
Ku tutup telepon dari Dinda. Alhamdulillah dia sudah melahirkan dan baik baik saja.
Ku pakai baju tidur ku dengan masih menunggu kabar dari putra.
Malam aku berusaha melupakan putra untuk sementara, dan fokus belajar.
Suara pintu kamar ku di ketuk.
Terdengar gagang pintu di buka perlahan.
Papa masuk ke kamar ku.
Senyum nya mengembang melihat ku sedang belajar.
Ia mendekati ku sembari mengelus rambut ku.
"Syukur lah kamu giat belajar. Nanti kuliah jurusan ekonomi saja, karena kau adalah satu satu nya anak kandung papa, kamu harus membantu perusahaan papa, apa lagi jika nanti papa sudah tua" seru papa.
Papa sangat berubah sekarang, dulu ia bahkan tidak mau mengakui aku sebagai anak.
Sekarang bahkan menawarkan aku membantu perusahaan nya.
"Akan ku pertimbangan" jawab ku singkat.
"Haha lihat jawaban mu itu, kamu betul betul anak ku, mirip. Baik lah. Papa tidak memaksa tapi sebaiknya kamu persiapkan diri" jelas papa.
"Kenapa harus aku, papa kan punya anak lain, laki laki pula, putra?" protes ku.
"Haha, naif sekali kamu, dia bukan darah daging papa kan, bagaimana bisa papa mempercayai hal sebesar ini pada nya?" ujar papa.
Aku hanya diam.
"Oh ya satu lagi, sebaik nya kamu jangan pacaran, karena percuma, kelak papa akan menjodohkan mu dengan pria pilihan papa" tegas nya.
"Apa?!!!" pekik ku tidak percaya papa akan mengatur masa depan ku juga.
"Kenapa? kamu keberatan? apa sudah ada orang yang kamu sukai? sebaik nya lupakan perasaan mu itu, lagian itu pasti cinta monyet semata, apa lagi masih remaja seperti mu, perlahan akan memudar juga, papa pernah muda, papa tau yang terbaik untuk mu, jadi jangan coba coba pacaran!" tegas papa.
"Tidak! aku akan menuruti semua kemauan papa tapi tidak dengan masa depan percintaan ku, aku berhak bahagia dengan laki laki pilihan ku" tolak ku.
Papa malah tertawa.
"Hahahaha, cinta? apa kau bisa hidup hanya dengan cinta, kau pasti membutuhkan materi, terserah kamu mau menolak sekeras apa, papa cuma mengingat kan agar kamu tidak terlalu dalam mencintai seseorang, cintai saja nanti suami mu kelak. Papa hanya ingin yang terbaik untuk mu" jawab papa.
Aku tersenyum sinis.
"Terbaik untuk ku? atau untuk mu? aku yakin pilihan papa pasti rekan bisnis yang akan menopang perekonomian perusahaan papa, iya kan??!" pekik ku.
Papa juga tersenyum sinis.
"Nah itu pintar. Jadi lah anak papa yang penurut" ujar papa sembari berjalan keluar kamar dengan santai nya.
Aku menghambur barang barang yang ada di atas meja belajar ku. Bukan nya menyemangati ku belajar untuk ujian malah memberikan informasi yang menghancurkan mood ku.
Cinta monyet kata nya?
Jadi dia dan mama dulu cinta monyet gitu sampai aku terlahir di dunia ini?
__ADS_1
Gerutu ku.
Ku rebahkan diri di kasur.
......🌺🌺🌺......
Keesokan hari nya.
Sabtu ini tidak tidak ada bimbel.
Jam Pelajaran juga lebih cepat selesai karena memang hanya sedikit mata pelajaran jam hari ini, jam 12 kami sudah pulang.
Ponsel ku berdering.
"Ya halo" sapa ku.
"Sudah pulang dari sekolah? tolong ambilkan berkas papa di kamar ketinggalan, bawakan ke kantor" seru papa.
"Harus aku yang mengambilnya? kan ada mama, aku belum sampai di rumah, ini masih di sekolah" protes ku.
"Papa mau nya kamu yang ambil. Gak usah banyak protes, ambilkan saja sekarang!" bentak papa.
"Ya udah, tunggu, mungkin aku agak lama!" pekik ku.
Sesampai nya di rumah aku langsung masuk ke kamar papa, mencari berkas yang ia minta.
Mama yang baru selesai mandi terkejut melihat ku ada di dalam kamar nya.
"Sedang apa?" tanya nya.
"Ada berkas papa ketinggian, aku di suruh mengambil nya, maaf udah lancang masuk kamar ini, tadi aku ketuk tapi tidak ada jawaban, ternyata mama sedang mandi" jawab ku.
Aku Segera keluar kamar.
Dasar papa menyusahkan saja!
Pekik ku.
Bawa motor ajja ah, mau nge prank papa.
Ku pakai masker dan jaket kulit berwarna cokelat.
Ku kendarai motor sport yang ada.
Sekali sekali tampil beda.
Sesampai nya di lokasi aku lalu turun dari motor besar ku, membuka helm.
Ku pandangi gedung tinggi di hadapan ku.
Langkah ku semakin dekat masuk ke dalam kantor itu.
Karena bingung harus kemana aku pun menelepon papa.
Tapi tidak di angkat.
Seorang satpam Melihat gelagat aneh dari ku. Dengan penampilan ku yang seperti anak nakal.
__ADS_1
"Maaf, lagi apa di sini?" tanya satpam itu.
"Ruangan pak Rudi ada di mana yah?" tanya ku balik.
"Maaf, anda siapa yah? apa sudah ada janji, silahkan tunggu sebentar di sana, saya akan menghubungi beliau" jawab nya.
"Aku gak bisa lama, kasi tau ajja di mana ruangan nya sekarang, penting!" nada suara ku mulai meninggi.
Seorang wanita menabrak ku, hampir saja aku terjatuh.
Bukan nya merasa bersalah wanita dewasa itu malah memarahi ku.
"Heh, Lo gak ada tempat berdiri selain di tengah jalan begini!" bentak nya.
"Tapi kan ibu yang salah, gak liat jalanan" protes ku.
"Hah, ibu kata mu, aku masih muda, belum menikah, bisa bisa nya kamu panggil aku ibu!" balas nya.
"Jadi apa dong, Tante?" ujar ku.
"Udah udah, kok malah berantem di sini sih, anda silahkan tunggu di lobi" perintah satpam itu sembari ia pergi bertanya ke atasan nya ada yang mencari pak Rudi, bos mereka.
"Kamu siapa sih, karyawan baru?" tanya wanita itu.
"Aku....
belum sempat aku melanjutkan bicara seseorang datang menghampiri ku dan langsung membawa nya ke ruangan HRD.
"Kamu pasti Tiara kan, karyawan baru yang akan menggantikan Bu Neneng cuti melahirkan?" seru nya.
"Oalah, ternyata benar karyawan baru, haduh liat tuh penampilannya, apa pantas. Masker nya Nda mau di buka dari tadi, penyakit an kali" ujar keysha, aku melihat nama di tanda pengenal nya. Wanita yang tadi menabrak ku. Usia nya sekitar 28 tahunan.
"Haha, kembali' lah ke ruangan mu key, gak mungkin kita terima karyawan penyakitan kan, lagian dia sudah lulus review, udah wawancara kemarin.
Aku melihat tanda pengenal HRD ini, lebih tua dari mba Keysha .
Nama nya Nuraini, usia nya sekitar 30 Tahunan. Tapi mereka masih cantik dan glowing, tubuh mereka juga ramping.
"Tiara? duduk lah, maaf yah, terlambat mengabari, harus nya sejak tadi pagi, tapi hari ini perkenalan lokasi ajja, besok baru kamu bisa mulai bekerja" jelas nya pada ku.
"Maaf mba, saya bukan Tiara" tegas ku.
Mba Nuraini mengerutkan kening.
Seseorang mengetuk pintu dan Tiara yang asli masuk ke ruangan.
Aku mulai membuka masker dan memperkenalkan diri.
"Saya Lidya Wijaya, anak dari pak Rudi Wijaya. Saya kesini untuk bertemu dengan papa" jelas ku.
HRD itu pun terperangah.
Aku tidak jadi nge prank papa.
Situasi seperti ini justru nanti nya aku yang kena prank.
Papa menelpon dan aku segera naik ke atas menggunakan lift.
__ADS_1
Satpam itu kebingungan melihat ku sudah tidak ada di lobi.