Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Identitas devan


__ADS_3

Yugo pulang larut malam. Entah kesulitan apa yang tengah ia hadapi di luar sana.


"Baru pulang?" tanya ku saat ia membuka pintu.


"Iya maaf yah, kamu pasti lelah menunggu ku" ujar nya.


"Gak kok kan aku nunggu nya sambil baring baring" ucap ku.


"Bagus lah, aku mandi dulu yah, jangan peluk dulu" cegah nya.


"Yee siapa juga yang mau peluk" jawab ku.


Aku menunggu nya mandi.


Setelah selesai mandi aku langsung memeluknya.


"Yah, bisa mandi lagi kalau begini" ucap yugo.


"Maksud nya? kok mandi lagi? emang nya aku sebegitu berkuman yah?" protes ku sambil melepaskan pelukan kan ku.


"Bukan gitu sayang, mandi lagi karena mau minta jatah, habis nya kamu menggoda sih. hihihiii" jawab yugo.


Aku tersipu mendengar nya.


.......🌺🌺🌺.......


"Bagaimana kuliah nya hari ini? lancar?" tanya yugo.


"Iya Alhamdulillah lancar ajja, kalau kamu bagaimana? apa masalah di perusahaan sudah selesai?" tanya ku.


"Belum, kita harus siap dengan segala kemungkinan terburuk" ucap yugo khawatir.


Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.


"Yang sabar yah , semua pasti ada jalan keluar nya, semua kan milik Allah, kita cuma bisa usaha, kalau rejeki nya sudah bukan di situ yah kita cari jalan rejeki dengan cara lain yang penting kan halal. Bangkrut sekalipun aku gak akan ninggalin kamu" ucap ku.


Yugo tertegun mendengar petuah dari ku.


"Bijak sekali istri cantik ku ini, jadi makin cinta, love you sayang" ucap mya sambil mengecup punggung tangan ku


Aku tersenyum.


"Kok cuma senyum, gak di balas nih cinta ku" protes yugo.


"Emang harus di katakan?" tanya ku.


"Ya harus lah biar tau" jawab nya kesal.


Ih kok jadi terbalik begini yah, biasa nya kan cewek yang bilang begitu.


"Hm i love you too mas yugo" jawab ku.


"Nah, gitu dong sayang" seru nya.


......🌺🌺🌺......


Seminggu kemudian.


Sumiati terlihat bersemangat pagi ini.


Ia terlihat senyum senyum sendiri.

__ADS_1


"Kenapa sih, lagi jatuh cinta?" tanya ku saat melihat wajah sumringah sumiati.


Sumiati menggeleng kan kepala nya cepat lalu menatap ku serius.


"Ada apa sih?" tanya ku bingung.


Sumiati lalu memberikan ku beberapa kertas dan dokumentasi tentang devan.


"Arya kamandanu? itu siapa?" tanya ku saat melihat nama di sebuah kertas.


"Mahasiswa yang meninggal keracunan 10 tahun yang lalu" ucap sumi mantap.


"Oh" jawab ku singkat.


"Ih kok cuma oh sih" protes sumi.


"Hm, jadi apa hubungannya sama devan? kamu udah tau identitas asli nya?" tanya ku.


"Belum pasti sih. Masih misterius, tapi aku sudah punya bayangan, tinggal memastikan ajja kebenaran nya." ucap sumi .


"Tapi wajahnya devan itu mirip banget sama arya yang sudah meninggal itu coba deh kamu liat" seru sumi.


Aku pun memperhatikan dan membandingkan foto kedua nya.


Aku lagi lagi menggeleng kan kepala ku.


"Niat banget yah kamu sum, seminggu ini adem ayem kiraen udah nyerah mencari tau. Ternyata masih ajja" ucap ku.


Sumi tersenyum lebar memperlihatkan gigi nya.


"Mirip sih, tapi tetap saja ini beda orang" protes ku.


"Kamu yakin?" tanya sumi memancing ku.


"Inti nya devan itu manusia, ok" seru ku lagi.


"Benar, mereka beda orang, teliti juga yah kamu lidya" jawab sumi.


Sumi saja yang tidak tau masa lalu ku yang suka penasaran dan suka mencari tau hal yang seharusnya tidak aku ketahui.


"Arya itu kakak nya devan" ujar sumi.


"Terus?" tanya ku.


Sumi menghentikan bicara nya karena ada devan lewat.


Setelah itu kami pindah ke kantin untuk ngobrol. Tak di sangka. Devan ikut dan duduk di sudut seperti biasa.


Tapi sumi tidak menyadari nya.


Aku sampai tidak terlalu fokus ke cerita sumi Karena mata ku sibuk menangkap sosok devan yang diam saja di sana.


"Ih kebiasaan deh, tiap ke kantin kamu selalu bengong gitu" protes nya.


Sumi lalu menoleh ke arah tatapan mata ku.


"Dan lagi lagi kamu selalu melihat ke arah ujung sana, ada apa sih di sana?" tanya sumi bingung.


"Loh kamu gak lihat, di sana ada devan?" tanya ku.


"Apa?" pekik sumi sembari memicingkan mata nya tapi tidak melihat siapa pun.

__ADS_1


Ketika aku melihat, sosok itu sudah hilang.


Sumi mencubit lengan ku.


"Ih seriusan lo liat ada orang di sana?" tanya sumi hati hati.


Aku mengangguk.


"Jadi selama ini kamu melihat ada orang di sana saat kita ngobrol? soal nya setiap ke sini kamu selalu melihat ke arah sana" tanya sumi.


Aku lagi lagi mengangguk.


"Ih, aku merinding nih. Kamu Jangan ngerjain aku deh lid, soal nya aku gak pernah melihat ada orang di sudut itu, karena dengar cerita meja di sudut itu horor, karena di sana lah lokasi arya meninggal keracunan, maka nya gak ada yang mau duduk di sana" ucap sumi ketakutan.


Aku menertawakan nya.


"Sok sok an mau jadi detektif tapi penakut gitu, belum lagi liat darah ,liat mayat dan lain lain" seru ku.


"Ih, tapi bener juga kata mu, aku harus berani', tapi tunggu tunggu, kenapa devan terlihat dia sana? sedang aku tidak melihat nya, berarti itu bukan devan dong,jadi siapa dong, pasti hantu lah" jawab sumi.


"Haha entah lah, aku tidak mau memikirkan nya" ucap ku sambil minum es milo favorit ku.


"Wajah nya bagaimana?" tanya sumi.


"Mirip Devan lah, kan aku kira itu devan yang duduk, kalau ternyata bukan ya gak tau deh" ucap ku.


Sumiati menghentak meja membuat sebagian pengunjung kantin melihat ke arah kami.


"Apa lagi sih sum, pake hentak meja segala" protes ku.


"Aku tau siapa dia, dia pasti hantu nya arya yang meninggal 10 tahun lalu, dia kan sangat mirip dengan devan" tegas sumi.


Aku minum lagi, es milo memang enak.


"Serius amat, cerita in aku yah" ujar devan dari belakang sumi membuat nya terkejut dan reflek melompat menjauh dari devan karena takut.


"Ada apa sih?" tanya devan bingung.


"Huft, aku kira hantu" ujar sumi.


Devan tertawa melihat tingkah laku Sumiati.


"Hantu? di siang bolong begini?" tanya devan.


Sumiati mengangguk.


"Ada ada saja kamu, hantu apaan siang siang?" tanya nya.


"Aku sudah tau kamu siapa devan. Nama asli mu Alfaro kan" ujar Sumiati memastikan.


Devan tertawa sejenak.


"Niat banget yah neng tapi kamu benar" jawab devan alias Alfaro.


Devan di panggil al oleh teman teman nya di kampus jurusan biologi.


Jelas saja kami tidak menemukan nama nya di kampus ini.


"Kamu adik nya arya kan, mahasiswa yang meninggal 10 tahun lalu itu, aku sudah tau semua nya, Devan, ah tidak, seperti nya aku tidak bisa menyebut mu dengan panggilan Devan lagi, Al. Barusan Lidya melihat hantu kakak kamu di sudut meja kantin ini" jelas Sumiati.


Alfaro terdiam. Senyum nya menghilang. Tatapan mata nya kini berubah sinis.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian tidak mencari tau tentang aku sampai sejauh itu" protes nya tidak suka.


__ADS_2