
1 bulan kemudian.
Akhir nya masa haid ku berakhir juga tanpa ke dokter spesialis. Aku hanya berobat ke puskesmas.
Kehidupan rumah tangga kami baik baik saja meski serba kekurangan.
Yugo sudah bekerja kembali di Sebuah pabrik sebagai operator atau karyawan. Alhamdulilah dia sudah mulai bekerja di tempat yang lebih baik dan gaji nya juga lumayan di banding dengan yang dulu.
Aku pun membantu nya mencari nafkah dengan kerja part time di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari rumah kami.
Saat ini aku sedang kerja, ku kenakan celemek seragam yang ada di kedai kami.
Kerja nya mulai sore jam 5, Sampai jam 10 malam. Pagi aku kuliah terkadang pulang jam 2 atau 3 tergantung mata kuliah ku di hari itu.
Yugo sudah melarang ku bekerja di luar tapi aku terus memaksa. Dengan alasan aku juga ingin beli apa yang aku inginkan dengan hasil kerja ku sendiri. Aku ingin beli skincare, beli jajan dan lain lain. Bukan tidak cukup, uang yang yugo berikan cukup, aku hanya bosan di rumah sendirian.
"Lidya, melamun ajja dari tadi, tuh ada pelanggan yang pesan" ujar Raka, rekan kerja ku membuyarkan lamunanku.
Aku tersentak dari lamunan ku dan segera melayani pesanan pelanggan.
Kedai payung kuning.
Itu lah nama kedai tempat ku Bekerja. Aku tidak mengerti kenapa si bos memberikan nama aneh untuk kedai nya ini.
Baru di bicarakan tentang si bos , eh beliau sudah datang mengontrol kedai.
"Lidya, mana laporan omset kita bulan ini?" tanya pak Roger pada ku.
Aku mengerutkan kening. Laporan Omset? itu kan bukan tugas ku?
"Maksud nya pak? bukan nya laporan Omset tugas nya kak sarah?" protes ku.
"Oh, iya, mana sarah?" tanya nya lagi.
Aku melirik raka.
Raka mengangkat bahu tanda tidak tau.
"Maaf pak, saya belum melihat kak sarah hadir hari ini" ucap ku.
"Dia gak hadir kenapa?" tanya pak roger lagi.
"Kurang tau pak" jawab ku sembari pamit untuk melanjutkan pekerjaan.
__ADS_1
Pak Roger adalah pemilik kedai payung kuning, beliau keturunan Tionghoa tapi seorang muslim.
"Sarah kebiasaan deh, hadir dan tidak seenak jidatnya saja" umpat raka kesal.
Karena dia tidak hadir kami jadi hanya bertiga saja menjaga kedai. Syukur nya tidak terlalu ramai sehingga kami tidak kewalahan. Eh kok syukur sih. Kan harus nya bagus kalau ramai.
Kami hanya ber 4 kerja di kedai itu.
Raka , aldi dan sarah karyawan tetap yang bekerja di sini, mereka bekerja normal 8 jam, sementara aku hanya part time 5 jam kerja.
Kedai memang buka nya dari sore saja, jam 5.
Mereka pulang jam 01:00 dini hari. Karena kedai tutup jam 1.
"Sudah lah, yang ikhlas" jawab ku.
"Bener bener yah tuh anak, makin menyebalkan" desah raka kesal.
Pak roger menghampiri kami.
"Lidya, mulai sekarang kamu bantu ngurus laporan omset deh yah" ujar pak roger.
"Baik pak" jawab ku.
Pak roger kemudian pergi.
"Terus, aku harus menolak tugas dari si bos gitu? gak kan, udah deh, gpp kok" seru ku.
"Ya kasian ajja, loe kan cuma paruh waktu kerja di sini, itu kan memang tugas karyawan seperti Sarah" jawab raka.
"Berhenti mengkhawatirkan aku, ayo kembali bekerja ,tuh mulai rame pengunjung" ujar ku.
Aku segera menempati posisi kasir. Raka dan aldi mulai membuat kan kopi buat pelanggan. Mereka juga yang mengantar kan pesanan ke meja pelanggan.
Sebenarnya Sarah lah kasir di sini, tapi dia sedang tidak hadir jadi aku mengganti kan nya. Nanti setelah jam 10 baru lah posisi ku di gantikan oleh raka atau aldi.
Kami semua multifungsi. Bisa jadi kasir, waiters dan pembuat kopi sekaligus.
Sebenarnya tidak hanya kopi, di sini ada cokelat dan jus buah, juga cemilan seperti kentang goreng dan lain lain, hanya saja kami tidak menyediakan makanan berat seperti nasi.
Jam 10 kurang 15 menit yugo datang menjemput ku. Ia duduk di kursi.
"Mau minum kopi mas?" tawar ku saat ia datang dan melambaikan tangan.
__ADS_1
"Gak, terima kasih, buatkan kopi nya nanti di rumah saja" jawab nya.
"Baik lah, mohon tunggu sebentar yah, 15 menit lagi saya keluar" ucap ku se profesional mungkin.
Yugo menertawai ekspresi ku.
"Siap" jawab nya.
"Raka, aku mau prepare pulang nih" ujar ku sambil melepaskan celemek dan menuju masuk ke ruangan khusus.
Raka mengangguk dan menghandle bagian kasir.
Aku mulai bersih bersih meja sejenak dan masuk untuk absen. Sekalian ambil tas dan jaket.
Jam menunjukkan pukul 22.05 menit aku keluar dan menemui suami ku.
"So sweet banget sih tiap malem di jemput pulang kerja" ucap raka meledek ku.
"Biasa ajja ih, aku pamit yah, semangat kerja nya" jawab ku.
Raka mengacungi jempol.
Malam itu aku dan yugo tidak langsung pulang. Kami me Rumah makan padang favorit ku. Sudah lama sekali kami tidak makan ayam dan daging. Aku pesan nasi padang pakai daging rendang dan yugo pesan nasi Padang pakai ayam.
Kebetulan ini awal bulan, yugo sudah gajian.
Syukur di kota ini banyak saja warung makan yang buka hingga tengah malam.
"Masya Allah enak banget" ucap ku terharu seolah tidak pernah makan enak. Ya benar sih, selama sebulan ini kami berhemat agar bisa makan sampai akhir bulan, terkadang telur, ikan sayur, tempe tahu, terong. Yang tidak pernah aku masak di rumah itu ayam dan daging sapi.
Tidak masalah. Makan enak sekali sekali. Itung-itung diet lah. Jadi aku tidak perlu khawatir kembali gendut seperti dulu.
"Maaf yah ,makan enak nya cuma bisa sebulan sekali" seru yugo.
"Gpp kok. Bisa makan saja udah Alhamdulillah" jawab ku.
"Masya Allah, baik nya istri ku ini, aku memang tidak salah pilih, jika orang lain mungkin saja aku telah di tinggal kan" ucap yugo.
Aku menggeleng.
"Masih banyak kok orang baik di dunia ini" seru ku.
Selesai makan malam yang kemalaman kami keliling kota memakai motor bekas yang yugo beli setelah menjual mobil nya untuk mengganti uang papa yang membiayai rumah sakit ku.
__ADS_1
Aku justru merasa lebih bahagia seperti ini. Meski hidup pas pasan tapi aku merasa bebas dan cukup. Aku sangat bersyukur.
Ku peluk erat yugo yang sedang mengendarai sepeda motor nya. Angin malam menerpa wajah ku. Dingin sekali. Jalanan mulai lengang dari kendaraan. Bintang bintang tidak terlihat malam ini ,tertutup awan. Suara jangkrik mulai bersahutan ketika kami melewati jalan sunyi menuju rumah kontrakan kami.