
Baru masuk kampus. Aku sudah di hadang senior.
"Ada apa?" tanya ku bingung karena aku merasa tidak melakukan kesalahan, dan aku memakai semua atribut ospek sesuai permintaan mereka.
"Gpp, cuma mau bilang kamu cantik" ujar nya.
Aku menatap heran ke gerombolan senior kampus yang berseragam Almamater biru ke abu abu an di hadapan ku.
Aku tidak menghiraukan nya.
"Heh, sombong banget sih, syukur cantik, kalo gak udah gua libas!" pekik nya.
Aku menolah sesaat.
"Makasih" jawab ku singkat kemudian berlari masuk dalam barisan mahasiswa baru yang akan mengikuti kegiatan ospek.
Banyak sekali yang mengajak kenalan. Berbeda saat masih SMA dulu. Semua orang bahkan meremehkan aku, memandang ku sebelah mata, jangan kan untuk berkenalan, yang ada aku selalu di bulli.
Aku mengikuti serangkaian kegiatan perkenalan, dan aku nyaris tidak pernah di bulli atau di permalukan lagi seperti dulu. Apa kah ini kekuatan good looking?
"Lidya Wijaya, giliran kamu maju ke depan memperkenalkan diri" panggil salah satu senior.
Aku tersentak dari lamunan masa lalu ku dan bangkit dari duduk, mulai berjalan ke arah depan. Semua mata tertuju pada ku.
Ku pandangi semua mahasiswa baru di hadapan ku.
Aku tersenyum sebelum memulai.
"Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Lidya Wijaya, saya berasal dari SMA pelita. Salam kenal" seru ku.
Sebagian melongo melihat ku. Bukan hanya laki laki tapi senior perempuan juga. Apa aku melakukan kesalahan?
"Hanya segitu?" protes senior.
"Apa lagi?" tanya ku bingung karena sebagian besar maba tadi perkenalan diri nya hanya sebatas itu.
Kak Shena menatap ku dari atas hingga bawah kaki.
"Kamu lebih cantik dari yang aku dengar, tubuh mu juga bagus, kenapa tidak jadi artis saja?" ujar nya.
Aku tidak mengerti apa dia memuji atau mengejek ku.
"Maaf kak, bukan cita cita saya" jawab ku.
"Jadi cita cita kamu apa?" tanya nya.
"Tadi nya cita cita saya hanya ingin menjalani kehidupan normal dan damai seperti manusia lain nya ,tapi setelah lulus SMA saya ingin menjadi seorang jaksa" jawab ku.
"Jaksa? motivasi apa kamu ingin menjadi jaksa?" tanya nya lagi.
"Saya hanya ingin membela kebenaran, karena terlalu banyak hal tidak adil yang terjadi di kehidupan ini" jawab ku.
Bagai menonton really show, Maba dan senior antusias mendengarkan jawaban dari ku.
__ADS_1
"Tadi kata mu kamu hanya ingin kehidupan yang normal, definisi kehidupan yang tidak normal itu seperti apa menurutmu?" kak Shena terus bertanya.
"Privasi kak, maaf, apa bagian perkenalan saya tidak terlalu lama? kasihan yang lain belum dapat giliran" protes ku.
"Dari tadi ,kayak nya baru kamu deh yang protes saat perkenalan, kamu berani membantah senior?" pekik nya.
"Maaf kak" jawab ku.
"Shena, jangan galak galak dong sama junior kita yang comel ini" tiba tiba kak Zai menegur Shena yang sedari tadi terus bertanya.
"Gpp toh, selagi tidak main fisik" bantah Shena.
Setelah itu lanjut kegiatan lain yang melelahkan.
Selesai ospek aku pulang sore dalam kelelahan yang teramat sangat.
Aku sampai minta di pijatkan sama Bi Minah.
"Enak non?" tanya bibi.
"Iya bi, sampai kaki yah, pegel banget" jawab ku.
"Siap non" seru bibi. Ia mulai melumuri badan ku dengan minyak zaitun.
"Udah lama banget bibi gak pijatin non" ujar bibi.
Aku tidak menjawab karena sudah tertidur pulas.
......🌺🌺🌺......
"Aku sudah tidak nyaman di sini ma, pulangkan saja aku kembali ke Indonesia, kalau pun aku mati, aku ingin mati di sana!" seru putra.
"Astagfirullah, putra gak boleh ngomong begitu nak, maafin mama tidak berada si sisi mu, mama janji akan segera mendapatkan donor untuk mu, mama gak akan diam saja, putra sabar yah" jawab mama.
"Tidak ma, putra ingin pulang" seru putra.
Air mata mama mengalir deras.
Papa mendekati mama. Memeluk dan mengelus pundak nya yang naik turun menahan tangis.
"Mama akan kesana, putra sabar yah" jawab mama.
Mama ingin berangkat ke Jerman menemani putra tapi mama tertahan di Jakarta karena Oma sakit.
1 Bulan lama nya papa dan mama di Jakarta. Aku benar-benar kesepian.
Papa memberi kabar kalau Oma sudah tiada. Aku terkejut mendengar nya. Suara papa bergetar menahan tangisnya.
Papa mengurus kan ku tiket untuk ke Jakarta.
Aku naik pesawat pagi, semoga sempat melihat Oma untuk yang terakhir kali nya, meski pun Oma tidak pernah memberikan kenangan baik untuk ku, tetap saja dia Oma ku, mengalir darah keturunannya dalam tubuh ku.
Tepat jam 12 Aku sampai di Jakarta.
__ADS_1
Ku dorong koper ku menuju keluar bandara.
Sudah ada yang menjemput ku jadi aku tidak perlu lagi naik taksi sendirian ke rumah Oma.
"Lama tidak berjumpa" seru Aldi sepupu ku. Bukan sepupu satu kali dari saudara atau saudari papa. Tapi anak dari sepupu nya papa.
Orang tua kami lah yang bersepupu.
Dia lah yang menjemput ku saat ini.
Aku tidak terlalu menggubrisnya karena aku tidak suka sifat Aldi.
"Sombong banget yah sekarang, mentang mentang sudah cantik, haha aku ingat banget dulu kamu itu bagaimana, gendut banget" seru nya.
"Gak lucu" jawab ku ketus.
"Idih ,gitu ajja baper" seru nya.
Aku menatap nya tajam.
Aldi menatap ku lekat lekat.
"Kamu beneran Lidya gak sih? kamu gak nyamar jadi Lidya kan?" selidik nya.
"Kau pikir ini drama?atau cerita web series? bisa tukar tukar peran?!" pekik ku.
"Kalau begitu, waktu awal masuk sekolah dasar, apa kau ingat sesuatu?" tanya nya.
Aku tersenyum simpul.
"Aku tidak ingin membahas masa lalu" jawab ku.
"Berarti kau palsu. Kau bukan Lidya!" pekik nya.
"Konyol, tapi benar, Lidya yang dulu udah mati!" bentak ku.
Aldi menatap ku lagi.
"Fokus lah menyetir, kita harus sampai tepat waktu" protes ku.
Aku tidak ingin ngobrol lebih lanjut, apa lagi membahayakan masa lalu.
Aldi kemudian menatap ke arah jalan dan menyetir dengan benar.
Ia diam namun di isi kepala nya ada banyak pertanyaan.
Sesampai nya di rumah Oma aku langsung di sambut papa. Ia memeluk ku dengan mata bengkak habis menangis. Banyak media yang menyoroti dan meliput rumah duka.
Itu karena papa orang penting dan terkenal.
Aku melangkah masuk. Oma sudah di kafani. Setidaknya masih bisa melihat dan mencium nya untuk terakhir kali.
Setelah seluruh keluarga mencium Oma untuk terakhir kali, Oma pun di bawa ke masjid terdekat untuk di sholat kan.
__ADS_1
Opa menepuk pundak ku.
"Maafkan segala kesalahan Oma pada mu yah, sebenarnya Oma hanya gengsi untuk mengakui mu sebagai cucu nya, tapi bagaimana pun juga kamu tetap cucu Oma satu satu nya, karena papa mu itu anak tunggal. Oma sebenarnya ingin bertemu dengan mu selama dia sakit, ia merasa bersalah telah mengabaikan mu" jelas opa.