
Sesampai nya di rumah.
Sudah tidak ada lagi suara berisik mereka.
Malam itu baru kali ini ku lihat mama menangis di pinggir kolam.
Ku beranikan diri untuk mendekati nya.
Putra sedari tadi sudah naik. Aku diam diam turun lagi dan mendekati mama.
"Ada apa?" tanya ku.
Mama menoleh kaget kw arah ku.
Ia lalu segera mengusap air mata nya.
"Gak ada apa apa kok" jawab mama.
Aku duduk di samping nya.
Terlihat wajah cantik nya dengan mata yang sembab.
Cantik, kulit putih bersih, kurang apa lagi sih.
Aku sudah tau tabiat papa. Tidak heran sih sebenarnya jika Dia selingkuh?
Aku tersenyum tipis.
"Lalu kenapa menangis?" tanya ku.
"Karena aku mencintai papa mu" jawab nya.
Aku mengerutkan kan kening ku.
"Bagaimana tuh maksud nya?" tanya ku bingung.
"Kamu masih terlalu dini untuk tau perasaan orang dewasa, kelak kamu pasti tau juga" jawab mama sembari bangkit dari sisi kolam dan melangkah ke dalam rumah.
Lagi lagi aku di anggap masih remaja labil. Tapi benar sih aku masih labil. Jelas, karena kan aku masih siswi SMA.
......🌺🌺🌺......
Ku bawa setumpukan buku PR matematika ke arah ruang guru.
"Kenapa harus aku yang bawa sih" gerutu ku, karena aku bukan ketua kelas atau sekertaris di kelas ini.
Lagian kami kan sudah kelas 3, harus nya fokus latihan soal ujian nasional eh malah ngasi pr?
__ADS_1
Melihat ku kesulitan, Dimas berlari ke arah ku.
Tanpa aba aba dia langsung mengambil sebagian tumpukan buku itu lalu menemani ku membawa nya ke ruang guru.
"Lidya Wijaya, main yuk?" ajak nya.
"Apa!??" pekik ku tidak mengerti.
"Main itu loh" seru nya ke arah lapangan.
Basket? di saat seperti ini?
"Sinting, aku kan gak bisa main basket!" ujar ku.
"Wah, nah gitu dong, Lidya yang kasar seperti dulu" seru nya sambil tersenyum.
Aku malah memasang tampang jutek ke arah nya.
"Masa putih abu-abu kita akan segera berakhir, jadi nikmati lah selagi masih menjadi murid di sini" seru nya sembari menarik tangan ku ke lapangan.
Syukur cuaca bersahabat.
Dimas melempar bola basket ke arah ku.
"Ini bukan jam nya untuk main, meskipun guru nya gak hadir kita harus belajar Dimas, belajar!!" pekik ku sembari melempar kan bola ke arah nya.
Dimas sigap menangkap bola itu dan memasukkannya ke ring basket dengan sekali lempar an. Dan bola itu masuk.
"Sudah lah, aku tidak tertarik" seru ku, aku berjalan menjauh dari nya.
Tapi Dimas mengejar ku.
"Coba lah, sekali saja" ujar Dimas.
Aku menghela nafas berat. Tapi akhir nya mengambil bola itu.
Dimas menari kegirangan.
Lapangan basket saat itu sepi karena semua sibuk belajar di kelas.
"Bagaimana jika ada guru melihat kita?" protes ku.
"Bagus dong, kita ciptakan kenangan untuk mereka haha" jawab nya.
"Kenangan buruk melawan guru?" seru ku.
"Haha hey, kita gak melawan guru, kita hanya bermain basket di jam pelajaran yang kosong?" bantah nya.
__ADS_1
"Ah sama ajja" jawab ku.
Aku menatap ring dan mencoba memasukkan nya tapi gagal.
"Bukan begitu cara nya, berbeda dengan voli, sini ku ajari" seru Dimas.
Dimas lalu berdiri di belakang ku untuk mengajari ku bermain basket.
"Kenapa bukan Maharani saja? kenapa harus aku yang menemani segala kekonyolan mu itu" protes ku.
"Karena gak ada yang bisa membuat ku nyaman seperti mu, aku bisa jadi diri ku sendiri ketika bersama mu, aku tidak perlu segan dan jaim" jawab nya.
"Nyaman? hahaha" aku tertawa.
Kami lanjut bermain basket. Hingga seragam putih abu abu ku mulai basah oleh keringat.
Syukur jam pelajaran yang kosong ini adalah jam terakhir.
Jam pelajaran terakhir berakhir. Bel berbunyi. Maharani melihat kami bermain basket.
"Dimas, jadi gak pulang sekolah ini belajar?" tanya Maharani.
Dimas menoleh sesaat.
"Boleh gak bolos sehari Bu guru?" goda nya ke Maharani.
"Aku tidak tanggung jika ujian nanti kamu kesulitan, bukan saat nya bermain" protes Maharani.
"Haha santai saja Bu guru, baik lah, aku ambil tas ku di kelas dulu yah" seru Dimas.
Aku tersenyum ke arah Maharani tanpa berkata apa pun.
Lalu Kemabli ke kelas untuk mengambil ransel ku.
"Kamu mau ikut belajar bareng kami?" tawar Dimas.
"Ah ,gak, terima kasih" jawab ku.
"Ah, aku lupa, kamu kan sudah pintar, gak perlu belajar keras seperti ku" ujar nya.
"Bukan gitu juga, sepintar apa pun jika tidak berlatih lagi pasti gak berhasil, ujian nasional itu beda. Bisa jadi yang biasa saja nanti nilai nya tinggi, justru yang sering peringkat malah menurun nilai nya" seru ku.
"Iya juga sih" jawab Dimas.
Maharani sudah menunggu Dimas di parkiran.
Aku pun masuk ke dalam mobil ku.
__ADS_1
Ku lihat Dimas membonceng Maharani menuju entah kemana lagi tempat mereka belajar kali ini.
Gpp,aku bisa belajar sendiri, ada putra juga yang bisa ku tanyai jika ada yang tidak aku ketahui.