
"Jadi kamu mau tanya apa?" seru putra.
"Ada apa kamu dengan papa, tidak biasa nya aku melihat mu cuek pada nya?" tanya ku
"Gak ada apa apa kok" jawab nya bohong.
"Bohong" seru ku.
"Gak ada masalah apa apa kok, aku hanya lelah ingin segera istirahat" jawab nya.
Aku menarik lengan putra.
"Kau tidak bisa membohongi ku, katakan apa yang sebenarnya terjadi" seru ku.
"Lidya, kembali lah ke kamar mu, tidak semua hal harus kamu ketahui kan" jawab nya.
Aku justru semakin penasaran.
"Gak bisa. Aku mau jawaban sekarang atau aku tidak akan pergi dari sini" jawab ku.
Putra menghempas kan tubuh nya ke atas kasur. Aku yang duduk di sudut tempat tidur pun terguncang.
Aku masih kekeh untuk tetap duduk di kasur nya.
"Kalo gak mau cerita aku akan tidur di sini" ancam ku.
Putra mulai risih. Gak mungkin juga Mereka tidur 1 ranjang, bagaimana pun juga Mereka sudah dewasa meski saudaraan tapi tidak kandung.
"Baik lah, tapi setelah ini kamu Kembali yah ke kamar mu" seru putra.
"Siap bos" jawab ku.
"Aku melihat papa mu kasar dengan mama, aku tidak tau masalah nya apa, mama enggan menceritakan nya. Aku datang dan berusaha menahan papa. Tapi papa justru menampar ku dan mengatakan aku hanya lah anak anak yang tidak perlu tau masalah orang dewasa" jelas putra jujur.
Aku tidak kaget karena memang papa seperti itu ada nya. Jika tidak suka sesuatu dia selalu main tangan.
"Kok kamu malah diam saja?" tanya putra.
"Papa memang seperti itu, mau aku ceritakan hal yang lebih sadis dari itu?" ujar ku sambil menerawang jauh ke masa lalu.
"Selain karena aku ingin berubah jadi cantik, aku berubah juga karena dia hampir membunuh ku" seru ku enteng.
"Membunuh?" pekik putra.
"Mungkin niat nya tidak begitu tapi karena perlakuan kasar nya aku hampir mati, ia memukul ku dengan stik golf milik nya, wajah ku hancur sebelum cantik seperti ini" jelas ku.
Putra terdiam.
"Kalo cuma di tampar itu hal biasa bagi ku" lanjut ku lagi.
__ADS_1
"Aku memang pernah dengar kamu mengalami kdrt tapi aku gak tau detail cerita nya" ujar putra.
"Bersabar lah, papa memang seperti itu, semoga saja dia bisa berubah, pelan pelan" jawab ku.
"Insya Allah, Aamiin" seru putra.
"Ngomong ngomong kamu tadi kerja sama yah smaa dimas untuk kasi kejutan?" selidik ku.
"Gak juga sih, aku cuma di hubungi sama dimas kalo dia mau membuat acara kejutan di ulang tahun mu, aku hanya ikut saja. Eh, udah larut malam, kembali gih ke kamar mu, nda baik loh kita tidur bersama" usir putra.
"Ih, aku di usir nih, Hem, ya udah aku pergi" protes ku sambil melangkah ke luar.
"Jangan lupa baca doa sebelum tidur" nasehat nya sebel aku menutup pintu.
"Iyaaa" jawab ku.
Aku melangkah ke kamar ku. Ku lirik ponsel ku.
Ada 3 panggil tak terjawab. Dari Dimas.
Mungkin dia rindu, haha ge er.
Jam 00.02 dini hari ku buka kado kado dari teman teman.
Pertama aku buka dari Dimas. Dia ngasih aku Jaket, ada kotak kecil lagi di dalam saku jaket nya, ku buka kotak itu dan isi nya sebuah kalung dengan liontin Inisial nama ku huruf L lengkap dengan surat emas nya.
Selanjutnya aku buka dari maisaroh, dia memberi ku sepatu sekolah? Ada kartu ucapan nya.
Selanjut nya aku buka dari Adit. Dia memberi Ku sebuah tas jalan selempang cantik.
Alhamdulillah teman ku baik baik semua. Senyum ku sebelum tidur.
Keesokan hari nya aku bersiap berangkat sekolah seperti biasa.
Adit menyambut ku. Tidak lama kemudian aku melihat Dimas sudah mulai masuk sekolah. Aku senang melihat nya sudah sembuh.
Hukuman bersih kan toilet nya pun sudah selesai. Jadi dia aman.
"Li, aku mau ngomong sesuatu" kata adit tiba tiba.
"Ngomong ajja, ada apa?" tanya ku.
Belum sempat Adit ngomong, Dimas tiba tiba merangkul ku.
"Hey beb, lagi bicara kan apa nih, ikut dong" seru nya.
"Dimas, pergi lah, ada hal yang harus aku bicarakan dengan Lily" bentak Adit tidak suka dengan sikap Dimas yang mengganggu waktu nya ngobrol dengan ku.
Raut wajah Dimas berubah dari senyum menjadi jutek, seperti tidak suka. Mereka saling pandang dalam kebencian. Dan aku tidak mengerti ada apa dengan mereka.
__ADS_1
"Ada apa sih?!" ujar ku.
Aku gak suka suasana menegangkan seperti ini.
Adit lalu menarik tangan ku menjauh dari Dimas. Tapi Dimas mengejar kami dan menarik tangan kiri ku.
Alhasil kedua tangan ku di tarik oleh mereka dan aku gak nyaman.
Aku harus ikut siapa.
Aku hempas kan tangan mereka dan terlepas dari genggaman mereka berdua.
"Aku gak ngerti kalian kenapa! selesai kan saja dulu urusan kalian berdua!" bentak ku.
Ku langkah kan kaki ku menjauh dari mereka.
Mai ternyata sedari tadi melihat kami.
Ia pun segera bertanya kepada ku.
"Ada apa Li dengan mereka?" tanya Mai penasaran.
"Aku gak tau Mai" jawab ku sembari mengajak Mai masuk ke dalam kelas.
Pak Budi wali kelas kami masuk, membubarkan teman teman yang sedang asik ngobrol berkumpul.
"Besok sudah acara tour kegitaan sekolah kita setiap setahun sekali, sudah diputuskan kita kan camping di puncak, kalian sudah siap kan, sedari minggu lalu bapak kabari" jelas pak Budi.
"Iya pak..." jawab murid murid serempak.
Apa? besok? aku lupa ada kegiatan itu di sekolah.
Aku bahkan belum mempersiapkan apa pun.
Mai melihat gelagat tidak enak di wajah ku.
Mai menyentuh pundak ku.
"Kau pasti belum mempersiapkan apa pun kan. Haha, besok pagi jam 07.00 sudah kumpul loh" seru Mai.
"Hehe iya nih, gimana yah" jawab ku.
"Awas gak ikut, aku nda teman" ancam Mai.
"Jangan gitu dong. Pulang sekolah nanti aku persiapkan deh" ujar ku.
Mai memberi ku jempol.
Padahal aku malas sekali ikut kegiatan seperti ini. Aku lebih suka tidur di kasur empuk rumah ku.
__ADS_1
Aku jadi teringat Adit, Adit tadi mau ngomong apa yah? dan kenapa juga Dimas menghalangi nya.
Aku lirik Dimas. Ia mengedipkan satu mata nya ke arah ku. Aku balas dengan tatapan seolah jijik, tapi becandaan. Dan dia mengerti karena memang hampir setiap hari kami seperti itu.