Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Pacaran.


__ADS_3

"Siapa maksud kamu, gak ada orang di situ?" protes sumi.


Aku pun menolak kembali ke arah devan, dan dia sudah tidak ada di sana, mungkin sudah pergi. Tapi kok cepat sekali?


"Tadi ada orang di sana, devan nama nya" jelas ku.


"Devan? tunggu tunggu, nama nya tidak asing, tapi, ah nanti aku selidiki siapa dia, aku kan punya satelit dan banyak Chanel hehe, tapi ngomong ngomong kenapa dengan dia?" ujar sumi bersemangat.


"Gpp suh, dia cuma ngajak kenalan kemarin di perpustakaan" jawab ku.


"Wah, ngajak kenalan kok sama yang udah nikah, coba sama aku nih yang jomblo huhu, ganteng gak orang nya?" tanya sumi lagi.


"Ya, mungkin dia tidak tau aku sudah menikah, ganteng sih" jawab ku.


"Bagus, kenalin sama aku ajja, aku bosan nih ngejomblo" seru sumi.


"Hm, kamu kenalan deh sendiri, soal nya aku tidak berminat menanggapi nya" jawabku


"Ah pelit nih tapi betul juga sih, ngapain juga kamu mau menanggapi dia hihi, ya udah pulang yuk. Kampus mulai sepi, horor" ujar sumi.


"Dasar penakut, kebanyakan nonton film horor sih" ujar ku


Sumi tersenyum dan pamit karena jemput an nya sudah datang. Aku kasihan sama ayah nya sumi yang selalu mengantar jemput, dan lokasi rumah mereka dari kampus lumayan jauh, yah meskipun tetap lebih jauh rumah ku yang sekarang sih, karena di villa. Perjalanan ajja hampir 1 jam, demi pendidikan ku, hanya sementara, setelah rumah yugo jadi dan siap huni kami akan pindah ke kota dan syukur nya lokasi gak terlalu jauh dari kampus.


Selepas ashar sumi duluan pulang sementara aku masih menunggu Yugo.


"Lidya" sapa seseorang di belakang ku.


Aku menoleh.


"Eh bimo" seru ku.


"Maaf yah, lena membuat masalah sama kamu" seru bimo.


"Gpp sih, cuma aku heran kenapa sih pacar2 kamu harus menyusahkan aku, aku sama sekali gak minat untuk meladeni kalian, aku punya kehidupan kita sendiri. Lagian kita juga gak akrab seperti dulu kan. Aku gak habis pikir deh" jawab ku.


"Iya maka nya aku minta maaf atas kesalah pahaman ini" ujar bimo.


"Ya udah, gpp, sebaiknya kita memang harus jaga jarak, aku permisi duluan" pamit ku saat ku lihat mobil yugo datang.


Aku segera masuk ke dalam mobil tanpa menoleh sedikit pun ke arah bimo.


"Hay, sayang, bagaimana kuliah nya hari ini, lancar?" tanya Yugo saat aku memasang sabuk pengaman.


"Alhamdulillah lancar ajja kok mas" jawab ku.


"Sebelum pulang pacaran dulu yuk, kita kan gak pernah pacaran" ajak nya.


"Pacaran?" seru ku geli.


"Iya, kita pacaran, makan di luar, jalan jalan" jawab Yugo.


Aku sedikit berpikir.


"Hmm, boleh juga tuh" Jawab ku akhir nya.


Yugo pun mengajak ku jalan jalan.

__ADS_1


Kami ke sebuah cafe yang tidak jauh dari kampus, sore itu cerah.


Kami duduk berhadapan.


Aku memesan es serut dan cemilan manis.


Aku membaca sebuah papan yang ada tulisan nya di cafe itu.


"Jangan takut gendut" ucap ku.


"Iya benar, jangan takut gendut tapi jangan berlebihan juga, Allah gak suka yang berlebihan" Nasehat yugo.


"Iya mas ustadz" jawab ku.


"Ih ngeledek yah" protes nya.


"Iya haha" tawa ku.


Yugo lalu memegang tangan ku.


"Terima kasih yah" seru nya.


"Karena apa?" tanya ku.


"Karena mau menerima ku" jawab nya.


"Harus nya aku yang terima kasih, karena kamu mau bersabar menghadapi aku yang keras kepala, yang mau terima segala kekurangan ku di masa lalu" seru ku.


Yugo tersenyum.


"Aku beruntung dapetin kamu" seru yugo lagi.


"Lah kok bucin? hahahaha" tawa yugo.


es serut, cemilan dan makanan yang kami pesan sudah datang.


Kami pun makan bersama.


Puas ngobrol kami lanjut jalan jalan keliling kota, tidak terasa menjelang petang kami pun pulang ke rumah ku di kota. Rumah papa. Untuk aku sholat magrib.


Papa belum pulang, seperti nya beliau sangat sibuk.


Putra dan yugo pamit ke masjid.


Dan aku masuk ke kamar ku.


Ah betapa rindu nya aku pada kamar ku ini. Tidak ada yang berubah.


Selepas magrib aku ke balkon. Aku rindu suasana di sini.


"Non, makan malam sudah siap, di panggil papa nya tuh" seru bi minah.


"Papa sudah pulang?" tanya ku.


"Iya baru saja" jawab bibi.


"Baik lah, sebentar bi" seru ku.

__ADS_1


Aku Segera turun dan menemui papa. Aku rindu sekali pada nya.


"Papa" seru ku Sembari memeluk beliau. Papa mengelus kepala ku.


"Wah anak papa sudah berhijab sekarang, cantik sekali" seru papa.


"Masya Allah" puji putra.


Aku tersenyum pada mereka.


"Mama mana?" tanya ku.


"Mama pulang kampung" jawab putra.


"Pulang kampung? kenapa, kok aku gak tau" tanya ku.


"Tante ku sakit, kakak nya mama, jadi dia mau menjenguk dan merawat nya" jawab putra.


"Oh begitu, semoga lekas sembuh" seru ku


"Aamiin, ayo makan , sudah lama kan kita gak makan bareng" ajak papa.


Kami pun makan bersama.


Alhamdulillah aku sudah biasa saja melihat putra, tidak lagi merasa dia sangat spesial di hati ku.


Bagaimana pun juga surga dan kebahagiaan ku sekarang ada di samping ku, suami ku, yang halal buat ku yang baik buat ku.


Putra tersenyum aku bisa menerima yugo dengan baik ketika melihat sikap ku yang mau melayani yugo mengambil kan makan nya.


"Yugo, papa dengar perusahaan papa mu mengalami masalah, apa itu masalah besar?" tanya papa khawatir.


"Iya pah, lumayan besar, itu lah sekarang kami sangat sibuk untuk menghadapi nya, sebenarnya papa sedang stress sekarang, yugo juga sudah berusaha semaksimal mungkin membantu nya"jawab yugo.


Aku terkejut.


Aku baru tau Yugo dan keluarga sedang bermasalah, karena Yugo tidak pernah memperlihatkan kesusahan nya di depan ku, dia bahkan tidak pernah cerita. Yang aku tau dia baik baik saja.


"Kok aku gak tau?" tanya ku pada Yugo.


"Maaf sayang, aku gak mau buat kamu khawatir" jawab Yugo.


"Tapi kan masalah mu masalah ku juga" protes ku.


Papa tersenyum melihat kami.


Sama putra juga.


"Ih so sweet banget sih, baper deh" seru bibi yang sedang meletakkan mangkuk sayur yang tertinggal.


"Ih bibi, udah mau selesai nih makan nya, kok baru keluar sayur nya" protes ku mengalihkan pembicaraan.


"Hehe maaf non, maklum sudah tua, pikun" jawab bi minah.


Putra ikut tertawa melihat tingkah bibi.


"Jangan di marahin dong sayang bibi nya, maaf yah bi" seru yugo.

__ADS_1


"Ahh, sudah biasa kok tuan, saya mah hapal bener non lidya ini, Karena bibi yang mengasuh nya sejak kecil" jawab bibi.


__ADS_2