
"Kurang tau sih, apa mungkin karena dia akan di jodohkan dengan laki laki pilihan papa nya?" seru mama.
"Apa?! di jodoh kan?" pekik putra.
Mama mengangguk.
Putra segera kembali ke atas menunggu ku yang tak kunjung keluar kamar.
Menjelang malam aku baru keluar, aku lapar.
Putra segera mendekati ku.
"Apa benar kamu di jodohkan? kenapa gak cerita?" tanya putra.
Aku menatap nya tajam.
"Kamu sudah cek ponsel kamu belum? ada berapa panggilan tak terjawab tertera di sana?" jawab ku.
Putra menunduk. Ia merasa bersalah.
"Maaf, aku gak sempat lihat ponsel" seru nya.
"Gak sempat? atau gak penting? jaman sekarang gak mungkin deh orang gak ngecek ponsel nya sampai berminggu-minggu lama nya, kau bahkan sama sekalian tidak mengabari aku selama kamu di sana!" pekik ku.
"Serius, aku gak main ponsel di sana" jawab nya.
"Bahkan ketika akan berangkat kembali ke sini? kau tidak melihat nya? kamu sempat menghubungi mama kan, aku yakin kamu melihat ponsel mu saat itu, Sejak awal kamu berangkat, aku sudah menghubungi mu, tapi kamu gak respon sama sekali, itu bukti bahwa kamu tidak menganggap ku penting" seru ku.
"Maaf kan aku" jawab putra singkat.
Aku melangkah pergi menuju ke bawah tapi putra menahan ku.
"Apa kau akan menikah dengan pilihan papa?" tanya nya.
"Tergantung kamu!" bentak ku sembari menepis tangan nya.
Aku melangkahkan kakiku ke arah tangga menuju ke bawah rumah.
Sudah terlihat papa yang duduk di meja makan.
Melihat ku datang senyum nya mengembang.
"Eh anak cantik papa udah turun. Ayo makan, putra mana?" tanya papa.
Aku tidak menjawab dan langsung duduk saja.
Putra menyusul ku dan duduk di samping ku.
Suasana makan malam yang garing.
Setelah selesai makan malam.
Aku di kejutkan oleh putra yang tiba tiba saja bicara serius kepada kami.
"Maaf sebelumnya pa, ma, jika aku lancang dan salah, tapi aku harus mengatakan nya. Aku mencintai Lidya, ijinkan kami untuk bisa bersama setelah kami lulus nanti" seru putra tanpa rasa takut sedikitpun.
Mata ku melotot menatap nya.
"Apa?!" pekik papa tidak percaya.
"Putra!!!" bentak mama sambil menggeleng pelan kepala nya.
"Kalian itu saudara, bisa bisa nya kamu berpikir untuk bersama? kau sudah gila ya???" bentak papa.
__ADS_1
Aku ketakutan setengah mati.
"Saudara tiri, tidak sedarah, tidak kandung, tidak ada larangan kami untuk menikah" jawab putra.
"Menikah? kamu masih kecil untuk bicara pernikahan! jangan konyol kamu, Lidya sudah punya calon suami. Aku yang pernah pilihkan" pekik papa.
"Bukan kah seumuran aku ini, papa sudah punya anak?" jawab putra.
"Lancang kamu!!!" bentak papa, naik pitam hendak memukul putra.
Aku langsung menahan nya.
"Sudah pa, cukup!!!" pekik ku.
"Kenapa? kamu belain dia, oh jadi ini laki laki yang kau cintai, jadi ini yang membuat mu tidak mau di jodohkan, ini laki laki pilihan mu? sadar lah, dia itu kakak mu, jangan pernah bermimpi untuk bisa bersama nya, perjodohan mu akan aku tetapkan secepatnya. Jika perlu setelah lulus SMA!" pekik papa.
"Tidak! aku akan mati jika papa terus menjodohkan aku, aku tidak Sudi. Aku tidak mau!" tolak ku.
"Silahkan jika kamu ingin mati, papa begini juga untuk kebaikan mu!" pekik papa.
Air mata ku mengalir.
"Sekeras apa pun kau menolak, sekeras itu pula papa akan berusaha untuk menjodohkan mu!!!" ujar papa.
"Papa tega! papa bisa menikahi orang yang papa cintai, kenapa aku tidak?!" seru ku.
"Jika kau mencintai orang lain di luar sana mungkin papa bisa pertimbangan kan, tapi ini putra, saudara mu sendiri, kau jangan gila Lidya, jangan di buta kan cinta monyet mu itu" jelas papa.
Mama pun memarahi ke lancangan putra mengutarakan isi hati nya.
Suasana rumah menjadi kacau.
"Kau ingin keluarga kita ini berantakan?" seru mama ke putra.
"Jangan menghancurkan keharmonisan keluarga ini hanya karena cinta yang salah dari kalian berdua, apa kalian mau keluarga kita ini hancur berantakan terpecah belah, apa kalian ingin kami bercerai?" tegas papa.
Aku menggeleng.
"Putra, mama juga akan menjodohkan mu dengan wanita pilihan mama, jadi jangan pernah bermimpi mama akan merestui wanita pilihan mu" seru mama.
"Kalian egois, kalian saja bisa menikah dengan orang yang kalian cintai, pilihan sendiri, setidak nya biarkan kami mencari cinta dengan cara kami sendiri, pilihan kami sendiri. Jika pun kami tidak bisa bersama, " ujar putra.
Papa hendak menghajar putra tapi aku menahan nya.
Aku menarik putra menjauh dari papa.
"Kau sinting yah! kenapa mengakui semua nya sekarang, ini bukan saat yang tepat!" bentak ku ke putra.
"Apa aku harus diam saja melihat mu di jodohkan dengan orang lain?!" pekik putra.
Aku menangis. Semua menjadi semakin rumit. Aku tau sejak awal kami tidak bisa bersama.
"Aku juga tidak mau di jodohkan" tegas ku.
"Tapi kau lihat sendiri betapa keras nya papa mu itu" seru putra.
Aku menunduk.
Putra memeluk ku.
"Jangan mengkhawatirkan apa pun, semua akan baik baik saja" ujar nya menenangkan ku.
......🌺🌺🌺......
__ADS_1
Keesokan hari nya kami berangkat sekolah seperti biasa.
Aku masuk ke kelas dengan langkah gontai.
Detik detik terakhir sekolah, rasa nya tidak ingin menjadi dewasa, rasa nya ingin menjadi anak remaja sekolah saja selama nya.
"Lidya" panggil Maharani.
"Yah ran, ada apa?" jawab ku.
"Lesu Banget, itu kantung mata besar banget. habis begadang?" tanya nya.
"Iya, aku gak bisa tidur" jawab ku.
"Wah, jangan sakit yah, bentar lagi ujian, jaga kesehatan" nasehat Maharani.
"Iya ,makasi ran" jawab ku singkat.
Dimas langsung datang menghampiri kami. Dia memang tidak bisa membuat hari hari ku tenang sehari saja.
"Pulang sekolah jalan jalan yuk" ajak nya.
Aku tidak menjawab.
"Iya ayo" jawab Maharani bersemangat.
"Kok diam ajja lid, pokok nya kamu harus ikut. kita harus refreshing sebelum ujian, biar gak stress" seru Dimas.
Aku menatap mereka berdua. Mereka menunggu jawaban ku dengan tatapan penuh harap.
"Baik lah" jawab ku akhir nya.
"Yess" Dimas dan Maharani kompakan.
"Tapi kamu yang bawa mobil yah dim, aku lagi gak semangat" ujar ku.
"Halah, sok galau deh, ok siap. Nanti aku yang nyetir, aman" jawab nya.
"Ikut dong, sombong banget deh kalian sekarang, gak pernah ajakin aku jalan, mentang mentang udah beda kelas" seru seseorang di belakang kami.
"Adit, iya dit, boleh dong. Hehe maap yah jika kami sombong haha" jawab Dimas sembari merangkul sahabat lama nya itu.
"Aku juga boleh ikut?" tiba tiba suara Bimo terdengar.
Semenjak satu kelas Adit dan bimo menjadi teman akrab.
Aku hanya diam, tidak bersemangat.
"Boleh kok, lebih ramai lebih asik" jawab Dimas.
"Kalo gitu aku juga ikut" entah suara siapa lagi ini.
Dimas menatap tidak suka pada orang terakhir yang ingin ikut kami.
"Roni? boleh kok, ayo" ajak Maharani tiba tiba.
"Sekalian ajja satu sekolah di ajak, kalo gitu aku gak usah ikut ajja deh yah" ujar ku.
"Loh kok gitu. Jalan jalan ini batal kalo kamu nda ikut, titik" tegas Dimas.
"Ya udah" Ku langkah kan kaki dengan malas ke parkiran.
Kami memakai 2 mobil. Mereka yang tadi nya bawa motor ke sekolah sementara menyimpan motor nya di parkir sekolah dan ikut kami yang bawa mobil.
__ADS_1