Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bimbel.


__ADS_3

Putra baru melihat ponsel nya ada banyak panggilan tak terjawab.


Baru saja putra ingin menghubungi balik, tapi nenek datang menghampiri putra.


Putra sangat sibuk sehingga tidak sempat untuk sekedar memegang ponselnya.


......🌺🌺🌺......


Setelah lelah menangis mama pun masuk ke dalam. Karena udara di luar lumayan dingin malam ini.


Aku pun masuk juga ke kamar ku.


Untuk mengatasi suntuk aku menyetel lagu di aplikasi ponsel ku.


Daily mix.


Aku mulai menikmati musik itu. Lagu lama Nidji, judul nya dosa kah aku.


Dosakah aku mencintaimu 🎡


Mendampingimu menginginkanmu


Aku menjadi diri sendiri


Tak peduli apa kata dunia


Kunanti hari ketika


Cinta datang cinta menang


Jadi sayangku bertahanlah


Bila terkadang mulutnya kejam


Peluklah aku jangan menyerah


Mereka bukan hakim kita


Bintang yang mempertemukan kita


Cinta yang mempertahankan kita


Oh... tuhan dengarkan doa


Dari cinta yang terlarang


Bintang yang mempertemukan kita


Cinta yang mempertahankan kita


Oh... tuhan dengarkan doa


Dari cinta yang terlarang


Rasa yang mempersatukan kita


Cinta yang mempertahankan kita


Oh... tuhan dengarkan doa


Dari cinta yang terlarang


Cinta dan rasa bersatu di doa


Berharap cinta kita yang 'kan menang


Berharap cinta kita yang 'kan menang 🎡


Sumber: Musixmatch


Aku berkhayal putra menyanyikan lagu ini.


Mata ku menatap ke langit-langit kamar ku.


Ku buyarkan lamunan ku.


Sempat sempat nya aku berkhayal di saat seperti ini.

__ADS_1


Aku bangkit untuk duduk di kursi meja belajar ku. Menyalakan lampu penerang. Dan mulai latihan soal ujian nasional.


Ponsel ku berdering, aku berlari untuk mengambil nya yang tergeletak di atas tempat tidur.


Aku pikir putra yang menelpon ternyata Dimas?


"Ada apa?" tanya ku.


"Cuma mau bilang selamat belajar, dan selamat malam Lidya Wijaya" jawab nya.


"Hmm, iya" jawab ku singkat.


Sedikit kecewa karena bukan putra yang menghubungi ku.


"Coba lihat ke luar deh, di balik jendela kamar mu" seru Dimas.


Aku menyipitkan mata melihat nya melambaikan tangan sembari menyalakan kembang api.


Kembang api berhasil di buat dan menimbulkan suara gemuruh di malam itu.


Aku tersenyum ringan melihat tingkah Dimas.


langit jadi begitu indah dengan sinar kembang api yang silih berganti warna.


Dimas tidak sendiri, ia bersama mungkin orang orang yang bekerja di rumah nya.


Aku pun menikmati suasana malam yang menjadi indah itu.


Ternyata telepon kami belum terputus.


"Bagaimana? indah kah, udah deh, jangan galau galau, Lo ga asik kalau lagi galau" seru Dimas.


"Idih, siapa yang galau?!" protes ku.


"Bagaimana keadaan punggung mu?, baik baik saja?" tanya nya


"Iya, aman deh, udah di obati juga kok" jawab ku.


"Syukur lah kalo begitu" seru nya.


Tidak terasa malam semakin larut. Kembang api pun sudah habis dan selesai.


......🌺🌺🌺......


Pagi itu aku berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasa nya. Bahkan setengah jam lebih cepat.


"Kusut amat tuh muka" ujar bela, teman sekelas ku. Baru kami berdua penghuni kelas pagi ini.


"Eh, bela, sejak kapan kamu di depan ku?" tanya ku.


"Sejak tadi lah, kamu sih sibuk melamun?" sergah nya.


"Hehe sory" jawab ku.


Aku keluar kelas mencari udara segar, berada di dalam kelas dengan setumpuk buku membuat ku sesak.


Dari atas lantai 3 kelas ku. Ku pejamkan mata ku dan ku hirup udara pagi itu.


Bimo dan Adit datang dan memperhatikan ku.


Bimo langsung masuk ke dalam kelas nya, seperti dia sudah mulai menyerah untuk mendekati ku.


Sementara Adit menyapa ku.


"Hay Lagi ngapain, lama tak bersua" ujar Adit.


Aku tersenyum.


"Cari angin, hehe, iya, banyak yang telah berubah" jawab ku.


Adit mendekati ku masih memakai ransel nya.


"Apa kabar kamu Li?" tanya nya.


"Em, Alhamdulillah baik kok, kamu?" tanya ku balik.


"Iya sama, ah tak terasa, semua ini hanya akan jadi kenangan buat kita" ujar Adit sembari melihat ke arah bawah melihat pemandangan lapangan sekolah.

__ADS_1


"Iya meski aku termasuk baru di sini, tapi kenangan nya membuat ku sedih jika masa putih abu abu ini berakhir" seru ku.


"Aku taruh tas dulu yah" seru Adit.


Aku hanya mengangguk.


Wulan dan kawan kawan club' voli ku datang menghampiri.


"Rindu banget sama kamu Li. Jarang banget deh tengok tengok club'' ujar Wulan.


"Maaf deh, kita kan sebentar lagi ujian, jadi aku sibuk belajar" sergah ku.


Wulan merangkul pundak ku.


"Iya tau, tapi gak bosan apa belajar Mulu, kalo suntuk ke club' ajja yah" ajak nya.


"Siap kapten" jawab ku.


Bel berbunyi tanda masukan, jam belajar akan di mulai.


Ku lihat seseorang berlari masuk ke dalam kelas. Dimas? dia pasti terlambat.


Aku tersenyum tipis melihat nya berlari.


Guru mulai memasukkan kelas, aku sudah duduk rapi di bangku ku. Dimas terlihat panik dan segera berlari ke bangku nya yang di belakang ku.


"Terlambat?" bisik ku.


"Hehe biasa lah" jawab nya.


Ku geleng kan kepala ku.


Sepulang sekolah Kamis ada kegiatan belajar tambahan, di sebut bimbel atau bimbingan belajar.


Kami juga sudah try out soal soal persiapan ujian nasional.


Sepulang dari bimbel ku lirik jam Sudah jam 5 sore, benar benar menyita waktu.


Apa kabar putra? dia bahkan tidak menghubungi ku sama sekali.


......🌺🌺🌺......


Tarakan. Maret 2017.


Clara pulang sekolah sore karena selepas bimbel di sekolah nya juga.


Putra yang sedang menyapu halaman rumah nenek nya langsung menyapa Clara.


"Sore banget Ra pulang nya?" sapa putra.


"Iya nih, biasa lah, kan ada bimbel di sekolah, maka nya lama pulang, sebagian pulang dulu sih baru kembali ke sekolah tapi aku milih untuk nunggu ajja di sana, males bolak balik" jawab Clara.


"Oh, iya juga sih, semangat" seru putra.


"Makasi semangat nya, kamu tuh yang semangat, udah lama meliburkan diri" ujar Clara.


"Aku rasa semua manusia di bumi ini akan meliburkan diri seperti yang aku lakukan sekarang jika orang tua nya meninggal dunia, dan gak ada satu pun manusia yang menginginkan ini terjadi" jawab putra.


"Iya iyaa, kamu kan pintar jadi aman deh" seru Clara sembari pamit untuk masuk ke rumah nya yang berada tepat di samping rumah nenek nya putra.


......🌺🌺🌺......


Aku berendam di bathtub kamar mandi yang wangi, merelaksasi kan pikiran ku.


Semoga putra baik baik saja. Aku hanya bisa menunggu kabarnya dengan pasrah.


Selepas mandi, ponsel ku berdering, masih memakai handuk aku berlari ke arah ponsel ku yang berada di atas nakas sambil tempat tidur.


Lagi lagi bukan putra.


"Halo , Assalamualaikum, dengan siapa?" tanya ku.


"Walaikumslaam, aku Dinda lid, Alhamdulillah aku sudah melahirkan, maaf baru kabari sekarang" jelas Dinda.


"Syukur Alhamdulillah kalo begitu, anak mu perempuan atau laki-laki? kapan melahirkan nya?" tanya ku.


"Perempuan lid, sudah sebulan yang lalu aku melahirkan, maaf baru sempat ngabarin. Semoga saja dia bisa jadi anak Sholehah" ujar nya lesu.

__ADS_1


"Kok pesimis, semua anak itu baik, perempuan atau laki-laki, tinggal cara kamu mendidiknya ajja" jawab ku.


"Iya justru karena anak ku perempuan aku takut dia akan seperti ku" seru nya.


__ADS_2