Lihat lah, anak mu saja tidak mau ikut bersama mu" ejek om rado.
Aku memegang tangan tante sifa.
Dia merasa leni hidup lagi dan memegang tangan lidya di hadapan nya.
"Serahkan hak asuk kepada kami, tugas mu sebagai ayah nya sudah selesai, kami tidak bisa membiarkan mu menjodohkan nya dengan laki laki pilihan mu" ujar om rado.
Papa memandang ku.
Aku terdiam.
"Tidak bisa, dia anak ku, aku yang paling berhak atas diri nya, aku papa nya!" pekik papa.
"Papa yang kejam maksud mu?!" balas om rado.
Papa terdiam. Teringat segala kekerasan nya terhadap lidya dulu. Dulu Dia memang telah bersalah.
__ADS_1
"Gak bisa jawab kan, sudah lah rudi. Sudahi semua ini, biarkan lidya hidup dengan tenang sekarang, selama bersama mu seperti nya anak ini tidak bahagia, hidup nya penuh masalah" ujar om rado.
Tidak di sangka sangka putra dan mama datang juga ke tempat ini. Aku sangat terkejut. Sejak kapan mereka pulang.
"Ada apa ini mas, siapa mereka semua?" tanya mama khawatir.
Ku lihat Putra memakai jaket berwarna hitam dan menutupi kepala nya dengan penutup kepala di jaket itu, karena kepala nya hampir botak akibat kemoterapi.
Aku ingin berlari memeluk putra tapi tangan tante sifa menahan ku.
Yugo pun yang berada di samping pak rudi dan diam sejak tadi dengan sabar menjelaskan semua nya.
Putra sangat terkejut. Mereka pulang ke tanah air lebih awal untuk melihat lidya menikah, mereka ingin hadir di hari pernikahan itu. Tapi justru masalah ini yang mereka dapatkan.
"Baik lah, sebelum nya, aku harus Pastikan bahwa lidya memang sudah tidak mau hidup bersama aku lagi, bersama papa nya, jika dia memilih hidup bersama kalian, aku akan serahkan dengan ikhlas tapi jika dia ingin tetap bersama ku, aku akan melanjutkan perjodohannya. Karena semua rencana ku sudah hampir selesai sebelum kalian datang untuk menghancurkan nya." Suara rudi wijaya bergetar seperti menahan kesedihannya. Ia akan kehilangan anaknya satu satu nya.
Semua terasa sangat berharga ketika kita kehilangan. Dan rudi baru mengetahui itu, mengetahui bahwa dia sangat menyayangi anak nya.
Aku dilema, di satu sisi aku tidak mau di jodohkan, di satu sisi aku tidak mau kehilangan papa dan putra.
"Lidya jawab lah" rado mempersilahkan ku untuk menjawab.
Aku menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu. Jika aku pilih papa aku akan menikah dengan yugo. Jika aku pilih om rado aku akan kehilangan papa dan putra sekaligus.
Bagaimana pun juga papa sudah merawat ku hingga sebesar ini.
Papa, aku baru saja akur dengan nya, aku sayang sama papa, harus kah kami berpisah setelah akhir nya bisa menjadi ayah dan anak yang normal seperti yang lain nya?
Air mata ku tahan. Aku harus mengalah. Aku tidak bisa meninggalkan papa.
Tante sifa menggenggam tangan ku, hangat Layak nya kasih sayang seorang ibu pada anak nya.
Hangat yang tidak pernah aku dapatkan dari ibu kandung ku atau dari ibu lain. Mama mona memang baik tapi aku tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini.
__ADS_1
Tuhan, aku harus bagaimana.
Air mata ku mengalir. Aku dilema.