
Sepanjang jalan pulang malam itu aku terus berpikir. Tante Sifa mirip sekali sama seseorang tapi siapa yah.
Astaga? bisa bisa nya aku melupakan wajah cantik yang telah melahirkan aku.
Buru buru aku tancap gas untuk segera pulang.
Sesampai nya di rumah aku langsung berlari ke kamar.
Papa menatap ku bingung karena berlarian malam malam.
Aku buka gagang pintu kamar. Dan segera membongkar sebuah kotak kenangan masa kecil ku.
Aku mencari foto mama.
Dalam tumpukan kotak itu aku menemukan nya.
Seorang wanita cantik dengan seragam SMA nya.
Mama terlihat sangat muda karena masih 17 tahun saat itu.
Mama mirip dengan Tante Sifa?
Beda nya Tante Sifa sudah terlihat dewasa.
Yah jelas lah, karena foto mama kan foto lama.
Aku menutup mulut ku tidak percaya.
Mama cantik dan papa ganteng. Jadi aku ikut siapa? Oma? atau opa?
Bisa jadi. Kulit putih ku pasti ikut mama.
Foto bayi ku kok comel, beda banget ketika aku sudah besar. Atau mungkin aku sudah terlahir cantik tapi aku saja yang rakus dan tidak pandai jaga badan sehingga dulu hampir obesitas?
Ah kenapa aku jadi mengenang masa lalu.
Kenapa Tante Sifa mirip mama? Mirip sekali meski pun aku tidak pernah bertemu mama selama hidup ku, hanya foto ini saja satu satu nya benda yang bisa membuat ku mengenal dan mengingat mama. Apa mama tidak mati? apa benar mama sudah meninggal setelah melahirkan ku. Aku jadi meragukan nya.
Aku berlari turun menemui papa.
"Pah, apa benar mama kandung ku sudah tiada?" tanya ku.
Papa terkejut mendengar pernyataan ku.
"Apa maksud mu bertanya seperti itu, mama kamu sudah tenang di alam sana, jangan bertanya yang aneh aneh!" pekik papa.
"Kenapa aku tidak pernah bertemu keluarga mama satu pun?" tanya ku.
"Kenapa kamu menanyakan itu sekarang? ada apa dengan mu?" papa bingung mendapati pertanyaan ku yang tiba tiba.
"Aku melihat mama!" pekik ku.
"Apa?!" papa terkejut bukan main.
"Tidak mungkin, mama mu sudah meninggal" jawab papa.
"Jadi siapa yang aku temui itu, dia sangat mirip sama mama" pekik ku.
"Dia siapa maksud kamu itu?" tanya papa bingung.
"Tante nya Maharani" jawab ku.
__ADS_1
"Apa? haha, berhenti lah bercanda, wanita menor itu kau bilang mirip mama mu?" tawa papa.
"Itu wajah palsu nya, asli nya Tante Sifa sangat cantik" protes ku.
"Terserah kamu, sudah larut malam, sebaik nya kamu tidur, berhenti lah membicarakan masa lalu" ujar papa.
"Papa punya foto lama bersama mama gak saat masih sekolah?" tanya ku.
Papa terlihat berpikir keras.
"Untuk apa aku menyimpan foto itu?" seru papa.
"Papa jahat!" pekik ku.
"Itu hanya masa lalu Lidya, untuk apa sih kamu mengetahui nya, fakta nya mama mu sudah meninggal, papa sendiri melihat nya, dan hadir di pemakaman nya" jelas papa.
Aku terduduk lesu.
Papa seperti nya mulai kasihan pada ku.
"Ya sudah tunggu sebentar, mungkin masih ada" jawab papa menghibur ku.
Aku tidak percaya, papa mungkin hanya menenangkan ku dengan kalimat nya itu. Kalimat penenang. Mungkin.
Tidak lama kemudian papa balik lagi.
Aku menunggu nya dengan penasaran.
"Papa lupa, semua kenangan masa lalu papa kan ada di rumah Oma, bukan di sini, mungkin Oma mu juga sudah membuang nya, Oma kan tidak suka dengan mama mu" jelas papa.
Aku semakin lesu.
"Ada apa sih ribut ribut tengah malam begini" tanya mama menghampiri kami.
"Gak ada apa apa kok, ayo tidur" seru papa ke mama sembari membalikkan badan mama untuk masuk ke dalam kamar. Membiarkan ku masih dalam pikiran ku sendiri.
Keesokkan hari nya.
Aku tidak puas dengan jawaban papa.
Pagi ini aku ke kampus untuk menyelesaikan berkas dan administrasi yang belum selesai.
Ku bawa foto mama kemana pun aku pergi. Sebaik nya aku selalu mengenang mama, kapan pun di mana pun.
Ku tatap langit cerah dari kampus ini.
Sebentar lagi aku akan jadi mahasiswa.
Ramai lalu lalang orang mengurus berkas nya.
Aku terpisah dengan teman teman akrab ku di sekolah. Sedih tapi tidak mengapa, ini adalah awal yang baru, hidup baru menuju pendewasaan.
"Lidya?" sapa nya ragu.
Aku menoleh ke sumber suara.
"Bimo? kamu di kampus sini juga?" tanya ku.
Ia mengangguk.
"Oh ,ambil jurusan apa?" tanya ku.
__ADS_1
"FKIP, matematika ajja, pengen jadi guru" ujar nya.
Kali ini aku yang mengangguk.
"Kamu kok di sini, ku pikir kamu sudah kuliah di universitas terbaik di negara ini atau kuliah ke negeri" tanya Bimo bingung.
"Itu rencana papa, tapi aku ingin tetap di sini, tidak ingin kemana mana, sama ajja kan?" jawab ku.
"Iya sih, kamu gak kuliah pun masa depan mu sudah cerah, kamu bisa membantu Perusahaan papa mu yang terkenal itu" ujar Bimo.
"Ah, itu, aku punya pilihan sendiri, lagian lebih baik jika kuliah kan, tidak ada jaminan perusahaan papa bisa Jaya terus atau sebaliknya, aku harus berpendidikan tinggi juga" tegas ku.
"Kamu benar, jadi ambil jurusan apa?" tanya nya.
"Hukum" jawab ku.
Bimo mengerutkan keningnya.
"Hukum?" seru nya tidak percaya.
"Iya hukum ,aku ingin jadi jaksa" Jawab ku mantap.
Bimo tersenyum.
"Kamu memang selalu penuh kejutan ya" seru nya.
Aku hanya tersenyum ringan.
Aku sudah melupakan masa lalu, kesalahan di antara kami. Dan saling memaafkan.
Sekarang kami berteman biasa.
Ponsel ku berdering, aku pamit ke Bimo dan melangkah menuju mobil ku.
"Ya halo, dengan siapa?" sapa ku.
"Ini Tante Sifa, kapan ada waktu, Tante ada di cafe rain, datang lah sekarang" seru Tante Sifa.
Aku pun tancap gas. Aku memang ingin sekali bertemu Tante Sifa. Banyak hal yang ingin aku tanyakan.
Sesampai nya di sana aku sedikit berlari.
Tante Sifa sudah menunggu ku di dalam.
"Duduk lah Lidya" tawar nya.
Aku segera duduk.
"Ada apa sebenarnya Tante, apa yang terjadi?" tanya ku.
"Pertama, kamu pasti heran melihat penampilan ku yang sangat berbeda di dunia luar ini, aku sengaja, aku menyamar jadi wanita tua yang menor agar tidak ada yang mengenali wajah asli ku" jawab nya.
"Kenapa Tante? apa alasan nya?" tanya ku penasaran.
"Alasan nya supaya tidak ada yang mengenali Tante si pelayan diskotik di dunia luar" jawab nya.
"Sebenarnya aku bekerja paruh waktu d toko baju, dan pekerjaan asli ku adalah pelayan di diskotik itu, tolong jangan beri tahu Maharani, Tante hanya pelayanan kok di sana, Tante gak jual diri, kadang Tante temani om om minum, cuma sebatas itu gak lebih, tapi bagaimana pun juga, orang yang melihat pasti berpikir aneh aneh ke Tante, Tante gak mau Maharani kecewa jika tau pekerjaan Tante nya seperti itu" tegas Tante Sifa.
"Baik lah, aku akan merahasiakan nya, tapi apa sebaik nya Tante cari kerjaan di tempat lain? kan Tante bilang sendiri kalo di sana gak Aman, aku akan membantu mencari kan pekerjaan yang lebih baik, maaf jika aku menyinggung perasaan tante?" nasehat ku.
Tante Sifa tersenyum.
__ADS_1